Laba BCA Tumbuh 2,07% Jadi Rp 25,68 Triliun per Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 19:34:31 WIB
PT Bank Central Asia Tbk (BCA). (Foto: NET)

JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali memperlihatkan perlambatan pada tren profitabilitasnya menjelang berakhirnya triwulan II tahun ini.

Sampai dengan Mei 2026, bank dengan kode emiten BBCA tersebut mencatatkan kenaikan laba bersih bank only sebesar 2,07% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 25,68 triliun. 

Realisasi ini mengindikasikan adanya penurunan kecepatan dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang berada di level 3% yoy.

Merujuk pada laporan bulanan BCA yang dirilis pada Selasa (16/6/2026), pencapaian tersebut sejalan dengan perolehan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perseroan yang mengalami koreksi tipis 0,5% yoy menjadi Rp 32,95 triliun.

Apabila dibedah, pendapatan bunga perseroan tercatat hanya terkerek naik 0,3% yoy menjadi Rp 38,4 triliun, sedangkan beban bunga mengalami pembengkakan hingga 5,41% yoy menjadi Rp 5,45 triliun.

Beralih ke pos operasional lainnya, emiten perbankan ini sejatinya telah memangkas beban impairment sebesar 13,62% yoy menjadi Rp 1,21 triliun. Hal tersebut menjadi salah satu faktor pendorong berkurangnya beban operasional lainnya hingga 39,41% yoy menjadi Rp 1,55 triliun.

Meski begitu, pendapatan dari komisi/provisi/fee dan administrasi yang melonjak 9,2% yoy menjadi Rp 8,44 triliun belum mampu menutup penurunan di beberapa pos pendapatan operasional lainnya, termasuk merosotnya pendapatan dividen sebesar 11,65% yoy menjadi Rp 1,93 triliun.

Oleh karena itu, laba operasional perseroan tercatat hanya menguat sebesar 2,76% yoy menjadi Rp 31,4 triliun.

Dari fungsi intermediasi, ekspansi penyaluran kredit perbankan juga bergerak lebih terbatas, dengan kenaikan 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun. Secara keseluruhan, total aset perusahaan tumbuh 8,57% yoy menjadi Rp 1.592,98 triliun.

Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) korporasi naik 8,8% yoy menjadi Rp 1.256,84 triliun.

Akselerasi pertumbuhan DPK tersebut sebagian besar disokong oleh kepemilikan dana murah. Giro perseroan berhasil melonjak hingga 16,78% yoy menjadi Rp 444,32 triliun, dan pos tabungan tumbuh 7,81% yoy menjadi Rp 625,37 triliun. Sebaliknya, simpanan dalam bentuk deposito justru menyusut ke angka Rp 187,13 triliun, atau terkoreksi sebesar 3,85% yoy.

Terkini