Bukan Mitos, Inilah Alasan Ilmiah Nyamuk Memilih Target

Jumat, 19 Juni 2026 | 05:42:01 WIB
Ilustrasi - Digigit Nyamuk. (Foto: NET)

JAKARTA – Merasa menjadi satu-satunya orang yang terus digigit nyamuk sementara orang di sekitar merasa aman? Ternyata, anggapan bahwa nyamuk cenderung menyukai orang tertentu bukanlah sekadar mitos. 

Merujuk laporan Science Alert pada 17 Juni 2026, ilmuwan kini kian memahami alasan di balik fenomena ini, yang ternyata dipengaruhi oleh kombinasi aroma tubuh, emisi karbon dioksida, serta senyawa spesifik yang diproduksi oleh kulit.

Ahli entomologi medis dari Institut Penelitian untuk Pembangunan Prancis, Frederic Simard, membenarkan hal tersebut. 

"Ini bukan kesalahpahaman. Nyamuk memang tertarik pada sebagian orang lebih dibandingkan orang lain," ujar Simard kepada AFP. 

Meski begitu, ia menekankan bahwa seseorang tidak akan selamanya menjadi "magnet nyamuk" setiap saat.

Para peneliti menjelaskan bahwa nyamuk betina—satu-satunya jenis yang mengisap darah manusia—memanfaatkan berbagai indikator sensorik untuk melacak mangsanya. 

Sinyal awal yang dikenali adalah karbon dioksida dari embusan napas manusia. Rickard Ignell, ilmuwan asal Swedia, menyatakan bahwa dunia sains telah mengetahui hal ini sejak lebih dari satu abad lalu. 

"Kami telah mengetahui lebih dari 100 tahun bahwa nyamuk tertarik pada karbon dioksida yang kami embuskan. Ini adalah sinyal pertama yang memicu perilaku mereka," ungkap Ignell.

Saat berada dalam jarak sekitar 10 meter, nyamuk mulai mendeteksi aroma tubuh. Kombinasi bau tubuh dan karbon dioksida inilah yang membuat seseorang menjadi target yang menarik. Ketika jarak semakin dekat, suhu dan tingkat kelembapan kulit turut berperan dalam proses seleksi nyamuk.

Selama ini, banyak teori beredar bahwa nyamuk lebih menyukai golongan darah tertentu. Namun, Simard menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. 

Begitu pula dengan anggapan bahwa warna kulit, mata, atau rambut memengaruhi daya tarik nyamuk. Faktor utama yang sesungguhnya berperan adalah aroma tubuh. 

Manusia diketahui dapat memancarkan 300 hingga 1.000 senyawa aroma kompleks yang sebagian di antaranya lebih disukai nyamuk daripada yang lain.

Dalam studi terbaru yang dipimpin Ignell, para peneliti mengamati perilaku nyamuk Aedes aegypti terhadap 42 perempuan di laboratorium. Hasilnya, nyamuk menggunakan kombinasi 27 senyawa aroma yang terdeteksi dari sekitar 1.000 senyawa yang dihasilkan tubuh manusia. 

Mereka yang paling sering menjadi sasaran diketahui memproduksi lebih banyak senyawa 1-octen-3-ol atau "alkohol jamur", yang berasal dari penguraian sebum atau minyak alami kulit.

Selain aroma tubuh, konsumsi bir juga terbukti meningkatkan risiko gigitan nyamuk karena dapat menaikkan suhu tubuh, meningkatkan emisi karbon dioksida, serta mengubah komposisi aroma kulit. 

Studi di Belanda tahun 2023 menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi bir dalam kurun waktu 24 jam terakhir memiliki kecenderungan 1,35 kali lebih tinggi menjadi target nyamuk.

Mengingat penyebaran nyamuk yang kian meluas akibat perubahan iklim, memahami faktor risiko ini menjadi sangat krusial. Sebagai upaya pencegahan, Simard menyarankan penggunaan pakaian longgar yang menutupi kulit, penggunaan kelambu, serta losion antinyamuk. 

Ia pun memberikan saran tambahan: "Cobalah makan dalam porsi ringan dan kurangi alkohol."

Terkini