Semester I/2026: Kapitalisasi Pasar BEI Menguap Rp6.117 Triliun

Senin, 06 Juli 2026 | 00:55:32 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: NET)

JAKARTA — Performansi pasar saham dalam negeri dihantam tekanan bertubi-tubi selama paruh pertama tahun 2026. Tekanan tersebut datang mulai dari peringatan penyedia indeks global MSCI, melambungnya harga minyak, hingga kecemasan para pemodal terhadap situasi ekonomi domestik.

Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikumpulkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam sebesar 35,49% ke posisi 5.643,19 pada Selasa (30/6/2026) dari titik awal tahun (2/1/2026) yang berada di level 8.748,13. Kondisi ini membuat kapitalisasi pasar di BEI ikut lenyap hingga Rp6.117 triliun. 

Nilai market cap BEI tercatat sebesar Rp9.897 triliun pada pengujung semester I/2026 dari posisi awal tahun yang sempat menyentuh Rp16.014 triliun. 

Pada kurun waktu yang sama, pemodal asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp73,61 triliun secara year-to-date (ytd), yang memperlihatkan derasnya aliran modal keluar dari pasar saham lokal.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan berpendapat bahwa kemerosotan dalam IHSG ini disebabkan oleh perpaduan empat faktor yang mendongkrak risk premium Indonesia di mata para investor dunia. 

Berdasarkan penjelasannya, poin pertama adalah melonjaknya risiko fiskal imbas kenaikan harga minyak global yang tersulut oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. 

Status Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer) membuatnya dinilai rentan terhadap lonjakan harga komoditas tersebut.

Poin kedua adalah berkurangnya kepastian dari kebijakan pemerintah, termasuk revisi aturan royalti pertambangan yang terjadi berulang kali serta bergulirnya wacana sistem ekspor satu pintu. 

Poin ketiga bersumber dari prospek negatif utang pemerintah yang dirilis oleh lembaga pemeringkat internasional Moody's dan Fitch Ratings, sehingga memperburuk penilaian investor terhadap aset domestik. 

Sementara itu, poin keempat dipicu oleh langkah MSCI yang mendepak enam saham berkapitalisasi besar asal Indonesia dari indeks acuannya.

"Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia yang mencapai Rp73 triliun sepanjang tahun ini mencerminkan proses pengurangan risiko (de-risking) oleh investor asing," ujar Erindra.

Terkini