JAKARTA – Menjadi orangtua berarti akan terus-menerus belajar mengenai pola asuh terbaik sesuai usia buah hati. Pola asuh tersebut salah satunya mencakup pilihan kata serta kalimat yang diucapkan kepada anak dalam keseharian.
Sebab, kata-kata yang didengar anak sejak kecil dapat membentuk cara mereka memandang diri sendiri, orang lain, dan cara mereka menghadapi berbagai situasi saat dewasa nanti.
Psikolog anak sekaligus neuropsikolog dari Hackensack University Medical Center, dr. William Cheung Tsang, Psy.D., mengatakan bahwa banyak orang dewasa masih mengingat ucapan tertentu yang pernah mereka dengar ketika kecil.
"Tidak peduli seberapa sukses atau seberapa baik penyesuaian diri seseorang saat dewasa, banyak orang masih mengingat dengan rasa sakit, kata-kata yang menyakitkan atau merendahkan yang pernah diucapkan orangtua, anggota keluarga lain, guru, atau pelatih ketika mereka masih anak-anak," ujar dr. Tsang kepada Parade.
Menurut dr. Tsang, beberapa kalimat yang sebenarnya diucapkan dengan niat baik justru dapat memicu kecemasan pada anak. Berikut adalah lima kalimat tersebut:
"Jangan khawatir" Kalimat “jangan khawatir” atau “enggak usah khawatir” mungkin terdengar menenangkan bagi orang dewasa, namun bagi anak yang sedang merasa takut atau cemas, ucapan tersebut menurut dr. Tsang bisa membuat emosinya terasa tidak diakui.
"Mengatakan kepada anak agar tidak khawatir dapat membuat perasaannya dianggap tidak tepat atau salah," jelas dr. Tsang.
Daripada meminta anak untuk berhenti merasa khawatir, orangtua bisa membantu anak memahami apa yang sedang mereka rasakan terlebih dahulu.
"Kamu baik-baik saja" Saat anak menangis, gugup, atau terlihat tertekan, banyak orangtua yang spontan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal, menurut dr. Tsang, kalimat tersebut bisa membingungkan ketika pengalaman yang dirasakan anak justru sebaliknya. Poin utamanya di sini adalah membuat anak memahami apa yang dirasakan dan memvalidasi itu.
"Ketika anak merasa tidak baik-baik saja tetapi diberi tahu bahwa mereka baik-baik saja, mereka bisa merasa tidak dipahami oleh orang yang paling mereka percaya," tuturnya.
"Ini bukan masalah besar" Buat orang dewasa, masalah yang dihadapi anak sering kali memang terlihat sepele atau sederhana. Namun, cobalah untuk memposisikan diri sebagai anak yang baru pertama kali menghadapi masalah tersebut dalam hidup mereka.
Dr. Tsang menjelaskan bahwa hal yang tampak sepele bagi orangtua bisa terasa sangat besar bagi anak. Jadi, penting untuk memahami perasaan anak terlebih dahulu sebelum mencoba mengecilkan persoalan yang sedang mereka hadapi. Orangtua juga bisa mencoba membantu anak untuk menyelami permasalahan yang dihadapi.
"Jangan menangis" Menangis merupakan salah satu cara alami anak untuk mengekspresikan rasa takut, sedih, atau kewalahan. Menurut dr. Tsang, meminta anak berhenti menangis tanpa memberi ruang bagi emosinya dapat membuat mereka belajar bahwa menunjukkan perasaan adalah sesuatu yang tidak diterima.
"Menyuruh anak berhenti menangis membuat mereka belajar bahwa mengekspresikan emosi secara terbuka adalah sesuatu yang tidak dapat diterima," kata dr. Tsang.
“Biar Ibu/Bapak saja yang melakukannya" Ketika sedang beraktivitas bersama anak, kalimat ini sering muncul. Mungkin orangtua melihat anak kesulitan dan berniat membantu dengan mengambil alih tugas yang sedang dikerjakan oleh anak.
Meskipun terdengar suportif, dr. Tsang menilai ucapan tersebut bisa mengirimkan pesan bahwa anak tidak cukup mampu untuk menyelesaikannya sendiri.
"Dengan mengambil alih, orang dewasa tanpa sengaja menyampaikan pesan bahwa anak tidak mampu menangani situasi tersebut sendiri," ujar dr. Tsang.
Sebagai gantinya, ia menyarankan orangtua memberikan dukungan tanpa langsung mengambil alih tugas anak. Salah satu contoh kalimat yang direkomendasikan adalah, "Kamu bisa melakukan ini dan kami bisa mencari jalan keluarnya sama-sama supaya lebih mudah dikerjakan."
Menurut dr. Tsang, pendekatan seperti ini membantu anak merasa didukung sekaligus membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan dan mengelola kecemasan secara lebih sehat.