Harga Minyak Brent Tembus US$90 Imbas Konflik AS-Iran

Senin, 20 Juli 2026 | 03:16:01 WIB
Ilustrasi - Nilai jual minyak global. (Foto: NET)

JAKARTA — Nilai jual minyak global mengalami lonjakan pada transaksi Senin (20/7/2026). Hal ini terjadi seiring meningkatnya kecemasan pelaku pasar atas ancaman hambatan distribusi energi di Selat Hormuz yang dipicu oleh memanasnya perseteruan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan laporan komoditas CNBC International, nilai minyak jenis Brent untuk kesepakatan distribusi September melonjak kisaran 2,54% hingga melewati angka US$90 per barel. 

Pada waktu yang sama, nilai minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kesepakatan Agustus merangkak naik sekitar 2,29% menuju angka US$84,38 per barel.

Lonjakan nilai komoditas ini didorong oleh memuncaknya ketegangan geopolitik setelah angkatan bersenjata AS memvalidasi adanya satu lagi anggota tentara mereka yang gugur dalam aktivitas militer terkini. 

Bersamaan dengan itu, tim pemeriksa mendeteksi jasad yang belum dikenali di dekat area gempuran Iran di Yordania, yang sebelumnya telah merenggut nyawa dua anggota militer AS dan mengakibatkan satu orang lainnya hilang.

Di pihak lain, angkatan bersenjata AS meneruskan gempuran ke sejumlah titik sasaran di area Iran selama sembilan malam beruntung. 

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/Centcom) menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan demi melemahkan kekuatan pertahanan Iran yang dipakai untuk mengganggu kapal dagang swasta serta pelaut sipil yang melewati Selat Hormuz.

"Serangan akan terus dilakukan untuk mengurangi kemampuan militer Iran yang digunakan dalam serangan terhadap kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan Centcom melalui platform X.

Lonjakan ketegangan terkini tersebut kembali memicu kecemasan atas keamanan di Selat Hormuz, sebidang jalur laut krusial yang menjadi salah satu rute distribusi minyak paling vital di bumi. 

Melalui operasi militer ini, Centcom menyasar perangkat pemantau tepi laut, benteng pertahanan udara Iran, armada laut, hingga lokasi penyimpanan peluru kendali dan pesawat tanpa awak.

Angkatan bersenjata AS juga menggempur satuan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) yang dituding memiliki keterkaitan dengan peristiwa penyerangan tentara AS di Yordania pada 17 Juli kemarin.

Pengamat dari Quantum Strategy, David Roche, berpandangan bahwa kondisi pasar minyak bumi di tingkat global saat ini semakin bergejolak ketat lantaran volume ekspor minyak dari area Teluk terus mengalami pengurangan. 

Melalui catatan resminya pada Senin, Roche memprediksi susutnya cadangan minyak bakalan semakin kentara mulai September mendatang apabila situasi saat ini terus berlanjut, termasuk efeknya bagi sektor energi Amerika Serikat.

"Pada laju penurunan seperti ini, persediaan minyak akan menjadi sangat ketat pada September dan bahkan Amerika Serikat akan mulai mengalami tekanan. Kondisi itu akan meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump. Kami tetap merekomendasikan posisi beli pada Brent dengan target harga US$95 hingga US$105 per barel," tulis Roche.

Terkini