Waspada Gejala Gangguan Kandung Kemih Sebelum Terlambat

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:29:31 WIB
Ilustrasi - Gejala Gangguan Kandung Kemih. (Foto: NET)

JAKARTA — Masalah pada kandung kemih tidak selalu diawali dengan keluhan yang parah. Pada banyak situasi, gangguan ini justru bermula dari gejala-gejala ringan yang sering kali tidak dihiraukan. 

Dokter Spesialis Urologi Nur Rasyid mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat masih minim pemahaman mengenai indikasi gangguan kandung kemih. Padahal, perubahan pada kebiasaan buang air kecil (BAK) dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan pada organ tersebut.

Salah satu tanda yang patut diwaspadai adalah meningkatnya frekuensi berkemih di malam hari atau dikenal sebagai nokturia. Gejala ini ditandai dengan seringnya terbangun dari tidur hanya untuk buang air kecil, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah mengalami hal tersebut. 

Jika kondisi ini berlangsung secara berulang, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter guna menemukan penyebab pastinya. 

"Sayangnya, tanda-tanda itu sering diabaikan. Seringnya adalah pasien baru datang ke rumah sakit ketika kondisinya sudah berat, misalnya sudah tidak bisa BAK sama sekali," katanya.

Bukan hanya perubahan frekuensi, gangguan pada kandung kemih juga bisa dicermati dari adanya perubahan ketika proses buang air kecil berlangsung. 

Sejumlah keluhan yang harus diperhatikan di antaranya adalah aliran urine yang tersendat, urine yang keluar secara putus-putus, atau adanya sensasi kandung kemih belum sepenuhnya kosong meski baru saja selesai BAK.

Rasa nyeri ketika buang air kecil juga tidak boleh dianggap remeh. Rasa sakit yang muncul baik di awal, selama, maupun sesudah proses berkemih bisa menjadi salah satu petunjuk adanya gangguan pada saluran atau kandung kemih yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut. 

Menurut dokter tersebut, segala bentuk perubahan sekecil apa pun pada pola buang air kecil tidak boleh disepelekan. Pasalnya, jika pemeriksaan mendeteksi adanya penyakit sejak awal, maka proses pengobatan pun akan jauh lebih mudah untuk dijalankan.

Terkait dengan penyakit kandung kemih, terdapat beberapa kondisi medis yang bisa mengganggu fungsi normal organ ini. Salah satunya yaitu gangguan compliance, sebuah kondisi di mana kandung kemih kesulitan untuk mengembang secara maksimal. 

Dampaknya, pasien akan merasa kandung kemihnya penuh dan muncul desakan untuk BAK walaupun jumlah air seni yang tertampung baru sedikit, misalnya baru berkisar 100 mililiter.

Selain itu, permasalahan lain yang juga kerap dijumpai adalah overactive bladder atau kondisi kandung kemih yang terlalu aktif. Pada kasus ini, daya tampung kandung kemih sebenarnya masih normal, tetapi otot kandung kemih berkontraksi jauh lebih cepat sebelum air seni terkumpul sepenuhnya. 

Hal ini mengakibatkan munculnya dorongan kuat yang mendadak untuk berkemih, sehingga pasien harus cepat-cepat ke toilet dan bahkan pada beberapa situasi bisa memicu kebocoran urine lantaran tidak sanggup menahannya lagi.

Di lain sisi, ada pula masalah medis ketika otot kandung kemih justru terlalu lemah. Walaupun kandung kemih telah penuh dan timbul keinginan untuk buang air kecil, daya kontraksinya tidak cukup kuat untuk mengeluarkan semua urine di dalamnya. 

Kondisi ini berakibat pada melemahnya pancaran urine, sementara hasil pemeriksaan lewat USG umumnya akan memperlihatkan masih adanya sisa air seni yang tertinggal di dalam kandung kemih.

Terkini