Suku Bunga BI Naik Lagi, Ekonom BSI: Sulit Turun di 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 00:07:31 WIB
Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Banjaran Surya Indrastomo. (Foto: NET)

JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia (BI) kembali meningkatkan suku bunga acuan (BI Rate) semakin mempertegas indikasi kebijakan higher for longer

Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan hari Kamis (18/6/2026), bank sentral menetapkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Ini merupakan penyesuaian kedua dalam satu bulan terakhir, menyusul langkah serupa pada RDG mingguan dua pekan lalu.

Kepala Ekonom PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Banjaran Surya Indrastomo, menilai potensi penurunan suku bunga acuan pada sisa tahun 2026 sangat terbatas akibat tekanan global yang masih kuat.

"Yang jelas turun susah. Ruang untuk menurunkan suku bunga tahun ini cukup sulit," ujar Banjaran saat ditemui di Jakarta, Kamis (18/6/2026). 

Ia memandang arah kebijakan BI akan sangat bergantung pada langkah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang konsisten menjaga suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih panjang.

Dalam situasi ini, Banjaran menyebut tekanan terhadap pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia, belum akan mereda dalam waktu dekat. Hal tersebut tercermin dari dominasi dolar AS dan pelemahan mata uang Asia lainnya, seperti yuan China dan won Korea Selatan.

"Kami sedang menghadapi tantangan yang bisa dibilang new normal baru. Tekanan global ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain," katanya. 

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu investor global melakukan penyesuaian portofolio ke aset-aset berdenominasi dolar AS. Oleh sebab itu, BI perlu memastikan daya tarik instrumen keuangan domestik tetap terjaga agar arus modal keluar tidak membesar.

Meski begitu, ia mengakui bahwa suku bunga yang lebih tinggi memiliki konsekuensi terhadap pertumbuhan kredit perbankan. Menurutnya, BI harus mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial serta pengelolaan likuiditas.

"BI sekarang berada pada posisi yang harus menjaga stabilitas sekaligus mengungkit pertumbuhan. Kami masih menunggu bagaimana formulasi kebijakannya ke depan," ujarnya.

Banjaran turut menyoroti tantangan likuiditas, terutama di tengah tingginya kebutuhan pendanaan pemerintah serta jatuh tempo beberapa surat berharga pada periode Juni-Juli 2026. 

Walaupun demikian, ia meyakini fundamental industri perbankan Indonesia tetap tangguh menghadapi tekanan global. Hal ini didukung oleh rasio permodalan perbankan yang sehat serta eksposur utang luar negeri yang relatif terjaga.

Terkini