JAKARTA - Tidak semua orang mampu menjalani masa tua dengan perasaan bahagia, kesehatan mental yang terjaga, serta tetap merasa berkontribusi dalam lingkup sosial.
Banyak orang cenderung hanya fokus menyiapkan tabungan, kesehatan fisik, atau rencana pensiun. Padahal, kebahagiaan di usia senja sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang dibangun sejak muda.
Ashoka Southeast Asia Regional Director sekaligus aktivis pemberdayaan perempuan, Nani Zulminarni, mengungkapkan ada tiga aspek fundamental yang menentukan kemampuan seseorang dalam menua dengan bahagia.
Menurut Nani, membangun landasan kuat pada aspek-aspek tersebut sejak dini membantu seseorang tetap merasa dihargai dan memiliki makna saat memasuki usia lanjut.
1. Keluarga sebagai fondasi utama
Nani menjelaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk pengalaman hidup sejak lahir. Oleh karena itu, kualitas hubungan keluarga sangat berdampak pada kesejahteraan seseorang saat menua.
“Keluarga itu sebagai ruang pertama dan utama untuk seseorang tumbuh kembang, mulai dari bayi, anak-anak hingga menuju usia lanjut, kehadiran keluarga sangat penting,” ungkap Nani dalam rangkaian talkshow Ageless Festival, di Pondok Indah Mall (PIM) 3, Jakarta Selatan, Sabtu (13/6/2026).
Dukungan emosional dari pasangan, anak, cucu, dan anggota keluarga lainnya berperan vital menjaga kesehatan mental lansia. Nani menekankan pentingnya komunikasi terbuka serta sikap saling menghargai agar lansia tidak merasa terasing.
“Bagaimana di keluarga membangun relasi pada setiap anggotanya, setiap tahapan usianya atau intergenerasinya,” ujarnya.
2. Komunitas membuat lansia tetap relevan
Selain keluarga, lingkungan sosial yang inklusif membuat lansia tetap aktif dan merasa dibutuhkan. Nani menegaskan bahwa masyarakat harus memandang lansia sebagai individu yang masih memiliki kapasitas untuk berkontribusi.
“Bagaimana komunitas menempatkan orang-orang tua, masyarakat melihat orang yang menua tadi sebagai orang-orang yang berhak untuk terlibat, mengambil keputusan, dan menjadi bagian dari proses-proses yang terjadi,” katanya.
Ketika lansia dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau kegiatan sosial, rasa percaya diri mereka meningkat dan risiko kesepian dapat berkurang. Pengalaman hidup yang mereka miliki pun menjadi sumber pengetahuan berharga bagi generasi yang lebih muda.
3. Mengubah pandangan bangsa soal produktivitas
Aspek ketiga berkaitan dengan bagaimana sebuah negara memaknai proses penuaan. Menurut Nani, pelabelan antara masa produktif dan tidak produktif sering kali membuat lansia merasa tersisih.
“Bangsa jadi ekosistem yang lebih besar. Salah satu yang bikin sebal orang tua itu ada istilah pensiun, lalu produktif dan tidak produktif,” ucap dia.
Padahal, kontribusi seseorang tidak terbatas pada aktivitas ekonomi saja.
Nani menyoroti dampak negatif dari stigma tersebut: “Ketika kami dikategorikan sebagai usia tidak produktif lagi, maka di situlah kondisi mental jadi berubah. Bisa muncul anggapan ‘Oh saya udah tua, tidak relevan lagi, tidak berguna’,” kata Nani.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap penuaan dengan melakukan investasi sosial, emosional, dan relasional sejak dini.
“Menua adalah sesuatu yang akan terjadi pada siapapun, tapi yang terpenting adalah bagaimana berinvestasi untuk menua dengan bahagia sejak muda,” tutupnya.