Kementan Genjot Ekspor Unggas guna Jaga Keseimbangan Pasar Nasional

Sabtu, 18 Juli 2026 | 17:01:31 WIB
Wamentan: RI Buka Peluang Ekspor Unggas ke China dan Timur Tengah [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyatakan bahwa Indonesia terus membuka peluang ekspor produk unggas ke China dan Timur Tengah demi memperluas pasar, menyerap kelebihan produksi, serta meningkatkan kesejahteraan peternak nasional.

"Kementerian Pertanian tengah membuka peluang ekspor produk unggas ke berbagai negara, termasuk Tiongkok dan kawasan Timur Tengah, seiring meningkatnya kebutuhan pangan di pasar internasional," kata Sudaryono sebagaimana pernyataan terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Ia menuturkan bahwa Kementerian Pertanian terus memperluas akses pasar ekspor sebagai solusi jangka panjang agar keseimbangan pasokan dan permintaan terjaga, sekaligus memperkuat daya saing industri perunggasan Indonesia secara berkelanjutan.

Menurut dia, pembukaan pasar ekspor tidak hanya ditentukan oleh aspek bisnis, tetapi juga memerlukan dukungan hubungan diplomatik antarnegara.

"Ekspor bukan hanya soal harga dan kualitas produk. Ada proses diplomasi antarnegara yang harus dibangun," katanya.

Oleh karena itu, tambah Sudaryono, pemerintah terus mempererat hubungan dengan berbagai negara agar semakin banyak pasar ekspor yang terbuka bagi produk pertanian Indonesia.

Kementerian Pertanian menyatakan kondisi perunggasan nasional saat ini mengalami kelebihan pasokan dibandingkan permintaan. Menurut dia, ketersediaan ayam dan telur menunjukkan produksi nasional dalam kondisi baik, sehingga tantangan utama pemerintah adalah mengelola distribusi dan menjaga keseimbangan pasar.

"Ini sebenarnya good problem. Barangnya tersedia. Tinggal bagaimana kami mengelola supply, demand, distribusi, serta memastikan pasokan tersebar merata ke seluruh wilayah," bebernya.

Ia mengungkapkan kelebihan pasokan terutama terjadi di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, pemerintah terus berupaya memperluas distribusi ke daerah-daerah yang membutuhkan agar keseimbangan pasar segera tercapai.

Selain itu, Kementan juga terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar program makan bergizi gratis (MBG) dapat mengoptimalkan penyerapan komoditas pangan dalam negeri, termasuk ayam dan telur, saat harga di tingkat peternak menurun.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman telah melepas ekspor 545 ton produk unggas dan turunannya senilai Rp18,2 miliar pada Maret 2026 ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste.

Di sisi lain, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyebut rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak mulai tumbuh 4,11 persen dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data per 14 Juli 2026, rata-rata harga ayam broiler nasional berada di angka Rp21.736 per kg berat hidup, naik dari Rp20.878 per kg sepekan sebelumnya. Namun, di Sumatera Selatan harga dilaporkan masih berada di angka Rp18.125 per kg, sementara di Riau telah mencapai Rp25.600 per kg.

Untuk telur ayam ras, per 14 Juli rata-rata harga nasional berada di Rp22.644 per kg, meningkat 0,66 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang sebesar Rp22.495 per kg. Harga terendah tercatat di Banten dengan Rp20.300 per kg dan tertinggi di Sulawesi Utara dengan Rp28.200 per kg, dibandingkan dengan HAP di tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kg.

Terkini