Dampak Suku Bunga & Rupiah Lesu, Strategi Summarecon (SMRA)

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:44:31 WIB
PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA). (Foto: NET)

JAKARTA — Tren peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia di saat nilai tukar rupiah tertekan, dipandang menciptakan tekanan ganda terhadap performa PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA). 

Direktur Summarecon, Lydia Tjio, menjelaskan bahwa lonjakan suku bunga acuan berdampak pada berbagai komponen biaya pendanaan, mulai dari suku bunga kredit perumahan (KPR), pinjaman bank, hingga biaya material bahan baku. 

Situasi ini diperumit oleh ketegangan geopolitik global serta pelemahan rupiah yang terus berlanjut.

Meskipun demikian, perusahaan masih terus memantau langkah dan kebijakan lanjutan dari pemerintah di tengah volatilitas mata uang saat ini. 

“Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan, akan cukup mengelola dengan prudent. Segala pengeluaran, efisiensi akan kami lakukan dalam segala bidang,” ujarnya dalam sesi paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026).

Sejalan dengan hal tersebut, Presiden Direktur Summarecon, Adrianto Pitojo Adi, menyampaikan bahwa meski kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan KPR, kebijakan ini sekaligus memberikan penguatan bagi rupiah. 

Pihak manajemen menaruh optimisme bahwa pemerintah akan kembali merilis insentif untuk memitigasi risiko dari kenaikan suku bunga tersebut. 

“Sehingga ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Sumamrecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu,” ucapnya.

Manajemen SMRA mengungkapkan bahwa selama periode Januari hingga Mei 2026, perseroan tetap memprioritaskan penjualan bagi segmen menengah dan menengah atas, yang dinilai memiliki daya tahan ekonomi lebih kuat.

Sepanjang kuartal I/2026, SMRA membukukan pendapatan sebesar Rp2,23 triliun, tumbuh 6,1% dari Rp2,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp189,76 miliar, turun 20,3% dari Rp238,22 miliar di tahun sebelumnya.

Adhi menambahkan bahwa perseroan terus fokus pada pengembangan sembilan kawasan township sepanjang tahun ini. Perusahaan berharap daya beli masyarakat, khususnya di segmen menengah, dapat berangsur pulih. 

“Kami berharap pada tahun ini akan adanya pemulihan daya beli di segmen kelas menengah yang sebelumnya menghadapi tantangan,” tambahnya.

Terkini