Dampak Pembukaan Selat Hormuz bagi Industri Manufaktur Nasional

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:48:01 WIB
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta. (Foto: NET)

JAKARTA – Pembukaan kembali Selat Hormuz belum memberikan dampak berarti terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tanah air. Kalangan pengusaha memprediksi harga bahan baku setidaknya memerlukan waktu enam bulan untuk kembali ke level normal seperti sebelum konflik di Timur Tengah terjadi.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa tren penurunan harga bahan baku sebenarnya sudah terlihat sebelum jalur tersebut dibuka. Meski demikian, harga saat ini masih berada di atas level sebelum perang. 

"Belum ada pengaruh signifikan, sebelum Selat Hormuz dibuka juga harga bahan baku sudah turun meski belum pada level sebelum perang," ungkap Redma, Jumat (19/6/2026).

Redma menjelaskan, normalisasi harga tidak hanya bergantung pada kelancaran logistik energi, tetapi juga pemulihan fasilitas produksi petrokimia di Timur Tengah. 

"Prakiraan masih butuh waktu minimal enam bulan sebelum harga kembali normal seperti sebelum perang untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas produksi petrokimia di Timur Tengah," tegasnya. 

Sektor tekstil menjadi yang paling sensitif karena ketergantungan pada turunan minyak dan gas.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, melihat pembukaan Selat Hormuz sebagai sentimen positif. Hal ini diharapkan mampu mengendalikan harga minyak serta biaya logistik. 

"Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan sentimen positif bagi industri manufaktur nasional karena dapat mengurangi tekanan biaya produksi yang selama beberapa bulan terakhir meningkat akibat lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global," ujar Saleh. 

Namun, ia menekankan bahwa dampaknya tidak dirasakan secara instan karena butuh proses dalam rantai pasok global.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai langkah ini hanya meringankan tekanan biaya, bukan solusi menyeluruh. Menurutnya, transmisi penurunan harga energi ke industri membutuhkan waktu. 

Selain itu, Yusuf menyoroti tantangan lain berupa pelemahan nilai tukar rupiah dan permintaan yang masih lesu. 

"Pembukaan Selat Hormuz lebih tepat dipandang sebagai faktor yang meringankan tekanan biaya, bukan solusi yang mengubah keadaan secara menyeluruh," ujar Yusuf. 

Ia menambahkan bahwa prospek industri ke depan lebih ditentukan oleh akses pasar ekspor dan kekuatan permintaan pasar.

Terkini