Ekspansi Bisnis 2026, PRDL Incar Pertumbuhan Dua Digit

Kamis, 09 Juli 2026 | 04:19:31 WIB
Direktur Utama Prodia Diagnostic Line Cristina Sandjaja. (Foto: NET)

JAKARTA - Perusahaan manufaktur dan pengolahan alat kesehatan diagnostik medis, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) membidik kenaikan pendapatan serta laba bersih hingga dua digit pada tahun 2026. 

Sebagai catatan, PRDL berhasil mengantongi pendapatan senilai Rp 74,4 miliar pada tahun 2025, atau melonjak 27% secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih perusahaan ikut terkerek 70,7% YoY menjadi Rp 16,9 miliar.

Direktur Utama Prodia Diagnostic Line Cristina Sandjaja mengungkapkan bahwa target tersebut didorong oleh tren pertumbuhan bisnis yang konsisten. 

Pada tahun lalu, realisasi kinerja PRDL mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 20%. 

"Kami menargetkan pertumbuhan double digit, tidak hanya revenue tetapi juga profit. Tahun lalu kami tumbuh di atas 20%. Harapan kami bisa mencapai angka yang kurang lebih sama," ujar Cristina di Main Hall BEI pada Rabu (9/7/2026).

Ia memaparkan salah satu langkah strategis utama PRDL adalah merilis sejumlah produk diagnostik baru. Proses peluncuran produk ini diwacanakan mulai berjalan pada paruh kedua tahun 2026 guna memperbesar portofolio sekaligus memenuhi permintaan pasar. 

"Kami akan meluncurkan beberapa produk baru yang saat ini memang belum ada di pasar kesehatan Indonesia. Harapan kami dapat semakin melayani sistem kesehatan di Indonesia," katanya.

Di samping itu, PRDL berkomitmen menjaga basis pelanggan setianya. Cristina menjelaskan bahwa kualitas pelayanan menjadi aspek krusial dalam mempertahankan loyalitas konsumen sekaligus menstimulasi perkembangan bisnis. 

PRDL juga tengah mengagendakan perluasan jaringan distribusi. Hingga kini, perseroan disokong oleh 70 distributor yang menjangkau 38 provinsi serta 370 kabupaten dan kota di penjuru tanah air.

Cristina mengemukakan masih ada sekitar 200 kabupaten dan kota yang belum terjangkau oleh jalur distribusi perusahaan. Oleh karena itu, ekspansi jalur distribusi menjadi prioritas utama demi menggenjot penjualan dalam beberapa tahun ke depan. 

"Ada beberapa daerah yang memang belum terlayani. Kami akan mulai memperluas distribusi ke wilayah-wilayah tersebut," ujarnya.

Saat ini, PRDL mengelola lebih dari 1.083 SKU produk yang dimanfaatkan oleh lebih dari 7.600 pelanggan. Jaringan tersebut menyuplai sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, serta ratusan dinas kesehatan. 

Mayoritas pelanggan PRDL, yakni di atas 60%, berasal dari instansi pemerintahan. Cristina menilai penambahan anggaran kesehatan beserta program skrining nasional tetap membuka peluang ekspansi bagi industri diagnostik ke depan.

Suntikan dana segar dari hasil IPO juga bakal menyokong rencana ekspansi tersebut. Porsi sebesar 62% dari dana tersebut dialokasikan untuk melunasi pinjaman produktif, sekitar 20% dialokasikan sebagai belanja modal, dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja. 

"Sebanyak 62% dana IPO digunakan untuk membayar pinjaman produktif, sekitar 20% untuk belanja modal, sedangkan sisanya digunakan mendukung kebutuhan operasional perusahaan," kata Cristina.

Alokasi belanja modal nantinya difokuskan untuk pengadaan mesin penunjang aktivitas produksi. Sedangkan untuk modal kerja bakal dipakai membiayai pembelian bahan baku, memfasilitasi riset produk baru, hingga mendanai operasional harian PRDL. 

Walaupun sebagian bahan baku diperoleh melalui impor, Cristina memastikan bahwa depresiasi mata uang rupiah tidak akan mengganggu jalannya operasional. PRDL telah menyiapkan stok pengaman (buffer) untuk bahan baku, produk antara, hingga produk jadi sebagai langkah antisipasi.

"Kami sudah memiliki buffer terhadap fluktuasi nilai tukar sehingga kenaikan biaya bahan baku tidak langsung memengaruhi biaya produksi maupun layanan kepada pelanggan," ujarnya. 

Prospek bisnis di sektor industri diagnostik dinilai masih sangat potensial. Terlebih, pemerintah telah menetapkan anggaran kesehatan sebesar Rp244 triliun pada tahun 2026 dengan target pemeriksaan skrining kesehatan nasional yang menyasar sekitar 140 juta jiwa.

Terkini