KTH Suka Rahmat Kaltim Sukses Budidaya Kopi Liberika

Kamis, 02 Juli 2026 | 21:23:31 WIB
Kelompok Tani Hutan (KTH) yang berada di Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. (Foto: NET)

JAKARTA - Kelompok Tani Hutan (KTH) yang berada di Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, tengah memelopori pemanfaatan kawasan sekitar hutan lindung untuk dijadikan lahan perkebunan kopi produktif jenis liberika. 

Langkah ini diambil guna menopang perekonomian desa sekaligus menghadirkan komoditas perkebunan andalan bagi daerah tersebut.

"Kami memilih menanam kopi dibandingkan sawit agar pelestarian kebun beriringan dengan upaya menjaga ketahanan lingkungan dari metode agroforestri," kata Ketua KTH Agrowisata Goa Taman Buah Mandiri, Desa Suka Rahmat, Ruslan saat dihubungi di Samarinda, Kamis (2/7/2026).

Upaya menjaga ekosistem ini memperoleh dukungan dan fasilitasi dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Santan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur. 

Kelompok tani ini pun telah mengantongi izin sah untuk mengelola perhutanan sosial tersebut dengan masa berlaku 35 tahun, yang terhitung sejak tahun 2023.

Penggunaan lahan seluas 25 hektare ini tidak cuma menghasilkan keuntungan finansial lewat panen biji kopi. Keberadaan bunga dari belasan ribu pohon kopi di sana juga dimanfaatkan menjadi pakan alami bagi lebah kelulut.

"Kopi bubuk kami saat ini telah dipasarkan secara komersial kepada masyarakat dengan harga sekitar Rp30.000 per kemasan," tutur Ruslan menjelaskan.

Sementara itu, madu kelulut yang didapatkan dari hasil budidaya tersebut dikonsumsi oleh para anggota kelompok tani sebagai tambahan nutrisi kesehatan sehari-hari. Keberhasilan dalam menerapkan tata kelola perhutanan sosial yang ramah lingkungan ini pun memikat perhatian masyarakat luas.

"Banyak masyarakat sekitar yang kini berkunjung ke desa kami untuk meniru pengembangan budi daya ini," ucap Ruslan.

Rintisan budidaya tanaman kopi di area hutan lindung ini sebenarnya sudah dimulai oleh para petani setempat sejak tahun 2007. Kini, destinasi agrowisata tersebut sudah dipenuhi oleh kurang lebih 14.000 batang pohon kopi yang memproduksi biji kopi berkualitas tinggi.

Sinergi yang solid antara warga dan pemerintah daerah terus berjalan demi mempertahankan eksistensi komoditas lokal unggulan ini. Kerja sama dan komitmen kuat dari seluruh elemen sangat diperlukan supaya produk kopi liberika dari Suka Rahmat ini mampu bersaing secara kompetitif, baik di pasar nasional maupun global.

Terkait aspek kualitas, seorang praktisi kopi bernama Slamet Prayogo memberikan apresiasi terhadap mutu biji kopi hijau (green bean) liberika yang dipetik di kebun tersebut karena dinilai berasal dari ceri kopi dengan kualitas paling prima.

"Setelah melalui proses pengolahan yang tepat, kopi bubuk ini terbukti memiliki cita rasa nikmat sekali," kata Slamet.

Terkini