Menaker Soroti Perlindungan Pekerja di ILC ke-114 Jenewa

Selasa, 09 Juni 2026 | 01:15:32 WIB
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli. [Foto: NET]

JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menitikberatkan krusialnya aspek keahlian, kesempatan kerja, serta proteksi yang layak bagi tenaga kerja di era disrupsi kecerdasan buatan (AI) pada agenda Konferensi Perburuhan Internasional (ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.

Menaker lewat pernyataan resmi yang diperoleh di Jakarta, Selasa (9/6/2026), menyebutkan bahwa akselerasi teknologi tidak boleh menyingkirkan para pekerja.

Maka dari itu, pihak Indonesia menjadikan peningkatan kompetensi, pembukaan lapangan kerja baru, serta proteksi ketenagakerjaan sebagai fokus utama dalam menyongsong masa depan dunia kerja.

“Perubahan teknologi tidak boleh membuat pekerja tertinggal. Karena itu, Indonesia menyiapkan keterampilan, memperluas peluang kerja, dan memperkuat pelindungan pekerja agar masyarakat tetap memiliki masa depan kerja yang layak,” kata Yassierli.

Sesuai penuturan Yassierli, persoalan tersebut sangat krusial bagi publik lantaran dinamika dunia kerja saat ini telah mengintervensi metode kerja, proses pencarian kerja, hingga resiliensi di pasar kerja.

Generasi muda, sambung Yassierli, memerlukan jam terbang kerja, para lulusan institusi pendidikan butuh pelatihan yang sesuai, sedangkan para buruh di industri digital dan area rawan membutuhkan jaminan proteksi yang lebih kokoh.

Kemudian, pada forum internasional itu, Menaker memaparkan bahwa berdasarkan instruksi Presiden Prabowo Subianto, eskalasi kapasitas tenaga kerja masa depan telah ditetapkan sebagai fokus utama negara.

Langkah konkretnya direalisasikan lewat agenda Magang Nasional yang ditujukan bagi para lulusan universitas demi mendapatkan pengalaman kerja selama setengah tahun, lengkap dengan insentif uang saku dari kas negara.

Yassierli mengemukakan, agenda Magang Nasional tercatat sudah menyerap 100.000 partisipan pada tahun kemarin dan diproyeksikan naik menjadi 150.000 partisipan pada tahun berjalan ini.

Bukan hanya itu, otoritas pemerintah pun mengesahkan Agenda Pelatihan Vokasi Nasional bagi para lulusan sekolah menengah tingkat atas dan sederajat, dengan mematok target sebanyak 300.000 partisipan.

“Program-program ini juga memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat dari wilayah terpencil dan perbatasan,” ujar Yassierli.

Yassierli mengimbuhkan, eskalasi kompetensi tersebut wajib bergerak selaras dengan ketersediaan lapangan pekerjaan baru.

Di samping urusan kapasitas dan penyediaan lapangan kerja, Indonesia pun memosisikan jaminan proteksi buruh sebagai komponen esensial dari visi kerja yang layak.

Menaker menyodorkan dokumen ratifikasi Konvensi ILO Nomor 188 mengenai Pekerjaan dalam Sektor Penangkapan Ikan, yang merepresentasikan determinasi Indonesia terhadap kelayakan kerja, higienitas, serta keselamatan para buruh, tak terkecuali para kru kapal perikanan.

Indonesia dipastikan mengantongi progres positif dalam perancangan regulasi domestik bagi para pekerja di ranah platform digital. Yassierli menegaskan, proteksi sekaligus kemakmuran pekerja platform menjadi elemen vital dari langkah tanggap Indonesia atas ekspansi ekonomi digital serta pergeseran tren kerja.

Yassierli pun mengutarakan kesiapan pihak Indonesia untuk menjalin sinergi dengan ILO beserta jajaran mitra global, termasuk dalam urusan penyusunan modul pelatihan vokasi, penyediaan sentra pelatihan khusus bagi kaum disabilitas, hingga pemberian penguatan bagi para korban pemutusan hubungan kerja serta elemen masyarakat yang rentan tersisih.

Dalam koridor kerja layak dan pemenuhan keadilan sosial di kancah global, Yassierli menegaskan kembali bentuk solidaritas penuh Indonesia bagi warga Palestina.

Indonesia berkomitmen terus menyokong ILO Emergency Response Programme demi mengembalikan roda pekerjaan, sumber penghidupan, serta stabilitas institusi ketenagakerjaan di kawasan Arab yang tengah berada dalam masa pendudukan.

Terkini