Ditopang Sawit, Nilai Ekspor Riau Tembus US$8,60 Miliar

Jumat, 03 Juli 2026 | 21:05:31 WIB
Ekspor Riau Januari-Mei 2026 Naik 5,58%, Sawit Jadi Penopang [FOTO: NET].

JAKARTA - Aktivitas niaga internasional Provinsi Riau tetap menampakkan tren yang progresif sepanjang kurun Januari-Mei 2026. Angka ekspor terdata menyentuh US$8,60 miliar atau merangkak naik sebesar 5,58 persen bila disandingkan dengan periode serupa pada tahun lampau yang bernilai US$8,14 miar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengutarakan kemajuan tersebut mendasar pada kokohnya ekspor nonmigas, di lain pihak ekspor migas masih berkutat dengan tekanan.

"Peningkatan ekspor Januari-Mei 2026 dibanding periode tahun lalu disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas, sedangkan ekspor migas turun disebabkan oleh menurunnya ekspor industri pengolahan hasil minyak dan minyak mentah," kata Asep dalam keterangan resmi BPS Riau di Pekanbaru, Rabu (1/7/2026).

Asep memaparkan ekspansi itu utamanya didorong oleh penjualan sektor nonmigas yang melonjak 9,37 persen menyentuh angka US$8,26 miliar dari catatan terdahulu yang senilai US$7,55 miliar.

 Kebalikannya, sektor ekspor migas mendapati kemerosotan tajam sebesar 42,83 persen menjadi US$337,97 juta dari angka US$591,11 juta pada rentang Januari-Mei 2025. 

Penurunan pada ekspor migas dipicu oleh lesunya penjualan hasil industri pengolahan minyak sebesar 31,47 persen menuju US$282,79 juta. Di samping itu, pengapalan minyak mentah pun menyusut sampai 69,08 persen hingga tersisa US$55,18 juta.

Bila dicermati per bulan, nilai perdagangan ekspor Riau pada Mei 2026 bertengger di angka US$1,56 miliar atau melandai 4,48 persen jika dikomparasikan dengan Mei 2025. Penyusutan itu dipicu oleh anjloknya ekspor migas sebesar 39,28 persen menjadi US$58,32 juta, sementara sektor nonmigas turut terkoreksi 2,31 persen ke level US$1,50 miliar.

Menurut penjelasan Asep, bagan ekspor Riau masih sangat bertumpu pada sektor industri pengolahan yang berbasis komoditas alam. Oleh sebab itu, dinamika harga komoditas di tingkat global maupun tingkat permintaan dari negara pembeli masih menjadi aspek utama yang mendikte rapor ekspor daerah.

"Kemudian yang sangat memengaruhi adalah pembiayaan untuk ekspor bisa dikatakan menurunkan ekspor dari CPO, karena permintaan dari luar negeri juga menurun, juga berkaitan dengan geopolitik yang memuncak," ujarnya.

Melihat dari aspek komoditas, sektor lemak dan minyak nabati masih bertindak sebagai penggerak utama pertumbuhan ekspor Riau. Sepanjang Januari-Mei 2026, nilai pengapalan produk tersebut naik US$559,66 juta atau 13,54 persen dari perolehan masa yang sama di tahun sebelumnya. 

Selain sektor sawit, grafik kenaikan juga disokong oleh ekspor bahan kimia organik yang melesat US$193,54 juta atau 74,68 persen. Ekspor pelbagai komoditas kimia terkerek US$57,66 juta atau 5,94 persen, diikuti rupa-rupa makanan olahan yang naik US$19,53 juta atau 20,20 persen, sisa serta ampas industri makanan naik US$18,59 juta atau 25,04 persen, dan produk kertas serta karton yang bertumbuh US$7,45 juta atau 0,84 persen.

Di kutub seberang, sejumlah produk mendapati penyusutan nilai ekspor, di antaranya bubur kayu (pulp) yang melandai US$109,38 juta atau 13,67 persen, kelompok buah-buahan menyusut US$23,84 juta atau 48,05 persen, serat stapel buatan berkurang US$7,72 juta atau 6,41 persen, serta bahan-bahan nabati yang terkoreksi US$1,89 juta atau 1,93 persen. 

Sepuluh rumpun produk utama tersebut memasok sekitar 99,35 persen dari keseluruhan total penjualan nonmigas Riau sepanjang Januari-Mei 2026, dengan pertumbuhan gabungan menyentuh angka 9,53 persen secara tahunan.

Ditinjau dari segi peta pasar, Tiongkok konsisten menjadi negara mitra dagang terbesar bagi Riau lewat raihan nilai ekspor menyentuh US$1,55 miliar atau menyumbang andil 18,72 persen bagi total ekspor nonmigas. Urutan berikutnya diisi oleh India senilai US$649,01 juta atau 8,40 persen serta Malaysia pada angka US$626,08 juta atau 7,58 persen. 

Akumulasi nilai pengapalan nonmigas menuju 13 negara tujuan utama bertengger di angka US$6,13 miliar atau melonjak US$461,82 juta atau 8,14 persen dari periode yang sama di tahun kemarin. Kenaikan ini ditopang dominan oleh bertambahnya kuantitas ekspor ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Di sisi lain, pengapalan menuju Bangladesh, Belanda, Malaysia, dan Filipina kedapatan melandai dibanding kurun Januari-Mei 2025. Di lain pihak ekspor menuju lingkar ASEAN menguat 2,90 persen, sebaliknya pengapalan ke Uni Eropa merosot 5,25 persen.

Berdasarkan bidang usaha, ekspor nonmigas dari lini industri pengolahan tetap menjadi tiang penopang utama lewat grafik kenaikan 9,78 persen sepanjang Januari-Mei 2026. Kebalikannya, pengapalan produk pertanian mencatatkan penurunan sebesar 11,08 persen jika disandingkan dengan masa yang sama di tahun lalu. 

Pada bulan Mei 2026 saja, raihan ekspor komoditas industri pengolahan berada di angka US$1,48 miliar atau melandai 2,08 persen dibandingkan Mei 2025. Penjualan dari sektor pertanian pun merosot 13,64 persen menuju US$26,91 juta.

Sementara itu, pergerakan arus impor menampakkan lonjakan yang sangat tajam. Nilai impor Riau sepanjang Januari-Mei 2026 menyentuh angka US$1,63 miliar atau melonjak hingga 140,76 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Pembengkakan nilai impor ini dipicu dominan oleh impor nonmigas yang melesat US$927,48 juta atau 147,12 persen. Adapun untuk sektor impor migas terkerek naik sebesar 53,04 persen.

Tepat pada Mei 2026, nilai barang impor menyentuh US$550,41 juta atau melonjak 298,69 persen dibandingkan bulan Mei tahun lalu. Kenaikan drastis ini disulut oleh impor nonmigas yang meroket 344,50 persen menuju US$544,32 juta, di lain pihak untuk sektor impor migas melandai 60,95 persen menuju level US$6,09 juta dipicu penyusutan impor hasil minyak.

Terkini