Ekspor Manufaktur Naik 7,37% Topang Kinerja Nonmigas Nasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 03:56:31 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. (Foto: NET)

JAKARTA - Sektor industri pengolahan atau manufaktur tampil sebagai motor penggerak utama bagi kinerja ekspor nonmigas Indonesia selama semester pertama tahun 2026. Pertumbuhan ekspor manufaktur yang sangat solid ini berhasil mengarahkan akumulasi nilai ekspor nasional ke jalur yang positif.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan bahwa dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2026, total nilai ekspor nonmigas Indonesia mengalami kenaikan sebesar 4,90% secara kumulatif dengan pencapaian angka menyentuh US$134,58 miliar.

"Secara kumulatif, peningkatan nilai ekspor nonmigas terutama terjadi di sektor industri pengolahan yang meningkat 7,37%. Sektor ini menjadi pendorong utama kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari hingga Juni 2026 dengan andilnya 6,18%,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Lebih lanjut, Ateng mengungkapkan bahwa pencapaian gemilang ekspor industri pengolahan ini utamanya ditopang oleh produk olahan nikel, minyak kelapa sawit atau CPO, bahan kimia dasar organik hasil pertanian, bahan kimia dasar organik lainnya, serta komoditas aluminium.

Kinerja positif dari sektor manufaktur tersebut turut tercermin jelas pada catatan bulanan periode Juni 2026. Ekspor sektor industri pengolahan melonjak hingga 9,86% secara tahunan dengan nilai kontribusi yang mendominasi sebesar US$20,88 miliar dari total keseluruhan ekspor nonmigas bulan Juni yang berada di angka US$24,39 miliar.

Secara keseluruhan, nilai total ekspor Indonesia yang mencakup migas dan nonmigas pada Juni 2026 tercatat sebesar US$25,46 miliar atau mengalami pertumbuhan 8,84% secara tahunan. 

Lonjakan tersebut utamanya didukung oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 9,46%, meskipun di sisi lain ekspor migas harus mengalami koreksi 3,78% menjadi US$1,07 miliar.

"Kenaikan nilai ekspor nonmigas pada Juni 2026 secara tahunan terutama didorong oleh komoditas bahan bakar mineral (HS27) yang naik 49,67% YoY, serta nikel dan barang daripadanya (HS75) yang melesat 69,30% YoY," paparnya.

Ditinjau dari segi negara tujuan, China masih kokoh mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang terpenting bagi Indonesia. 

Sepanjang semester I/2026, nilai ekspor nonmigas menuju Negeri Tirai Bambu tersebut tercatat mencapai US$34,56 miliar, yang berarti meroket 18,10% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kenaikan ekspor nonmigas ke China utamanya didorong oleh komoditas nikel dan barang daripadanya (HS75), lemak dan minyak hewani/nabati (HS15), serta bahan bakar mineral (HS27)," jelas Ateng.

Berdasarkan data BPS, China, Amerika Serikat (AS), dan India menempati posisi sebagai tiga besar pasar utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan total porsi kumulatif mencapai 44,31% dari keseluruhan ekspor nonmigas selama semester I/2026.

Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat tercatat terealisasi sebesar US$15,82 miliar yang didominasi oleh produk mesin serta perlengkapan elektrik dengan pangsa mencapai 7,24%. 

Sementara itu, volume ekspor nonmigas tujuan India berhasil mencapai angka US$25 miliar dengan komoditas bahan bakar mineral menyumbang porsi terbesar hingga 32,87%.

Terkini