Hilirisasi Nikel Jadi Kunci Daya Saing Industri EV Indonesia

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:54:31 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani. (Foto: NET)

JAKARTA – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa program hilirisasi nikel oleh PT Vale Indonesia berperan besar dalam memperkokoh posisi tanah air di rantai pasok global. 

Langkah ini juga dinilai efektif meningkatkan nilai tambah komoditas mineral domestik. Menurut Rosan, hilirisasi yang dilakukan Vale menjadi percontohan ideal terkait pemanfaatan sumber daya alam yang mampu mendongkrak nilai ekonomi sekaligus menyukseskan program pembangunan nasional.

"Proyek hilirisasi Vale menempatkan standar baru dalam kolaborasi internasional yang selaras dengan kepentingan nasional, yakni membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah tinggi yang mendukung agenda Net Zero Emissions," kata Rosan saat memberikan pernyataan di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Rosan memaparkan bahwa pendirian kawasan industri berbasis hilirisasi masuk dalam rencana strategis pemerintah demi mewujudkan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri. Agenda ini diproyeksikan mampu membuka banyak lapangan kerja baru, memandirikan industri nasional, dan mempercepat transisi energi.

Di samping itu, hilirisasi nikel juga diharapkan membawa efek domino ekonomi yang lebih masif bagi wilayah penghasil, terutama di Sulawesi Tengah. 

Hadirnya kawasan industri tersebut tidak sekadar memacu sektor manufaktur, melainkan juga membuka peluang baru bagi pelaku UMKM serta menghidupkan perekonomian warga lokal.

Ia menambahkan, kokohnya rantai pasok industri kendaraan listrik domestik sangat bergantung pada akselerasi hilirisasi nikel lewat penyediaan fasilitas pengolahan berteknologi modern. 

Langkah ini dipercaya mampu mendongkrak nilai mineral, menggaet investasi baru, menciptakan lapangan kerja, dan menstimulasi ekonomi daerah.

Salah satu proyek vital yang menandai percepatan ini adalah pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi milik PT Vale Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah, yang berada di bawah Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. 

Proyek senilai 2 miliar dollar AS yang masuk dalam Indonesia Growth Project (IGP) Morowali tersebut kini memasuki fase penting seiring tibanya komponen utama autoclave. Fasilitas dengan tiga jalur produksi ini ditargetkan rampung pada tahap first mechanical completion di akhir 2026.

Mengenai hal itu, pengamat tambang dan energi Ferdy Hasiman berpendapat bahwa penyediaan fasilitas HPAL telah menjadi kebutuhan mendesak di tengah melonjaknya permintaan global akan bahan baku baterai kendaraan listrik.

"Sebagian besar belanja modal perusahaan tambang saat ini memang diarahkan untuk pembangunan HPAL karena fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik. Sejauh ini, MIND ID melalui Vale termasuk yang paling agresif mengembangkan proyek tersebut," tutur Ferdy.

Ferdy juga menyebutkan bahwa pemerintah bersama Danantara Indonesia terus memacu agenda hilirisasi dengan menyalurkan dukungan investasi pada berbagai proyek strategis. 

Konsistensi investasi ini dianggap krusial demi menjaga posisi tawar Indonesia dalam kompetisi global industri baterai dan kendaraan listrik.

"Beberapa perusahaan nikel swasta memang tidak terlalu agresif dalam dua tahun terakhir, kemungkinan dipengaruhi dinamika regulasi. Karena itu, keberlanjutan proyek-proyek hilirisasi menjadi penting untuk menjaga momentum investasi," jelas Ferdy.

Ia menyimpulkan, selain memperkuat sektor pengolahan mineral, proyek hilirisasi ini memberikan kontribusi ekonomi yang lebih luas lewat penyerapan tenaga kerja, penguatan bisnis di daerah, serta tumbuhnya rantai pasok lokal yang melibatkan para pelaku usaha dalam negeri.

Terkini