Laba NSSS Turun 12,57% di Q1/2026, Biaya Produksi Melonjak

Kamis, 02 Juli 2026 | 03:09:01 WIB
PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS). (Foto: NET)

JAKARTA — Perusahaan perkebunan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS) berhasil mencatatkan kenaikan penjualan pada kuartal pertama tahun 2026. Kendati demikian, pertumbuhan omzet tersebut belum sanggup mengangkat laba bersih perseroan lantaran tergerus oleh membengkaknya beban pokok penjualan serta biaya produksi.

Berdasarkan laporan manajemen kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai penjualan NSSS tumbuh sebesar 8,55% secara tahunan (year-on-year), dari Rp476,41 miliar pada periode Maret tahun lalu menjadi Rp517,13 miliar hingga Maret 2026.

Akan tetapi, keuntungan bersih perusahaan justru merosot sebesar 12,57% menjadi sekitar Rp141,77 milar. Penurunan ini sejalan dengan menyusutnya margin keuntungan kotor menjadi 44,13% yang diakibatkan oleh lonjakan beban pokok penjualan hingga mencapai 25,78%. 

Pihak manajemen mengungkapkan bahwa penurunan profit terjadi karena laju kenaikan beban pokok penjualan bergerak jauh lebih cepat ketimbang pertumbuhan pendapatan.

"Kondisi tersebut dipicu meningkatnya biaya produksi langsung, mulai dari biaya pemeliharaan tanaman, pemupukan, hingga pembelian bahan baku," tulis manajemen dikutip, Kamis (2/7/2026).

Di samping itu, kuantitas pembelian Tandan Buah Segar (TBS) juga mengalami pelonjakan yang amat pesat. Sepanjang bulan Maret 2026, NSSS membeli TBS hingga kisaran 11.627 ton, melonjak tajam dibanding periode Maret 2025 yang hanya berkisar 3.867 ton. 

Besarnya volume pembelian ini secara langsung mendongkrak biaya pengolahan operasional perseroan.

Bukan hanya masalah volume, nilai beli TBS di pasaran pun terpantau merangkak naik. Harga rata-rata pembelian TBS meningkat dari kisaran Rp3.119 per kilogram pada Maret 2025 menjadi Rp3.462 per kilogram pada Maret 2026.

Faktor tersebut memicu pembengkakan pada pos biaya bahan baku, walaupun di lain sisi memberikan dampak positif terhadap peningkatan volume produksi minyak sawit mentah (CPO) dan palm kernel (PK). 

Manajemen menjelaskan, ekspansi pembelian TBS dari pihak ketiga ini sengaja dilakukan demi memaksimalkan utilitas pabrik mereka yang kapasitasnya telah dinaikkan hingga menyentuh 720.000 ton per tahun. Melalui strategi ini, kapasitas produksi CPO dan PK diharapkan bisa optimal sehingga tren penjualan tetap terjaga positif.

Demi mengamankan tingkat profitabilitas ke depan, manajemen NSSS telah merumuskan rentetan rencana taktis. 

Langkah-langkah tersebut meliputi peningkatan produktivitas area kebun lewat efisiensi pemupukan dan perawatan tanaman, perluasan lahan panen baru yang disesuaikan dengan umur tanaman, optimalisasi operasional pabrik, serta bersikap lebih selektif dalam menanamkan modal pada aset baru.

Manajemen juga bakal meneruskan agenda penanaman dengan memperhatikan ketersediaan dana cadangan, sekaligus memperketat pengawasan arus kas demi memastikan stabilitas keuangan internal tetap sehat.

Dari aspek komersial dan pemasaran, NSSS menjamin seluruh proses transaksi dengan mitra utama berjalan secara independen dan adil (arm's length). 

Penetapan harga dipastikan selalu merujuk pada fluktuasi pasar global serta kesepakatan kontrak yang berlaku bagi kedua pihak. NSSS pun mengandalkan jalinan kontrak jangka panjang demi mengamankan kepastian penjualan produk mereka di masa mendatang.

Meskipun laju keuntungan sempat terhambat di awal tahun ini, manajemen NSSS mengaku tetap menaruh optimisme tinggi terhadap prospek bisnis kelapa sawit ke depan. 

Pihak manajemen memproyeksikan tingkat permintaan terhadap komoditas sawit akan tetap kuat dalam jangka menengah maupun panjang, seiring dengan bergulirnya program wajib biodiesel B40 serta persiapan kebijakan B50 yang dipercaya mampu memperkokoh angka penyerapan pasar domestik.

Terkini