JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan memberikan penegasan bahwa institusi perguruan tinggi tidak boleh sekadar memproduksi tumpukan jurnal ilmiah, melainkan wajib menghadirkan jalan keluar yang konkret untuk konsumsi publik.
Saat menghadiri pembukaan Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Senin, Fauzan memaparkan bahwa para mahasiswa harus diterjunkan langsung ke tengah publik.
Hal ini bertujuan agar mereka dapat menyerap pelajaran dari realitas sosial sekaligus ditantang menyelesaikan beragam kendala di masyarakat.
"Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta media. Dengan demikian karya-karya akademik kampus tidak hanya berakhir sebagai tumpukan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat," ucapnya.
Melalui program ini, ada sebanyak 16.000 mahasiswa Unesa yang dikirim ke lapangan selama empat bulan. Mereka akan mengamati dinamika sosial sekalian memecahkan problem yang dirasakan warga.
Agenda ini juga menggandeng 1.152 mitra domestik maupun internasional yang terdiri dari sektor pemerintahan, industri, dunia usaha, komunitas, hingga institusi lainnya.
Fauzan menilai bahwa proses pembelajaran langsung di lapangan menjadi elemen krusial demi mencetak lulusan yang tidak cuma mahir di bidang akademis, tetapi juga andal dalam bekerja sama, menyesuaikan diri, mengatasi masalah, serta memupuk rasa kepedulian.
Rektor Unesa Prof Nurhasan menambahkan, mobilitas akademik ini berfungsi sebagai laboratorium kehidupan. Fasilitas ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menguji teori perkuliahan lewat praktik riil di sektor industri, bisnis, dan lingkungan sosial.
"Program ini sejalan dengan misi pembangunan nasional. Di era global saat ini mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diuji dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan problem solving, empati, dan kerja sama tim," tutur Cak Hasan, sapaan akrabnya.
Sembilan skema kegiatan telah disiapkan bagi mahasiswa, meliputi magang, Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP), penelitian, pertukaran mahasiswa, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, kewirausahaan, studi independen, asistensi mengajar, hingga proyek aksi kemanusiaan.
Aldito Christian Putra, seorang mahasiswa S1 Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Unesa yang ikut serta, menjalani magang sebagai programer di PT Aplikasi Bisnis Digital Indonesia.
Ia memegang tanggung jawab mengembangkan sistem web, membenahi gangguan teknis, serta berpartisipasi dalam pengujian sistem.
“Saya jadi bisa melatih soft skill seperti komunikasi, kerja sama tim, problem solving, dan profesionalisme,” ucapnya.
Dalam momentum yang sama, Unesa turut meluncurkan maskot anyar mereka yang diberi nama Si Prio. Nama tersebut merupakan kependekan dari Progresif, Responsif, Inovatif, dan Optimis, yang diperkenalkan sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis ke-62 Unesa.