JAKARTA - Pengurus Besar Akuatik Indonesia berupaya menambah jam terbang atlet nasional dengan mengikutsertakan mereka pada kejuaraan renang perairan terbuka, Asian Open Water Swimming (OWS) Championship 2026 ke-12 yang berlangsung di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, pada 13-15 Juni.
“Mereka atlet muda. Jadi kami memberikan pengalaman di kejuaraan Asia,” kata Ketua Harian PB Akuatik Indonesia Harlin Erlianto Rahardjo saat sesi jumpa pers Asian OWS ke-12 di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (12/6.2026).
Indonesia mengirimkan enam atlet profesional yang terdiri dari empat putra dan dua putri, yakni Made Nadya, Andy Fauzan, Alexander Adrian, Akbar, Sang Arka, dan Izzy Dwi Faiva untuk bertanding di ajang tersebut.
Para atlet ini dijadwalkan mengarungi perairan di kawasan InterContinental, Jimbaran Bay, Kabupaten Badung, untuk mengikuti tiga nomor pertandingan, yakni jarak lima kilometer, 10 kilometer, dan estafet 4x1.500 meter.
Harlin menjelaskan bahwa enam atlet renang perairan terbuka tersebut sebelumnya sempat mewakili Indonesia pada ajang SEA Games 2025 di Bangkok, Thailand, meski belum berhasil meraih medali.
Selain bertujuan untuk meningkatkan intensitas kompetisi, ajang tahunan ini diharapkan mampu memacu daya saing atlet mengingat minimnya jumlah kejuaraan renang perairan terbuka saat ini.
“Kami ingin mereka supaya punya pengalaman bertanding apalagi menjadi tuan rumah, mereka harusnya percaya diri,” tutur Harlin.
Selain kategori atlet profesional, kejuaraan ini juga membuka kategori pemula melalui A Stream OWS Series yang ditujukan bagi perenang pemula, anggota komunitas olahraga, serta masyarakat umum.
Kategori ini mempertandingkan jarak pendek sejauh 400 meter, 500 meter, 1,5 kilometer, hingga tiga kilometer.
Seri pertandingan non-profesional ini sekaligus berfungsi sebagai sarana untuk menjaring bibit-bibit atlet renang perairan terbuka yang memiliki potensi untuk dibina lebih lanjut.
Pihak penyelenggara berencana mengadakan seri serupa di berbagai daerah, seperti Belitung, Lombok, Danau Toba, dan Labuan Bajo, sebagai langkah untuk mendukung promosi wisata olahraga.
“Negara lain sudah mempunyai spesialisasi (renang) perairan terbuka karena membeda keahlian, teknik dan cara yang berbeda. Momentum kejuaraan Asia menjadi amplifikasi untuk menarik banyak peminat, berarti banyak bibit yang bisa dijaring,” ujar Harlin.
Penyelenggaraan di pesisir InterContinental Jimbaran tahun ini merupakan yang kedua kalinya setelah sukses digelar pada 2024, di mana level Asia Tenggara kala itu diikuti oleh lima negara.
Lokasi tersebut dinilai ideal dan memudahkan pengawasan karena bentuk perairannya menyerupai teluk, tidak dangkal, serta bebas dari karang, sehingga mendukung kelancaran pergerakan para atlet.