China Tetap Tujuan Utama Ekspor Nonmigas RI Semester I/2026

Senin, 03 Agustus 2026 | 03:45:02 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa China mempertahankan posisinya sebagai negara tujuan utama pengiriman nonmigas Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Kontribusi pangsa pasar ekspor ke negara tersebut mencapai 25,68% dari keseluruhan nilai ekspor nonmigas nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa kawasan Asean serta Amerika Serikat menyusul sebagai destinasi penting berikutnya bagi produk nonmigas Indonesia setelah China.

"Pada Januari hingga Juni 2026, China masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia," ujar Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik, Senin (3/8/2026).

Merujuk pada catatan BPS, porsi pengiriman nonmigas menuju China berada di angka 25,68%, yang kemudian disusul oleh Asean sebesar 19,87%, Amerika Serikat senilai 11,76%, Uni Eropa pada level 7,06%, serta India sebesar 6,87%. 

Sementara itu, total pengiriman ke berbagai negara dan kawasan lain menyumbang proporsi 28,76%.

Dari sisi nominal, nilai pengiriman nonmigas Indonesia ke Tiongkok pada semester pertama 2026 menyentuh angka US$34,56 miliar. 

Ragam komoditas yang mendominasi pengiriman ke destinasi tersebut meliputi besi serta baja dengan nilai US$8,80 miliar, nikel beserta barang olahannya sejumlah US$5,66 miliar, serta produk bahan bakar mineral senilai US$4,90 miliar.

Di sisi lain, total nilai pengiriman nonmigas menuju Amerika Serikat tercatat sebesar US$15,82 miliar. 

Tiga komoditas unggulan yang dikirimkan ke pasar AS mencakup mesin serta perlengkapan elektrik beserta komponennya senilai US$2,50 miliar, produk alas kaki sebesar US$1,42 miliar, serta kategori pakaian dan aksesoris rajutan senilai US$1,37 miliar.

Sementara itu, volume pengiriman nonmigas ke India mencapai US$9,25 miliar. Komoditas utama yang mendominasi aktivitas ekspor ke negara tersebut terdiri atas bahan bakar mineral senilai US$3,04 miliar, komoditas lemak serta minyak hewan maupun nabati sebesar US$1,60 miliar, dan mesin beserta perlengkapan elektrik senilai US$959,38 juta.

Kumpulan data tersebut memperlihatkan bahwa fondasi pasar pengiriman nonmigas Indonesia masih bertumpu kuat pada sejumlah negara mitra dagang utama di kawasan Asia serta Amerika. 

China tetap mendominasi sebagai pasar terbesar untuk komoditas berbasis mineral dan logam, sedangkan Amerika Serikat berkedudukan sebagai tujuan utama produk manufaktur seperti tekstil, alas kaki, serta perangkat elektronik.

Di samping itu, India terus memegang peranan sebagai pasar krusial bagi komoditas energi serta minyak nabati asal Indonesia, khususnya produk turunan kelapa sawit dan bahan bakar mineral. 

Berbagai kondisi tersebut merefleksikan masih tingginya tingkat permintaan dari negara-negara mitra utama terhadap komoditas andalan ekspor nasional sepanjang paruh awal tahun 2026.

Terkini