Prabowo: Makan Bergizi Gratis Krusial Atasi Kelaparan

Rabu, 24 Juni 2026 | 18:11:02 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto. (Foto: NET)

JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah krusial untuk menuntaskan masalah kelaparan serta menjamin pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak.

"Ada juga yang gak setuju MBG. Harusnya mereka yang gak setuju MBG datang ke sini ya. Tanya itu petani nelayan. MBG perlu atau tidak? Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak?" kata Prabowo saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII Tahun 2026 di Gorontalo, dipantau dari siaran resmi Sekretariat Presiden di Jakarta Rabu (24/6/2026).

Presiden menyatakan bahwa kebutuhan pangan merupakan isu fundamental yang wajib mendapat prioritas utama dari pemerintah.

"Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan, ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira tidak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau tidak segera diisi ya dia mati," ujarnya.

Prabowo memaparkan bahwa sejumlah organisasi internasional telah memberikan peringatan terkait ancaman lonjakan tingkat kelaparan di tingkat global selama beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, jumlah populasi dunia yang menderita kelaparan terus bertambah, sehingga setiap negara diharuskan untuk memperkokoh ketahanan pangan di dalam negeri.

Ia menyebutkan bahwa Indonesia saat ini berada di posisi yang cukup baik berkat peningkatan produksi pangan nasional yang mulai menunjukkan surplus pada beberapa komoditas.

Presiden mengungkapkan bahwa situasi ini memberi peluang bagi Indonesia untuk menyalurkan bantuan pasokan pangan maupun pupuk kepada negara-negara yang membutuhkan.

Di samping guna memperbaiki kualitas gizi warga, program MBG juga dianggap mampu memberikan dukungan terhadap penyerapan hasil panen petani serta tangkapan nelayan lokal.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen menjaga ketahanan pangan nasional sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat terhadap potensi ancaman krisis pangan dunia.

Terkini