JAKARTA – Pemegang gelar juara dunia MotoGP 2025, Marc Marquez, berpendapat bahwa aturan baru untuk musim MotoGP 2027 semestinya memotong pemanfaatan komponen aerodinamika secara lebih signifikan.
Penunggang motor Ducati tersebut menilai, pemotongan sektor aero yang lebih masif bakal memicu persaingan di lintasan menjadi kian ketat.
Seperti yang telah diketahui, kompetisi MotoGP bakal mengawali lembaran baru pada musim 2027.
Di samping melakukan pergeseran kapasitas mesin dari 1.000 cc ke 850 cc, hukum kompetisi yang baru pun menghapuskan pemakaian komponen ride height device serta memperkecil ukuran perangkat aerodinamika pada kendaraan.
Kendati demikian, bagi Marquez, penyesuaian tersebut dinilai masih kurang optimal seusai dirinya berkesempatan memacu motor purwarupa bermesin 850 cc milik Ducati pada agenda uji coba resmi di Sirkuit Brno, Republik Ceko, sesudah pergelaran MotoGP Ceko beberapa waktu yang lalu.
Berdasarkan hasil data pengujian itu, Marquez berpandangan bahwa reduksi komponen aerodinamika semestinya dapat ditekan lebih dalam lagi.
"Saya sudah mencobanya di Brno," kata Marquez dilansir dari Crash, Rabu (22/7/2026).
"Motor itu memang tidak secepat motor sekarang, tetapi saya rasa penonton tidak akan terlalu menyadarinya," ujarnya.
"Menurut saya perubahan terbesar justru ada pada ban. Saya berharap aerodinamikanya dikurangi lebih banyak. Saya ingin perangkat aerodinamika dikurangi lebih jauh," katanya.
Sepanjang beberapa musim belakangan, sektor aerodinamika mengalami lompatan pengembangan yang amat masif di kelas MotoGP.
Bagian sayap depan, winglet, hingga beraneka ragam komponen bodi dikembangkan demi menciptakan gaya tekan ke bawah (downforce) yang lebih optimal.
Sektor aerobody memicu stabilitas motor yang lebih baik ketika memacu kecepatan, melibas tikungan, maupun saat melakukan deselerasi. Namun di sisi lain, lonjakan downforce tersebut memicu timbulnya turbulensi udara pada area belakang motor.
Dampak dirty air inilah yang menyulitkan pebalap di posisi belakang untuk menempel rivalnya dalam jarak dekat. Situasi tersebut ditengarai menjadi salah satu pemicu mengapa momentum saling menyalip kian sukar diwujudkan.
Marquez meyakini apabila aspek aerodinamika dipangkas secara lebih drastis, pertarungan di ajang MotoGP akan menyajikan persaingan kelompok yang jauh lebih intim bagaikan atmosfer yang kerap tersaji di kelas Moto3.
"Tanpa aerodinamika, kami bisa mendapat lebih banyak balapan dalam rombongan, seperti di Moto3," katanya.
Walau begitu, rider yang kini menginjak usia 33 tahun tersebut membenarkan bahwa minimalisasi komponen aerodinamika juga membawa dampak tersendiri pada daya pacu motor.
"Di MotoGP lebih sulit karena Anda kehilangan gaya tekan dan performa motor menjadi lebih buruk," ujarnya. "Kami harus beradaptasi. Setiap era punya kelebihan dan kekurangannya," kata Marquez.
Bukan cuma sektor perubahan teknis kendaraan, terhitung sejak musim 2027, pabrikan ban Pirelli bakal mengambil alih peran sebagai penyuplai ban tunggal untuk kelas MotoGP, menggantikan posisi Michelin yang telah bermitra sejak tahun 2016.
Salah satu nilai plus utama dari penunjukan Pirelli ialah seluruh tingkatan kompetisi Grand Prix, mulai dari kelas Moto3, Moto2, hingga kasta tertinggi MotoGP, bakal memakai satu merek ban yang seragam. Langkah ini dinilai dapat mempermudah proses adaptasi pebalap yang naik kelas ke level utama.
Di samping itu, produk ban lansiran Pirelli diproyeksikan mampu mereduksi kendala terkait tekanan ban, yang dalam kurun beberapa musim terakhir kerap menjadi isu krusial di era Michelin.
Bila performa ban baru tersebut berjalan sesuai ekspektasi, intensitas aksi saling mendahului berpeluang besar melonjak lantaran para pebalap memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi saat melakukan pengereman keras dan memasuki tikungan.
Kendati demikian, seluruh tim pabrikan dituntut untuk mengawali proses riset dari titik nol kembali. Hal itu dikarenakan karakteristik ban yang baru dipastikan bakal mengubah konfigurasi total pada bagian sasis, perangkat suspensi, sistem elektronik, hingga ke sektor aerodinamika.
Dampaknya, musim balap 2027 diprediksi akan menjadi periode penyesuaian bagi semua tim sebelum mereka mampu menyelami karakteristik ban baru itu seutuhnya.