RI Siap Jadi Mitra Inovasi Kesehatan, Bukan Hanya Pasar

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:19:01 WIB
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Rizka Andalusia. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali menekankan bahwa Indonesia terbuka lebar bagi para investor untuk menjalin kemitraan strategis di sektor inovasi kesehatan. Pengembangan ini mencakup ranah kesehatan digital sampai dengan peningkatan kualitas talenta di bidang medis.

“Indonesia siap berkolaborasi. Tidak hanya sebagai pasar, tetapi sebagai mitra dalam inovasi. Kami siap menyambut baik kolaborasi yang lebih besar dalam kesehatan digital, kecerdasan buatan, kedokteran presisi, genomik, interoperabilitas data kesehatan, teknologi medis, riset dan pengembangan, serta pengembangan talenta kesehatan,” tutur Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Rizka Andalusia, pada acara Novo Holdings Indonesia Partnering Day 2026, Rabu (29/7).

Rizka menuturkan bahwa sinergi ini sangat krusial karena transformasi kesehatan memerlukan keterlibatan investor visioner, perusahaan inovatif, serta mitra yang andal, bukan sekadar dari pihak pemerintah semata. 

Ia menambahkan bahwa potensi pertumbuhan sektor kesehatan di tanah air masih amat luas. Hal ini tercermin dari angka pengeluaran kesehatan per kapita yang baru berkisar di angka US$ 140, lebih rendah jika disandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. 

Di sisi lain, total belanja kesehatan nasional telah menyentuh Rp 614 triliun pada 2023, atau ekuivalen dengan 2,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Saat ini, Kemenkes juga tengah menyusun ekosistem kesehatan digital berskala nasional guna mengintegrasikan data maupun layanan medis secara menyeluruh, mulai dari fasilitas primer, klinik, laboratorium, hingga rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat. 

Pemanfaatan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI), robotik medis, serta teknologi genomik juga terus dieksplorasi secara aktif.

“Teknologi-teknologi ini tidak ditujukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan untuk memperkuat peran mereka agar dapat memberikan layanan yang lebih cepat, akurat, dan efektif,” ucapnya.

Lebih rinci, Rizka memaparkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan mampu mengoptimalkan sistem pencitraan medis, mempercepat deteksi penyakit, mempertajam penentuan keputusan klinis, serta memperbaiki tata kelola sistem kesehatan. 

Bersamaan dengan itu, teknologi robotik diproyeksikan bisa menjembatani kesenjangan ketersediaan dokter spesialis dan memfasilitasi tindakan medis yang minim invasif, jauh lebih presisi, serta berbasis data.

Selanjutnya, ia menegaskan komitmen Kemenkes dalam mengukuhkan tata kelola kesehatan digital yang menjunjung prinsip transparansi, akuntabilitas, inklusivitas, interoperabilitas, keamanan data, serta perlindungan etis. 

Langkah reformasi tersebut diyakini mampu menghadirkan peluang investasi yang menjanjikan. Indonesia juga sudah menanamkan modal cukup besar guna memajukan inovasi lokal serta kapasitas manufaktur demi membangun ketahanan kesehatan jangka panjang. 

Salah satu buktinya adalah perkembangan produsen vaksin dalam negeri pascapandemi yang mampu memproduksi lebih banyak antigen lokal untuk kebutuhan program imunisasi nasional.

“Kemajuan ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam membangun ekosistem life science berbasis inovasi, sekaligus membuka peluang kemitraan baru dalam pengembangan vaksin, produk biologis canggih, dan manufaktur biologis,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Managing Partner & Head of Asia Novo Holdings, Amit Kakar, menyampaikan bahwa besarnya jumlah penduduk Indonesia menuntut adanya inovasi layanan kesehatan yang tangguh, mudah diakses, sekaligus terjangkau. 

Ia sangat mengapresiasi langkah reformasi kesehatan di tanah air, termasuk tingginya tingkat adaptasi masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi. Hal tersebut dibuktikan dengan menjamurnya berbagai platform digital yang aktif digunakan oleh publik hingga saat ini.

“Ini menunjukkan orang-orang di negara ini telah mengadopsi teknologi digital dengan mudah dan terus menggunakannya,” terang Amit.

Amit turut menyoroti bahwa Indonesia memegang peran sebagai salah satu pasar layanan kesehatan paling krusial di kawasan Asia Tenggara. 

Kombinasi antara besarnya skala pasar, lonjakan kebutuhan akan fasilitas kesehatan bermutu, serta cepatnya adopsi terhadap solusi kesehatan digital, menjadikan negara ini sebagai peluang besar bagi para investor jangka panjang dan pelaku industri medis.

Sebagai induk usaha sekaligus pengelola aset Novo Nordisk Foundation, Novo Holdings memfokuskan investasinya pada penciptaan nilai jangka panjang serta pemberian dampak positif bagi kelangsungan hidup manusia maupun lingkungan. 

Di Indonesia sendiri, perusahaan tersebut tercatat telah menanamkan modalnya di platform Halodoc sejak tahun 2021.

Terkini