Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Buktikan Gairah Bisnis Positif

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:01:32 WIB
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengemukakan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang triwulan II-2026 memberikan indikasi kuat bahwa denyut gairah perekonomian di dalam negeri tetap berada dalam kondisi yang baik.

Merujuk pada rilis data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan kedua 2026, dengan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) menyentuh angka Rp3.576,2 triliun, yang mengalami kenaikan dari posisi Rp3.396,6 triliun apabila dibandingkan dengan kurun waktu yang sama pada tahun lalu.

“Pertumbuhan di triwulan II ini sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi gairah ekonomi masih berjalan dengan baik,” kata Juda di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ia menimpali pula bahwa indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) telah memperlihatkan fase ekspansi, sementara pergerakan arus impor komoditas barang modal serta bahan baku turut menunjukkan performa yang menanjak.

Ragam indikator pendukung tersebut, menurut pandangan Juda, merefleksikan fakta bahwa aktivitas sektor produksi serta penanaman modal terus mengalami eskalasi pertumbuhan.

Pihak pemerintah pun optimis bahwa target pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026 yang dipatok pada kisaran angka 5,6 hingga 6,0 persen masih sangat realistis untuk diwujudkan.

Penyaluran berbagai stimulus ekonomi pada paruh kedua tahun ini, terkhusus yang menyasar sektor manufaktur serta industri otomotif, diharapkan mampu kian mendongkrak geliat aktivitas ekonomi masyarakat.

Pandangan yang penuh optimisme tersebut turut disokong oleh kondisi daya beli warga yang terjaga dengan baik. Wamenkeu Juda memaparkan bahwa fenomena deflasi yang terjadi pada Juli 2026 sama sekali bukan dipicu oleh lesunya tingkat permintaan pasar, melainkan lebih disebabkan oleh penurunan harga komoditas tertentu seperti bawang merah dan emas.

Wamenkeu juga menjelaskan kinerja perekonomian Indonesia juga ditopang oleh kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tetap sehat dan kredibel.

Ia membeberkan bahwa sejumlah indikator utama seperti peningkatan tren penerimaan negara, optimalisasi belanja negara, serta terjaganya tingkat defisit memberikan sinyal bahwa postur APBN berada dalam kondisi yang sehat serta penuh kehati-hatian (prudent).

Penerapan tata kelola fiskal yang disiplin terbukti ampuh dalam memperkuat kepercayaan dari para investor global terhadap pasar Indonesia, kata Juda.

Situasi tersebut tercermin dari terjaganya peringkat sovereign credit rating Indonesia serta tingginya tingkat antusiasme penanam modal terhadap instrumen pembiayaan yang diterbitkan oleh pemerintah.

“Artinya kami mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi terjaga, fiskal tetap sehat, dan ekonomi tetap bertumbuh di atas 5 persen. Inilah yang menjadi dasar kepercayaan investor terhadap Indonesia,” imbuhnya.

Menyongsong agenda penyampaian Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2027 mendatang, Wamenkeu Juda menegaskan bahwa pihak pemerintah akan tetap konsisten menjadikan instrumen APBN sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus penjaga utama kesinambungan fiskal jangka panjang.

Menurutnya, arah kebijakan fiskal tahun depan akan dirancang agar tetap bersifat ekspansif, namun dengan pengelolaan defisit yang semakin terkendali.

Terkini