Wamen Fauzan Ajak Perguruan Tinggi Beri Solusi Soal Sampah

Selasa, 23 Juni 2026 | 17:53:01 WIB
Wamendiktisaintek RI, Fauzan (tengah). [Foto: via Kompas.com]

JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengimbau seluruh perguruan tinggi di Indonesia agar responsif dan turut serta menanggulangi persoalan sampah di tanah air.

Melalui pernyataan di Jakarta, Selasa (23/6/2026), Wamen Fauzan menekankan bahwa hilirisasi riset menjadi tahapan krusial supaya temuan ilmiah yang dihasilkan di kampus tidak sekadar menjadi dokumen publikasi, melainkan bisa memberi kegunaan riil untuk publik.

"Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian nasional dan menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi diharapkan dapat mengambil peran dalam menghadirkan solusi melalui riset dan teknologi," katanya.

Wamen Fauzan mengapresiasi inovasi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang sukses merancang skema pengelolaan sampah dengan nilai tambah serta potensi maslahat bagi warga.

Merujuk pada data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, jumlah timbulan sampah di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2024 telah mencapai 1,21 juta ton.

Menurut Fauzan, pola penanganan sampah berfondasikan riset ini dapat memberikan sumbangsih konkret dalam memangkas volume sampah daerah secara masif.

"Yang paling penting adalah bagaimana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat diolah menjadi produk yang lebih fungsional dan bernilai guna. Inilah wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan," ujar Wamendiktisaintek Fauzan.

Seperti yang diketahui, Unismuh menciptakan pembaruan sistem manajemen sampah berlandaskan metode Sustainable Waste Solutions Center (SWSC).

SWSC dibangun sebagai sentra tata kelola sampah berkelanjutan, yang meliputi pemisahan sampah sejak awal, penguatan peran bank sampah, pemotongan pemakaian plastik sekali pakai, pengolahan limbah organik lewat komposter dan maggot, hingga pembuatan produk kreatif dari limbah anorganik.

Lewat mekanisme ini, sampah tidak lagi dianggap sebagai beban di penampungan akhir, melainkan komponen ekonomi sirkular yang mampu mendatangkan keuntungan ekologis serta ekonomis.

Metode pemisahan sampah dari hulu ini diterapkan di lingkungan fakultas, lembaga, asrama, sampai unit kerja yang ada di kawasan universitas.

Limbah dikelompokkan seturut jenisnya, meliputi sampah organik, anorganik, residu, serta bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga jumlah sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir bisa ditekan sekecil mungkin.

Selanjutnya, sampah organik diproses menjadi aneka produk bermanfaat, semisal pupuk kompos, eco-enzyme, pakan maggot, sampai sabun dan lilin dari bahan dasar minyak jelantah.

Di sisi lain, sampah anorganik diorganisasi lewat sistem bank sampah dengan memposisikan sivitas akademika selaku nasabah serta diperkuat oleh kemitraan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar.

Bukan cuma menjadi tempat pemrosesan sampah, sarana ini juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran lingkungan bagi para mahasiswa lewat peran aktif relawan yang terhimpun dalam Eco Ranger.

Bermacam produk hasil kreasi ulang, seperti ecobrick, kerajinan dari bahan plastik serta kertas bekas, hingga lilin berbasis minyak goreng bekas, menjadi pembuktian bahwa manajemen sampah dapat menciptakan nilai ekonomis sekaligus membangun kebiasaan ramah lingkungan di area kampus.

Terkini