JAKARTA - Usai terdaftar dalam Daftar Aset Keuangan Digital (DAKD) Bursa, JAM Coin resmi diperkenalkan kepada publik pada 10 Juni 2026.
Utility token ini hadir untuk memfasilitasi beragam transaksi serta layanan premium di dalam ekosistem JAM yang memadukan teknologi blockchain dengan sektor ekonomi nyata.
CEO JAM, Andre Arthur, menegaskan bahwa JAM Coin bukan sekadar aset untuk diperdagangkan, melainkan memiliki fungsi nyata sebagai instrumen transaksi dalam berbagai layanan perusahaan.
“Di dalam ekosistem JAM terdapat berbagai fitur dan layanan premium yang menggunakan JAM Coin sebagai alat transaksi. Karena itu, token ini tidak hanya memiliki nilai perdagangan, tetapi juga utilitas yang dapat dirasakan langsung oleh penggunanya,” ujar Andre dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).
Menurut Andre, pengembangan token ini ditopang oleh integrasi unit-unit usaha yang menjadi fondasi ekosistem, sehingga diharap mampu menghasilkan nilai berkelanjutan bagi masyarakat.
Dukungan pun mengalir dari para pelaku industri aset digital. Head of Business Development Mobee Exchange, Hery Hermawan, berpendapat bahwa pesatnya pertumbuhan investor kripto di Indonesia menciptakan peluang bagi utility token yang menawarkan kegunaan langsung dalam kegiatan ekonomi.
Di sisi lain, Vice President GudangKripto, Alexander Pattiasina, menilai JAM Coin memiliki prospek cerah berkat dukungan model bisnis yang jelas dan ekosistem usaha yang menjadi dasar pengembangannya.
Selain inovasi teknologi digital, JAM Coin juga membidik kontribusi pada sektor ekonomi produktif melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis koperasi.
Penggagas sekaligus Komisaris JAM Coin, Johan Aripin Muba, mengungkapkan bahwa pihak mereka tengah merajut jaringan koperasi lewat program JAM Center Indonesia guna menyambungkan teknologi digital dengan penguatan ekonomi desa.
Ia menyebutkan bahwa JAM Coin didesain untuk berkembang sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, pengembangannya tidak hanya bertumpu pada aspek teknologi, tetapi juga pada penciptaan manfaat ekonomi nyata.
Pengembangan koperasi berbasis desa ini akan difokuskan untuk menyokong sektor peternakan dan ketahanan pangan nasional melalui penyediaan sarana peternakan, pemantapan rantai distribusi hasil produksi, serta peningkatan produktivitas ekonomi bagi warga desa.
“JAM Coin akan mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi desa yang produktif, mulai dari penyediaan sarana peternakan hingga penguatan rantai distribusi hasil produksi. Harapannya, program ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ujarnya.
Johan menambahkan bahwa JAM Coin diciptakan sebagai jembatan antara ekonomi digital dan ekonomi riil.
Menurutnya, masa depan aset digital ditentukan bukan hanya oleh aktivitas perdagangan, melainkan oleh manfaat yang diberikan kepada masyarakat melalui teknologi yang relevan dengan kebutuhan rakyat serta mampu menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.