Industri Otomotif Minta Insentif Diperluas ke Hybrid hingga ICE

Kamis, 02 Juli 2026 | 21:42:31 WIB
Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo Jongkie Sugiarto. (Foto: NET)

JAKARTA - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mendorong pemerintah untuk memperluas cakupan kebijakan insentif otomotif. 

Stimulus ini diharapkan tidak hanya menyasar kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), melainkan juga mencakup kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE), hybrid electric vehicle (HEV), hingga plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). 

Langkah tersebut dipandang krusial guna mempertahankan pertumbuhan industri otomotif nasional sekaligus memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dalam merealisasikan investasi jangka panjang mereka di tanah air. 

Lewat insentif yang lebih inklusif, tiap-tiap teknologi kendaraan diproyeksikan mempunyai peluang yang sama untuk berkembang mengikuti kebutuhan pasar.

Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo Jongkie Sugiarto mengonfirmasi bahwa usulan ini telah diteruskan kepada Kementerian Perindustrian. Perubahan teknologi dan pengetatan kompetisi global menjadi alasan mengapa dukungan pemerintah harus mengalir ke seluruh segmen kendaraan agar sektor otomotif tetap bersaing.

"Beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok juga mengharapkan dukungan yang sama dari pemerintah untuk menjalankan rencana investasi jangka panjang di Indonesia," ujar Jongkie.

Menurut penilaian Gaikindo, pelbagai bentuk insentif yang dikucurkan pemerintah selama ini telah menyumbang dampak positif bagi daya saing industri otomotif domestik. 

Fasilitas tersebut di antaranya meliputi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), User Specific Duty-Free Scheme (USDFS), serta program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).

Ketua Harian Gaikindo Anton Kumonty turut menegaskan bahwa kepastian regulasi merupakan faktor primer yang ditimbang oleh investor sebelum menanamkan modal di sektor otomotif Indonesia. 

Merujuk data Gaikindo sampai Desember 2025, tercatat ada 74 perusahaan yang mengoptimalkan fasilitas USDFS, di mana 57 perusahaan di antaranya bergerak di bidang otomotif. 

Melalui skema ini, para pelaku industri mendapatkan pembebasan bea masuk impor komponen dan bahan baku yang belum diproduksi di dalam negeri, sehingga efisiensi produksi dapat ditingkatkan. 

Selain itu, Indonesia dinilai masih memikat bagi produsen otomotif global, terutama asal Jepang dan Tiongkok. Oleh sebab itu, konsistensi kebijakan dari pemerintah sangat dinantikan demi menjaga iklim investasi yang kondusif sekaligus memacu daya saing industri.

Sikap suportif terhadap usulan Gaikindo juga dinyatakan oleh PT Honda Prospect Motor (HPM). Pihak perusahaan memandang regulasi insentif yang mencakup seluruh aspek teknologi kendaraan akan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi konsumen sekaligus memicu pertumbuhan pasar domestik.

Sales, Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor Yusak Billy mengutarakan bahwa strategi yang lebih luas dapat menyajikan keleluasaan bagi publik dalam menentukan kendaraan yang selaras dengan kebutuhan maupun kemampuan finansial mereka.

"Kami melihat pendekatan yang lebih luas dapat membantu konsumen mendapatkan pilihan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka," ujar Billy, Kamis (2/7/2026).

Bagi Billy, bentuk kebijakan yang paling mendesak bagi industri saat ini adalah insentif yang efeknya langsung dirasakan konsumen, supaya daya beli masyarakat tetap kokoh di tengah tantangan ekonomi yang ada.

"Yang paling penting adalah insentif yang dapat langsung membantu daya beli konsumen dan menjaga pasar tetap bergerak. Bentuknya tentu menjadi kewenangan pemerintah, namun kami berharap kebijakan yang diberikan dapat bersifat inklusif, tepat sasaran, dan mendukung berbagai teknologi yang relevan bagi konsumen Indonesia," katanya.

Yusak Billy juga mengimbuhkan bahwa efek dari kebijakan terhadap angka penjualan kendaraan bakal sangat dipengaruhi oleh rupa insentif, besaran nominal manfaat, serta waktu eksekusinya. Bagaimanapun, regulasi yang dapat memotong beban konsumen diyakini mampu mempertahankan tren positif pertumbuhan pasar hingga akhir tahun.

"Dampaknya tentu akan bergantung pada bentuk, besaran, dan waktu penerapan insentif tersebut. Namun secara umum, kebijakan yang dapat meringankan konsumen berpotensi membantu meningkatkan minat beli dan menjaga momentum pasar otomotif hingga akhir tahun," imbuhnya.

Respons senada juga diungkapkan oleh PT Hyundai Motors Indonesia (HMID). Pabrikan otomotif dari Korea Selatan ini menyambut positif usulan Gaikindo terkait perluasan insentif ke kendaraan konvensional, hybrid, PHEV, maupun BEV.

Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto menyampaikan bahwa pihaknya mendukung penuh setiap masukan yang berorientasi pada penguatan daya saing industri otomotif di dalam negeri.

"Hyundai menyambut baik berbagai masukan yang bertujuan mendukung pertumbuhan industri otomotif nasional, termasuk usulan perluasan insentif yang disampaikan oleh Gaikindo," ujar Fransiscus kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Fransiscus berpendapat bahwa kebijakan yang mampu mendongkrak daya beli masyarakat, menstimulasi permintaan pasar, serta menopang transisi menuju mobilitas berkelanjutan akan membawa dampak baik bagi ekosistem otomotif secara menyeluruh. 

Hyundai menilai instrumen fiskal yang dampaknya instan dirasakan pembeli merupakan salah satu strategi paling efektif untuk menjaga stabilitas pertumbuhan pasar. Insentif ini dapat diwujudkan melalui relaksasi biaya kepemilikan kendaraan ataupun keringanan pajak demi memotivasi masyarakat membeli unit baru.

Bukan cuma insentif fiskal, manajemen perusahaan juga menganggap aspek nonfiskal memegang peran krusial, contohnya kemudahan dalam akses pembiayaan, penguatan infrastruktur pendukung, serta beragam program yang dapat memupuk kepercayaan publik pada industri otomotif.

"Adapun dampaknya terhadap penjualan akan bergantung pada bentuk, cakupan, dan mekanisme implementasi kebijakan tersebut," katanya.

Kini, para pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera menetapkan arah kebijakan insentif otomotif yang akomodatif terhadap daya beli masyarakat sekaligus menyajikan kepastian bagi investor. 

Strategi ini dianggap krusial untuk mempertahankan tren pertumbuhan pasar otomotif nasional, sekaligus mengawal investasi serta transformasi industri kendaraan di Indonesia.

Terkini