Luas Panen Menyusut, Produksi Jagung Semester II/2026 Melambat

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:43:31 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. (Foto: NET)

JAKARTA — Prospek hasil panen jagung di dalam negeri mulai kehilangan kekuatannya saat memasuki paruh kedua tahun 2026. 

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi bahwa area panen serta produksi jagung pada periode Juni–Agustus bakal merosot ketimbang tahun sebelumnya, sehingga akumulasi pertumbuhan produksi selama Januari–Agustus terlihat hampir tidak bergerak.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan bahwa luasan panen jagung pipilan pada Mei 2026 mencatatkan angka 0,21 juta hektare, sebuah capaian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Mei 2025 yang hanya 0,17 juta hektare. 

Akan tetapi, perkiraan luas lahan panen untuk kurun waktu Juni sampai Agustus diprediksi menyusut ke angka 0,72 juta hektare, atau mengalami penurunan sebesar 2,36% dari periode yang sama pada tahun lalu.

Melihat tren perkembangan itu, akumulasi luas lahan panen jagung pipilan untuk rentang Januari–Agustus 2026 diestimasi berada di angka 1,97 juta hektare, atau terkoreksi kurang lebih 0,49% dari periode yang sama di tahun 2025.

Selaras dengan kondisi tersebut, volume produksi jagung pipilan kering dengan tingkat kadar air 14% di bulan Mei diproyeksikan menyentuh 1,18 juta ton, melampaui capaian Mei tahun lalu yang sebesar 0,99 juta ton. 

Kendati begitu, estimasi produksi untuk Juni–Agustus diperkirakan merosot menjadi 4,23 juta ton, alias turun 4,39% secara tahunan (year-on-year).

Jika dihitung secara total, jumlah produksi jagung pipilan kering dari Januari hingga Agustus 2026 diestimasi mencapai 11,43 juta ton. Jumlah ini cuma mengalami kenaikan tipis sekitar 0,002 juta ton atau 0,02% bila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Ateng menegaskan bahwa semua estimasi ini masih berstatus temporer dan sangat dinamis mengikuti situasi riil pertanian di area persawahan.

"Potensi luas panen ini masih dapat berubah bergantung pada kondisi di lapangan, termasuk serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, maupun perubahan waktu panen oleh petani," ujarnya dalam rilis data BPS Juni 2026, Rabu (1/7/2026).

Terjadinya penurunan kecepatan produksi di paruh kedua tahun ini mengindikasikan bahwa lonjakan hasil panen yang sempat terjadi pada awal tahun belum cukup kuat untuk mempertahankan tren pertumbuhan sampai masa tanam selesai.

Di tengah bayang-bayang ancaman musim kemarau serta risiko fenomena El Nino, kemampuan dalam mempertahankan tingkat produktivitas tanaman jagung bakal menjadi instrumen krusial demi menjaga ketersediaan stok dalam negeri, khususnya bagi sektor industri pakan ternak yang sangat menggantungkan pasokannya pada komoditas ini.

Terkini