ARKO Sebut PLTA Lebih Kompetitif dari PLTS karena Tanpa Baterai

Senin, 29 Juni 2026 | 23:15:31 WIB
PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) memandang pembangkit listrik tenaga air (PLTA) masih memiliki keunggulan ekonomi yang kuat jika disandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang menggunakan baterai. Keunggulan ini terutama terlihat dalam memenuhi pasokan listrik beban dasar (base load) untuk jangka panjang.

Head of Investor Relations Arkora Hydro Nicko Yosafat menyampaikan bahwa dalam skala global, biaya pembangkitan listrik (levelized cost of electricity/LCOE) dari PLTA memang sedikit di atas PLTS. 

Kendati demikian, komparasi tersebut belum memasukkan ongkos penyimpanan energi yang diperlukan agar PLTS dapat menyalurkan listrik secara konsisten saat matahari tidak bersinar.

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), rata-rata LCOE PLTA pada tahun 2024 berada di angka US$0,057 per kWh, sedangkan PLTS di posisi US$0,043 per kWh. Meski begitu, Nicko menerangkan bahwa sistem PLTS memerlukan baterai demi menjaga keberlanjutan pasokan setrum. 

Merujuk riset National Renewable Energy Laboratory (NREL), biaya tambahan (storage premium) untuk sistem PLTS terintegrasi baterai berkisar antara US$23–39 per MWh di atas LCOE PLTS tanpa penyimpanan.

"Begitu faktor penyimpanan energi diperhitungkan, keekonomian PLTS plus baterai bisa menjadi setara atau bahkan lebih mahal dibandingkan PLTA, terutama jika PLTA sudah melewati masa pengembalian investasi awal yang hanya sekitar 5–7 tahun tergantung dari size-nya," ujarnya belum lama ini, dikutip Minggu (29/6/2026).

Menurut Nicko, perbedaan mendasar dari kedua teknologi ini berada pada aspek karakteristik pembangkitannya. PLTA mempunyai kemampuan menyuplai listrik secara konstan selama 24 jam tanpa memerlukan dana tambahan untuk alat penyimpanan energi, sedangkan PLTS mewajibkan investasi terpisah untuk sektor pembangkit sekaligus baterai.

"Yang membedakan PLTA secara fundamental adalah sifatnya sebagai pembangkit base load yang tidak memerlukan investasi tambahan untuk storage [penyimpanan], karena energi yang dihasilkan sudah stabil dan kontinu sepanjang hari. Sementara PLTS plus baterai pada dasarnya adalah dua investasi sekaligus, yakni pembangkitan dan penyimpanan, yang keduanya menambah beban investasi di awal proyek," katanya.

Oleh karena itu, walaupun pengerjaan PLTA memerlukan modal awal yang besar serta durasi konstruksi yang lebih lama, Nicko menilai biaya riil untuk menghasilkan listrik yang andal (true cost of reliability) tetap memiliki daya saing yang tinggi dibanding teknologi lainnya.

"With demikian, meskipun PLTA membutuhkan investasi awal yang besar dan masa konstruksi yang panjang, dari sisi true cost of reliability, PLTA berada pada posisi yang sangat kompetitif, khususnya untuk kebutuhan base load jangka panjang seperti yang dibutuhkan sistem kelistrikan Indonesia," ujarnya.

Arkora memproyeksikan bahwa kebutuhan terhadap pembangkit base load berbasis energi terbarukan bakal semakin krusial sejalan dengan akselerasi transisi energi di dalam negeri. Hingga triwulan I/2026, porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia baru menyentuh 18,3%. 

Di sisi lain, pemerintah mencanangkan target proyeksi tambahan kapasitas pembangkit EBT hingga 52,9 gigawatt (GW) sampai tahun 2034 lewat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Nicko mengutarakan bahwa karakteristik PLTA yang tidak bergantung pada pancaran matahari ataupun kecepatan embusan angin menjadikannya sebagai opsi teknologi yang andal untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional. 

Di samping itu, kendala pasokan batu bara yang sempat melanda serta tingginya ongkos impor energi akibat dinamika kurs kian memosisikan PLTA sebagai pasokan energi domestik yang krusial bagi ketahanan energi.

"PLTA bersifat terbarukan dan tidak bergantung pada impor. Karena itu, PLTA masih menjadi sumber listrik yang andal untuk menopang transisi energi nasional dan menciptakan ketahanan energi yang sesungguhnya," kata Nicko.

Terkini