Perkuat Wisata Kesehatan, Kemenpar Jalin Kolaborasi Lintas Sektor

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:00:31 WIB
Kemenpar Susun Strategi Kembangkan Wisata Kesehatan di Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Pariwisata mengutarakan bahwa pihaknya tengah merumuskan sekaligus memperkuat strategi bersama berbagai sektor guna mengembangkan sektor wisata kesehatan (health tourism) di Tanah Air.

"Kini saatnya memperkuat kolaborasi antara industri pariwisata dan industri kesehatan agar mampu menciptakan ekosistem yang saling mendukung," kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani melalui keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, hari Jumat.

Pembahasan terkait strategi tersebut telah dilangsungkan bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), serta sejumlah perwakilan rumah sakit dalam sebuah forum pertemuan yang bertempat di Jakarta, hari Rabu (22/7).

Baca juga: Ekonom: Wisata kesehatan harus dikembangkan sesuai kebutuhan pasien

Menurut Rizki, tren kebutuhan publik terhadap pelayanan kesehatan terus mengalami perkembangan. Kebutuhan atas layanan kesehatan saat ini tidak sekadar berfokus pada pengobatan atau kuratif saja, melainkan turut mencakup layanan promotif, preventif, serta kebugaran tubuh.

Seiring dengan melonjaknya minat masyarakat terhadap wisata kebugaran, khususnya pada ranah pasar domestik, Indonesia memegang peluang yang sangat besar untuk mengembangkan wisata kesehatan sebagai salah satu komoditas unggulan sektor pariwisata. Sebagai langkah awal, Kementerian Pariwisata bersama dengan Kementerian Kesehatan, PERSI, serta ARSSI telah merampungkan pemetaan terhadap sejumlah rumah sakit yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata kesehatan.

Tercatat sebanyak 18 rumah sakit, yang mencakup 15 rumah sakit di kawasan Jabodetabek serta 3 rumah sakit di Bali, secara resmi ditetapkan sebagai proyek percontohan. 

Beberapa rumah sakit yang masuk ke dalam daftar proyek percontohan itu di antaranya meliputi RS Pondok Indah, Hermina Kemayoran, BIMC Nusa Dua, Mayapada Lebak Bulus, Siloam Semanggi, RS Pondok Indah Bintaro, dan Siloam Karawaci.

Kedelapan belas fasilitas kesehatan tersebut nantinya juga bakal dimuat ke dalam katalog wisata kesehatan yang sedang digarap oleh Kementerian Pariwisata dan dipatok rampung pada bulan Oktober 2026 sebagai sarana media promosi layanan wisata kesehatan Indonesia.

Masing-masing rumah sakit tersebut akan melewati tahapan pemetaan secara komprehensif, mulai dari perumusan profil layanan unggulan hingga penghitungan estimasi besaran paket wisata kesehatan.

Selanjutnya, Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Kesehatan akan menerjunkan tim untuk melakukan peninjauan lapangan guna merumuskan parameter center of excellence (pusat keunggulan) yang menjadi daya saing dari tiap-tiap rumah sakit.

Baca juga: Teknologi operasi robotik perkuat Bali jadi destinasi wisata kesehatan

Seluruh proses pengembangan wisata kesehatan ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek fasilitas pelayanan kesehatan semata, melainkan pula membangun sebuah ekosistem yang terpadu dengan melibatkan pelbagai pelaku industri pariwisata.

Kerja sama tersebut bakal dijalin bersama sektor perhotelan, biro perjalanan wisata, agen perjalanan, penyedia sarana transportasi yang ramah bagi pasien  termasuk layanan transportasi yang dilengkapi fasilitas kursi roda  serta menggandeng perusahaan asuransi baik di dalam maupun luar negeri.

"Tahapan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem wisata kesehatan yang terintegrasi melalui kolaborasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, pelaku usaha pariwisata, dan berbagai pemangku kepentingan terkait," ujar Rizki.

Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes Yanti Herman menambahkan bahwa rumah sakit yang telah ditetapkan sebagai proyek percontohan akan diwajibkan untuk menjalankan penilaian mandiri demi mengukur sejauh mana tingkat kesiapan mereka dalam merintis layanan wisata medis, sekaligus memperkokoh komitmen terhadap peningkatan mutu pelayanan yang berfokus penuh pada pengalaman pasien (patient experience).

Rumah sakit yang terbukti memenuhi kriteria serta menunjukkan komitmen tinggi dalam pengembangan wisata kesehatan nantinya akan memperoleh beragam bentuk dukungan, mencakup promosi fasilitas layanan kesehatan, program pelatihan dan pendampingan menuju standar pelayanan bertaraf internasional, serta berbagai kemudahan insentif baik yang bersifat fiskal maupun non-fiskal.

Terkini