PSEL Legok Nangka: Solusi Sampah Perkotaan dan Sumber Energi Bersih

Rabu, 29 Juli 2026 | 20:11:31 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Yuliot Tanjung. (Foto: NET)

JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Yuliot Tanjung menyebutkan bahwa proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung berfungsi mempercepat penyelesaian masalah sampah perkotaan sekaligus menciptakan energi bersih.

Menurut Yuliot, dimulainya konstruksi PSEL Legok Nangka menjadi momen krusial dalam pengelolaan sampah perkotaan demi mengatasi persoalan penumpukan sampah harian serta mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan bersih.

"Dan untuk menghadirkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat serta mewujudkan transformasi energi sebagai energi baru dan terbarukan dari pengolahan sampah," kata Wamen ESDM dalam Groundbreaking Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka Dan Penandatanganan Kerjasama Pengembangan Waste to Energy Jawa Barat di Kabupaten Bandung, Rabu (29/7/2026).

Ia menggarisbawahi bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan untuk menuntaskan masalah sampah perkotaan secara menyeluruh sebelum tahun 2029 lewat pengelolaan dari hulu ke hilir dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber energi nasional.

Yuliot memaparkan bahwa Indonesia masih menghadapi kendala besar lantaran total timbulan sampah pada 2025 menyentuh angka 56,6 juta ton, di mana sebagian besarnya masih menumpuk dan belum dikelola secara optimal.

Sekitar 63,3 persen sampah telah dikelola lewat tempat pembuangan akhir (TPA), bank sampah, serta sarana pengolahan lainnya, namun 35,7 persen atau berkisar 20,2 juta ton masih belum tertangani dengan baik.

Ia menuturkan bahwa sampah yang tidak terkelola tersebut sering kali dibakar di ruang terbuka, dibuang ke aliran sungai, atau menjadi timbunan liar, sementara banyak TPA yang sudah melebihi kapasitas dengan metode penumpukan terbuka.

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa pihak pemerintah memperkuat program konversi sampah menjadi energi ini melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 serta menyediakan kemudahan proses perizinan dan pengembangan PSEL dalam RUPTL nasional.

Proyek PSEL Legok Nangka sendiri didesain memiliki kapasitas sebesar 40,79 megawatt yang mampu mengolah sekitar 2.000 ton sampah saban hari dengan nilai investasi menyentuh 400 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp7,2 triliun.

Di masa pembangunan yang memakan waktu lebih dari 41 bulan, proyek ini diproyeksikan dapat menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja, memangkas emisi sebanyak 311.000 ton CO2 ekuivalen, dan ditargetkan mulai berfungsi pada akhir tahun 2029.

Yuliot mengharapkan PSEL Legok Nangka bisa menjadi percontohan bagi pengembangan fasilitas serupa di berbagai daerah melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan demi terciptanya lingkungan bersih dan ketahanan energi nasional.

"Semoga dengan adanya groundbreaking ini kami memulai itu pelaksanaan kegiatan, dan untuk pelaksanaan kegiatan ini secara terukur dan dapat kami lakukan fasilitasi secara bersama. Dan juga kalau ada kendala-kendala kami solusikan sehingga proyek ini dapat berjalan dengan baik," ucap Wamen ESDM.

Yuliot pun memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat beserta seluruh jajarannya atas bantuan dan komitmen penuh dalam mempercepat realisasi PSEL Legok Nangka sebagai solusi penanganan sampah sekaligus pemasok energi berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PT Jabar Environmental Solutions (JES) yang berinisiatif mendorong percepatan pembangunan fasilitas konversi sampah menjadi listrik ini dengan mengadopsi teknologi ramah lingkungan, sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi wilayah lain di Indonesia.

"Tidak lupa juga kami memberikan penghargaan kepada pemerintah Jepang yang telah mendorong perusahaan Jepang untuk melakukan investasi di bidang waste to energy," ucap Yuliot.

Menurut Yuliot, sinergi antara Indonesia dan Jepang ini memperkokoh ketahanan energi sekaligus mempererat hubungan kerja sama internasional, sehingga mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia maupun warga dunia secara berkelanjutan.

"Groundbreaking hari ini bukan sekedar menandai dimulainya pembangunan sebuah infrastruktur, tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih bersih, lebih hijau, dan berkelanjutan," katanya.

"PSEL Legok Nangka diharapkan dapat menjadi model pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi yang dapat direplikasi di berbagai daerah," tambah Yuliot.

Terkini