JAKARTA — PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney tengah mengakselerasi transformasi di sektor pariwisata nasional.
Langkah ini ditempuh melalui penggabungan portofolio hotel-hotel milik badan usaha milik negara (BUMN) ke dalam anak usahanya, PT Hotel Indonesia Natour alias InJourney Hospitality.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, mengungkapkan bahwa proses ini merupakan amanah dari pemegang saham demi mewujudkan industri perhotelan domestik yang lebih kokoh, bersinergi, serta mampu mendongkrak nilai aset negara sekaligus mempertinggi daya saing pariwisata Indonesia di kancah internasional.
"Melalui InJourney Hospitality, kami ingin membangun portofolio hotel yang lebih terstruktur, mengangkat keunggulan heritage Indonesia sebagai diferensiasi yang ditawarkan untuk pelanggan, serta menciptakan value creation yang berkelanjutan,” kata Maya dalam keterangan tertulis, dikutip pada Minggu (28/6/2026).
Ia menambahkan, serangkaian penandatanganan conditional sale and purchase agreement (CSPA) yang berlangsung pada 11 Juni 2026 dan 26 Juni 2026 menjadi pijakan awal dalam membentuk sektor perhotelan yang lebih efisien, padu, serta berfokus pada pembentukan nilai jangka panjang.
Menurut Maya, InJourney selaku holding BUMN di bidang aviasi dan pariwisata memegang peran penting dalam mengoordinasikan sekaligus mendorong transformasi ekosistem pariwisata di tanah air. Dalam hal ini, InJourney Hospitality ditunjuk sebagai entitas utama yang mengelola portofolio hotel BUMN demi menyajikan pengalaman pelayanan berstandar dunia yang tetap menjunjung tinggi kekayaan budaya serta karakteristik khas Indonesia.
Manajemen InJourney menilai bahwa langkah penyatuan ini menjadi solusi tepat untuk mengatasi bermacam persoalan mendasar pada hotel-hotel BUMN selama ini, seperti perpecahan merek, perbedaan standar pelayanan, hingga minimalnya optimalisasi performa operasional.
Melalui sistem tata kelola yang lebih padu, tiap aset diharapkan dapat beroperasi dengan potensi maksimalnya sekaligus memicu sinergi yang memberikan dampak positif bagi seluruh ekosistem terkait.
“Tahap awal konsolidasi dimulai melalui penandatanganan CSPA pada 11 Juni 2026, yang mencakup pengalihan unit bisnis hotel milik InJourney Group kepada InJourney Hospitality, yaitu The Manohara Hotel, Pullman Mandalika, serta lima hotel bandara yang dikelola oleh IAS Group,” lanjutnya.
Pada momen tersebut, dilakukan pula penandatanganan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Saham Bersyarat PT Hotel Indonesia Properti (HIPRO) sebagai bagian dari penataan kepemilikan aset hotel di lingkup InJourney Group.
Selanjutnya, pada 26 Juni 2026, InJourney Hospitality kembali menyepakati CSPA bersama sembilan perusahaan BUMN, antara lain PT Adhi Karya (Persero) Tbk Group, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Group, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Group, PT Hutama Karya (Persero) Group, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Group, PT Nindya Karya, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk Group, PT Waskita Karya (Persero) Tbk Group, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Group. Prosedur ini melibatkan pemisahan usaha, pengambilalihan aset, hingga pengambilalihan saham unit bisnis hotel milik BUMN.
“InJourney meyakini bahwa proses yang telah berjalan menjadi fondasi kuat menuju pengelolaan hotel yang semakin profesional, lebih optimal, dan berdaya saing global, sekaligus memperkuat kontribusi sektor hospitality terhadap pertumbuhan pariwisata dan perekonomian nasional,” tutur Maya.
Ke depan, pihak manajemen optimis bahwa penyatuan hotel BUMN ini akan menjadi basis utama bagi penguatan ekosistem pariwisata nasional, menyuguhkan pelayanan kelas dunia bagi para konsumen, serta menghadirkan nilai ekonomi yang berkelanjutan untuk Indonesia.