Surplus Neraca Perdagangan RI Menyusut Jadi US$4,03 Miliar

Rabu, 01 Juli 2026 | 00:25:01 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa surplus neraca perdagangan barang Indonesia secara kumulatif untuk periode Januari sampai Mei 2026 merosot tajam sebesar 73,8% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

BPS merilis total surplus neraca perdagangan selama lima bulan pertama di tahun 2026 ini cuma menyentuh US$4,03 miliar. Jumlah tersebut anjlok 73,8% dari capaian surplus pada periode Januari–Mei 2025 yang sempat menembus angka US$15,38 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengutarakan bahwa walaupun mencatatkan penurunan, performa neraca perdagangan barang atau nonmigas secara makro masih tetap berada di jalur positif.

"Hingga Mei 2026, neraca perdagangan barang [nonmigas] mencatat surplus US$4,03 miliar. Surplus sepanjang Januari–Mei 2026 terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$16,31 miliar. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit, yaitu defisitnya US$12,28 miliar," jelas Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Secara detail, kemunduran perolehan neraca perdagangan ini disebabkan oleh dua aspek krusial: mengempisnya surplus nonmigas serta kian dalamnya jurang defisit pada sektor migas. 

Di lini nonmigas, perolehan surplus yang sebesar US$16,31 miliar pada Januari–Mei 2026 ini terhitung lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu yang mampu mencatatkan surplus hingga US$23,10 miliar.

Di kutub yang berbeda, beban yang datang dari sektor minyak dan gas bumi (migas) malah kian memberatkan. BPS menghimpun data bahwa defisit neraca perdagangan migas membubung cukup tinggi, dari yang sebelumnya defisit US$7,72 miliar pada rentang Januari–Mei 2025 membengkak menjadi defisit US$12,28 miliar pada Januari–Mei tahun ini.

Sementara itu, tiga negara yang menjadi pemasok surplus neraca perdagangan paling besar selama kurun waktu Januari—Mei 2026 ialah Amerika Serikat (US$7,03 miliar), India (US$5,29 miliar), dan Filipina (US$3,57 miliar). 

Sebaliknya, tiga negara yang menjadi pemicu defisit neraca perdagangan terdalam yaitu China (-US$10,17 miliar), Australia (-US$3,99 miliar), serta Singapura (-US$3,83 miliar).

Terkini