Tantangan Properti 2026, Laba Bersih CTRA Diproyeksi Turun 10%

Minggu, 28 Juni 2026 | 18:41:01 WIB
PT Ciputra Development Tbk (CTRA). [Foto: NET]

JAKARTA – Sejumlah tantangan di industri properti masih harus dihadapi oleh PT Ciputra Development Tbk (CTRA) pada tahun ini. CTRA bahkan memperkirakan perolehan laba bersih mereka akan merosot sebesar 10% di tahun 2026.

Sekretaris Perusahaan CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata mengungkapkan bahwa pendapatan beserta laba bersih perusahaan pada tahun 2026 diperkirakan mengalami penurunan sebesar 10% jika dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu.

Untuk diketahui kembali, perolehan pendapatan CTRA sepanjang tahun 2025 berada di angka Rp12,7 triliun, atau mengalami pertumbuhan sebesar 13% dari tahun sebelumnya yang senilai Rp11,2 triliun. 

Sementara itu, laba bersih CTRA berada di angka Rp2,7 triliun, menunjukkan kenaikan sebesar 25% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,1 triliun.

Di lain sisi, CTRA menetapkan target yang stagnan untuk perolehan pendapatan prapenjualan atau marketing sales di angka Rp9,5 triliun, dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian di tingkat domestik maupun global. 

“Ini sudah ditargetkan dari awal tahun, turun 10% dari tahun lalu. Untuk presales, targetnya flat di Rp 9,5 triliun,” ujarnya saat ditemui di Public Expose CTRA, Jumat (26/6/2026).

Aditya menjelaskan bahwa penetapan target untuk tahun 2026 ini dilakukan lewat pertimbangan matang serta kehati-hatian, mengingat permintaan sektor properti di beberapa daerah masih lesu akibat efek dari menurunnya daya beli masyarakat. 

“Namun, CTRA optimistis mampu mencapai target marketing sales 2026 melalui penerapan strategi yang berfokus pada pengembangan produk residensial dan diversifikasi geografis, disamping juga memanfaatkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP),” katanya.

Aditya menambahkan, guna merealisasikan target marketing sales 2026 tersebut, CTRA meluncurkan dua buah proyek hunian baru, yakni Citra Bukit Golf Sentul di Bogor dan Citra Homes Halim di Jakarta, berikut beberapa klaster teranyar.

Mayoritas dari segmen ini membidik kelompok masyarakat kelas menengah ke atas dengan patokan harga di atas Rp1,5 miliar. Kelompok pasar ini pun dinilai mempunyai resiliensi yang lebih kuat di tengah situasi ekonomi yang bergejolak. 

Selama periode kuartal I 2026, CTRA sudah merilis Klaster Cedarwood@Forestine pada proyek CitraGarden City Jakarta, Klaster Hortis Phase 2 pada proyek Citra Garden Serpong, beserta klaster-klaster hunian lainnya.

Sedangkan pada periode semester II 2026, CTRA berencana meluncurkan Klaster Lacewood Phase 1@The Forestine serta Klaster Solea Terrace di CitraGarden City Jakarta, Apartemen Kataluna di CitraLand City CPI Makassar, dan beberapa proyek lainnya. 

“CTRA selalu berkomitmen menghadirkan produk-produk properti yang inovatif serta menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam menjalankan bisnis,” tuturnya.

Di samping hal itu, pergerakan saham CTRA juga mengalami koreksi sebesar 31,93% year to date (YTD) menuju level Rp565 per lembar saham. 

Analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie memaparkan bahwa jika dilihat secara tahunan, pendapatan CTRA pada kuartal I mengalami penurunan sebesar 6,37% menjadi Rp2,56 triliun dibanding periode yang sama di tahun lalu, dan laba bersihnya pun merosot 21,52% ke posisi Rp518 miliar. Situasi ini ikut menjadi pemicu tertekannya harga saham CTRA.

Kendati demikian, perlu dicermati pula bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang tahun 2026 ini juga mengalami kemerosotan yang cukup dalam, yakni sebesar 31,81% YTD. 

Ditambah lagi, terdapat kebijakan peningkatan suku bunga yang cukup agresif hingga 100 basis poin (bps) menuju level 5,75%. “Sehingga penurunan saham CTRA ini merupakan faktor kombinasi dari kedua faktor tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (26/6).

Adrian menilai bahwa roda bisnis CTRA pada semester I 2026 bakal menghadapi situasi yang menantang sehingga laba bersih dari emiten ini akan ikut terimbas. 

Kondisi tersebut dipicu oleh atmosfer investasi yang kurang kondusif serta tingkat suku bunga yang tinggi, yang pada akhirnya akan mengganggu development income dari perseroan. 

“Secara umum emiten yang bergerak di bidang properti akan menghadapi tantangan yang sama, terutama yang berfokus terhadap development income,” tuturnya.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Adrian memberikan rekomendasi trading buy untuk saham CTRA dengan target harga paling dekat pada level Rp605 per lembar saham.

Terkini