Perkuat Hubungan Orang Tua dan Anak Lewat Aturan Asuh 5:1

Selasa, 07 Juli 2026 | 02:38:01 WIB
Kenali Aturan Parenting 5:1 demi Hubungan Hangat dengan Anak [FOTO: NET].

JAKARTA  - Terdapat ragam metode yang bisa ditempuh oleh para orang tua guna merajut jalinan relasi yang penuh kehangatan bersama buah hati. Salah satu formulanya yakni lewat penerapan pola aturan parenting 5:1, sebuah metode pendekatan dalam dunia pengasuhan yang digagas oleh seorang psikolog bernama John Gottman.

Menyitir ulasan artikel yang dipublikasikan oleh Parents, metode aturan ini mengarahkan para orang tua agar lebih intensif menyajikan bentuk interaksi yang positif ketimbang melontarkan pembenahan atau koreksi atas tindakan anak. 

Lantas, seperti apa wujud pengaplikasiannya di dalam dinamika kehidupan sehari-hari? Serta apa poin penting yang wajib dipahami oleh orang tua mengenai konsep aturan 5:1 ini?

Seorang psikolog klinis, dr. Carla C. Allan, PhD, menjabarkan bahwasanya formula aturan 5:1 ini mulanya bersumber dari kompilasi riset John Gottman yang mengulas perihal ikatan pernikahan. 

Di dalam temuan risetnya, sebuah jalinan hubungan yang mampu bertahan lama pada umumnya menyimpan tabungan lima bentuk interaksi positif untuk mengimbangi setiap satu bentuk interaksi negatif. Konsep mendasar yang serupa rupanya juga relevan untuk diimplementasikan ke dalam ranah hubungan antara orang tua dan anak.

"Ketika orangtua menerapkan aturan 5:1 secara konsisten, mereka memberi teladan dalam mengelola emosi, mengurangi stres dalam keluarga, serta membantu membangun kepercayaan dan ketangguhan pada anak,” tutur dr. Carla kepada Parents.

Seorang psikolog berlisensi, dr. Nina Kaiser, PhD, memberikan perumpamaan bahwa ikatan relasi antara orang tua dan anak memiliki kemiripan dengan mekanisme rekening bank.

"Kami perlu memandang hubungan dengan anak layaknya sebuah rekening bank. Kami harus terus melakukan 'setoran' berupa koneksi yang kuat agar memiliki cukup 'saldo' ketika sesekali perlu melakukan 'penarikan', misalnya dalam bentuk koreksi," jelas dr. Nina, dikutip dari Parents.

Bagaimana cara menerapkan aturan 5:1 di rumah?

Mengoperasikan panduan aturan 5:1 ini sejatinya bukan berarti pihak orang tua diwajibkan untuk mengalkulasi secara harafiah setiap bait sanjungan maupun teguran yang keluar. Di dalam koridor aturan ini, poin yang paling mendasar adalah melatih diri untuk senantiasa menaruh perhatian pada performa perilaku positif yang ditunjukkan oleh anak.

Dr. Nina mengungkapkan bahwa cukup banyak kalangan orang tua yang tanpa disadari cenderung lebih refleks mendeteksi kekeliruan ketimbang mengapresiasi hal-hal yang sejatinya sudah dikerjakan dengan baik oleh anak.

"Sering kali kami lebih mudah melihat dan mengomentari hal-hal yang salah atau perlu diperbaiki. Sebaliknya, jauh lebih sulit menyadari hal-hal yang sudah berjalan baik atau perilaku positif yang dilakukan anak," ujarnya.

Sebagai contoh konkret, momen ketika anak sanggup bermain secara damai bersama saudara kandungnya, merapikan kembali wadah mainan tanpa perlu dititahkan, atau berikhtiar menyelesaikan tugas dari sekolah dengan penuh keseriusan. 

Momen-momen berharga seperti ini sudah selayaknya memperoleh bentuk apresiasi agar sang anak menangkap pesan perihal perilaku seperti apa yang sejatinya diharapkan oleh orang tua.

Dr. Carla mengimbuhkan bahwasanya karakter manusia pada dasarnya memang dibekali dengan negativity bias, yakni sebuah kecenderungan kinerja otak yang relatif lebih kilat dalam menangkap sinyal masalah ketimbang mendeteksi poin-poin positif. 

Oleh karena itu, kaum orang tua dituntut untuk mengasah tingkat kesadaran agar ruang interaksi positif tidak sampai tergilas oleh repetisi kebiasaan menegur atau mengoreksi.

Tatkala porsi terbesar dari ruang interaksi antara orang tua dan anak dikemas dalam atmosfer yang positif, maka anak akan bertumbuh dengan perasaan yang lebih aman, dihargai, serta didukung penuh.

"Hubungan yang kuat dan penuh kasih juga mengurangi kebutuhan anak untuk mencari perhatian melalui perilaku negatif. Ketika perhatian diberikan secara konsisten dan tanpa syarat, kemungkinan perilaku mereka berkembang menjadi upaya mencari perhatian akan jauh lebih kecil,” kata dr. Carla.

Aturan 5:1 berlaku untuk semua usia

Seorang psikoterapis, Olivia Bergeron, LCSW menguraikan bahwasanya landasan prinsip 5:1 ini sangat bisa dipraktikkan semenjak anak masih menginjak usia balita hingga beranjak remaja. Hanya saja, format dalam mengekspresikan sanjungan ataupun apresiasi tersebut wajib diselaraskan dengan fase tingkat perkembangan usia mereka.

Kemudian, dr. Carla memberikan penekanan bahwasanya formulasi angka 5:1 ini bukanlah sebuah regulasi baku yang mesti dijalankan secara kaku. Rasio angka tersebut sejatinya lebih diposisikan sebagai sebuah alarm pengingat agar rajutan hubungan orang tua dan anak lebih dominan diwarnai oleh aura kehangatan ketimbang hujan kritik.

"Anak usia dini mungkin merespons dengan baik terhadap pujian yang antusias dan terbuka," ungkap dr. Carla. "Sementara remaja biasanya lebih menyukai pengakuan yang tulus dan tidak berlebihan terhadap usaha atau kemampuan mereka. Prinsipnya tetap sama, tetapi cara menyampaikannya perlu berkembang sesuai tahap perkembangan dan kebutuhan mereka akan kemandirian."

Terkini