Ribuan Peserta TEP 2026 Diterjunkan Perkuat Kawasan Transmigrasi

Kamis, 30 Juli 2026 | 22:39:01 WIB
Wamentrans: TEP 2026 Perkuat Tata Kelola Komoditas di 53 Kawasan [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyampaikan bahwa sebanyak 1.476 orang peserta yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) tahun 2026 akan dikerahkan untuk memperkuat sistem tata kelola berbagai komoditas unggulan di 53 titik kawasan transmigrasi yang didasarkan pada temuan riset dari tahun sebelumnya.

Ia mengungkapkan bahwa para peserta tersebut bakal mengemban tugas teknis sekaligus praktis guna menindaklanjuti rekomendasi strategis dari pelaksanaan TEP 2025, yang mencakup upaya pengembangan inovasi serta penerapan sistem pengelolaan potensi ekonomi berbasis penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Misi TEP 2026 adalah menindaklanjuti hasil dari riset TEP 2025,” kata Viva dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis.

Viva menerangkan bahwa wilayah kawasan transmigrasi sebenarnya menyimpan ragam komoditas bernilai ekonomis tinggi, di antaranya meliputi buah durian, kopi, kakao, kelapa sawit, serta aneka produk hasil pertanian dan perkebunan lainnya.

Namun demikian, berbagai potensi besar tersebut masih memerlukan penguatan tata kelola secara komprehensif dan menyeluruh, mulai dari tahapan teknik penanaman, proses pemeliharaan, peningkatan volume produksi, penanganan pascapanen, sampai pada kepastian jaminan pasar bagi para pembeli atau penyerap hasil panen.

“Penting untuk menumbuhkan inovasi dan kreasi di sana,” ujarnya.

Menurut pandangan Viva, terbangunnya rantai tata kelola yang terintegrasi dengan baik diyakini mampu mendongkrak tingkat produktivitas, memberikan nilai tambah komoditas, serta menaikkan taraf pendapatan masyarakat di kawasan transmigrasi.

Kementerian Transmigrasi mencatat bahwa sejumlah komoditas asal kawasan transmigrasi telah sukses menembus pasar ekspor internasional, contohnya komoditas biji kakao dari daerah Polewali Mandar yang dikirim ke Yokohama, Jepang, serta buah durian asal Parigi Moutong yang diekspor ke China.

Sebelumnya, jajaran Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi memproyeksikan bahwa pengembangan kawasan secara terpadu berpotensi melahirkan nilai ekspor baru berkisar antara Rp85 triliun hingga Rp120 triliun per tahun, sekaligus mengerek produktivitas ekonomi kawasan hingga mencapai angka Rp320 triliun sampai Rp410 triliun setiap tahunnya.

Sebagai ilustrasi di lapangan, pada Kawasan Transmigrasi Lembantongoa yang terletak di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tingkat produksi kopi tercatat berada di kisaran angka 200 kilogram (kg) per bulan dengan tingkat harga jual sekitar Rp65.000 per kg, sementara tatkala musim panen raya tiba, kapasitas produksinya bisa melonjak hingga mencapai 300 kg.

Angka permintaan pasar terhadap produk olahan hilir di kawasan tersebut mencakup kebutuhan kopi sangrai jenis robusta sebanyak 1 ton serta jenis arabika seberat 200 kg, dengan estimasi potensi lonjakan permintaan yang diproyeksikan meningkat hingga menyentuh angka 2 ton setiap bulannya dalam kurun waktu satu sampai dua tahun ke depan.

Di samping berfokus pada aspek pengembangan potensi ekonomi masyarakat, pemerintah turut menggalakkan program revitalisasi pembangunan kawasan lewat penguatan sinergi lintas sektoral antara Kementerian Transmigrasi bersama kementerian dan lembaga negara terkait.

“Caranya dengan melakukan kolaborasi atau sinergi dengan kementerian terkait sesuai dengan kebutuhan yang ada di kawasan,” ucap Viva.

Wamentrans memberikan contoh konkret bahwa perbaikan fasilitas sarana pendidikan sekolah dapat dikoordinasikan langsung dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sementara pemenuhan kebutuhan alat-alat pertanian, pasokan pupuk, hingga pengadaan benih unggul bisa disinergikan bersama Kementerian Pertanian.

Adapun pengerjaan perbaikan infrastruktur jalan raya beserta sarana penunjang lainnya dapat dikoordinasikan secara terpadu dengan Kementerian Pekerjaan Umum agar penanganan berbagai kendala di kawasan transmigrasi dapat berlangsung lebih cepat, efektif, dan efisien.

Pelaksanaan program TEP 2026 ini melibatkan partisipasi aktif dari 10 perguruan tinggi terkemuka di tanah air, yakni Universitas Indonesia, IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, serta Universitas Hasanuddin.

Sebanyak 1.476 orang peserta yang terdiri dari jajaran guru besar serta para lulusan jenjang program doktor, magister, dan sarjana tersebut nantinya akan ditempatkan secara langsung pada 53 kawasan transmigrasi yang tersebar di berbagai wilayah pelosok nusantara.

Beberapa titik lokasi penugasan strategis tersebut antara lain meliputi kawasan Salor di Provinsi Papua Selatan, daerah Selaut di Provinsi Aceh, kawasan Lunang Silaut serta Muaro Takung-Kamang Baru di wilayah Sumatera Barat, daerah Batu Betumpang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hingga kawasan Barelang di Kota Batam, Kepulauan Riau.

Viva menaruh harapan besar agar kehadiran program TEP 2026 ini mampu melahirkan suatu sistem baru yang inovatif dalam hal pengembangan serta pemberdayaan kawasan, sekaligus mendongkrak aktivitas di sektor ekonomi, sosial, budaya, serta meningkatkan mutu kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.

“Pertumbuhan yang ada harus memberikan nilai tambah kepada pendapatan dan kemakmuran masyarakat. Tak hanya itu, di kawasan transmigrasi juga harus tercapai peningkatan mutu sumber daya manusia serta penurunan kemiskinan dan stunting,” tuturnya.

Terkini

Update Harga Pangan 30 Juli:

Kamis, 30 Juli 2026 | 00:50:32 WIB

PLN Siap Alirkan Listrik di Perbatasan Jelang HUT RI

Kamis, 30 Juli 2026 | 00:47:31 WIB