JAKARTA - Kawasan Nusantara kini tidak hanya menjadi pusat pembangunan infrastruktur pemerintahan, tetapi juga mulai membuktikan taji di sektor kedaulatan pangan.
Sebuah pencapaian signifikan baru saja dicatatkan di tanah Kalimantan Timur melalui integrasi riset akademis dan kerja keras masyarakat lokal. Kolaborasi antara Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan melibatkan langsung kelompok petani, berhasil menghasilkan panen padi gogo seluas 20 hektare di kawasan Nusantara, tepatnya di Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Keberhasilan ini merupakan sinyal positif bahwa lahan di sekitar wilayah ibu kota baru memiliki potensi besar untuk dikelola secara produktif dengan pendekatan teknologi yang tepat. Fokus pada padi gogo—varietas padi yang tidak memerlukan penggenangan air seperti sawah irigasi—menjadi pilihan strategis mengingat karakteristik lahan di wilayah tersebut.
Langkah Awal Inovasi Pertanian di Ibu Kota
Perayaan atas keberhasilan ini dilakukan melalui prosesi panen yang penuh syukur. Pemerintah melihat ini bukan sekadar aktivitas pertanian biasa, melainkan tonggak sejarah bagi kemandirian pangan di kawasan penyangga.
"Kamis (9/4) kemarin kami melakukan seremoni panen bersama dengan petani dan pihak terkait, sebagai rasa syukur atas keberhasilan kelompok tani dalam mengembangkan padi gogo seluas 20 hektare sebagai uji coba tahap awal pengembangan inovasi pertanian," ujar Kepala OIKN Basuki Hadimuljono di Nusantara, Jumat.
Melalui uji coba ini, pemerintah ingin memastikan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduk Nusantara di masa depan dapat disokong oleh produksi lokal. Basuki menjelaskan bahwa berdasarkan laporan yang ia terima, produksi padi gogo yang telah dikembangkan itu menunjukkan sejumlah keunggulan, termasuk dari sisi kualitas rasa yang lebih pulen, nikmat, dan lebih gurih dibandingkan dengan varietas beras lainnya.
Kualitas rasa yang unggul ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi beras hasil produksi petani lokal, sehingga mampu bersaing di pasar nasional. Basuki pun mengapresiasi langkah serta semangat inovasi yang dijalankan oleh kelompok tani bersama berbagai pihak terkait dalam pengembangan pertanian tersebut. Panen padi gogo bersama di Demplot Pertanian Konservasi Kelompok Tani Mekar Jaya, Muara Jawa, lanjut Basuki, menandai langkah awal pengembangan sektor pertanian inovatif di kawasan Nusantara.
Detail Varietas dan Produktivitas Lahan
Inovasi yang diusung dalam proyek ini melibatkan penggunaan varietas unggul hasil riset IPB yang telah disesuaikan dengan kondisi iklim dan tanah setempat. Hasilnya terbukti memuaskan dari sisi kuantitas maupun kualitas. Apresiasi tersebut juga diberikan terhadap hasil produksi padi gogo dengan varietas IPB 9G yang mampu menghasilkan gabah kering panen (GKP) sebesar 4,22 ton per hektare. Angka ini dianggap sangat kompetitif untuk jenis padi lahan kering yang ditanam di kawasan konservasi.
Adapun rincian lahan yang digunakan dalam tahap pengujian ini adalah sebagai berikut:
Varietas IPB 9G dikembangkan pada lahan seluas 5 hektare.
Varietas lokal ditanam pada lahan seluas 15 hektare.
Total keseluruhan lahan uji coba pada demplot tersebut mencapai 20 hektare.
Perbandingan antara varietas unggul IPB dan varietas lokal ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas teknologi pertanian terbaru terhadap hasil pertanian tradisional yang selama ini sudah ada. Dengan hasil mencapai 4,22 ton GKP per hektare, varietas IPB 9G menunjukkan potensi besar untuk direplikasi pada lahan yang lebih luas di sekitar kawasan Nusantara.
Evaluasi dan Keberlanjutan Program ke Depan
Keberhasilan panen seluas 20 hektare ini tidak lantas membuat pemerintah berpuas diri. Evaluasi mendalam tengah dilakukan untuk memetakan langkah ekspansi pertanian di tahun-tahun mendatang. Sementara Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN Myrna Asnawati Safitri, menyampaikan hasil kegiatan panen tersebut sebagai bagian dari evaluasi pengembangan demplot pertanian di Kelurahan Muara Jawa Ulu, Kecamatan Muara Jawa, ke depan.
Data yang terkumpul dari masa tanam hingga panen akan menjadi landasan kebijakan dalam menentukan jenis tanaman dan teknik konservasi yang paling cocok untuk wilayah Kalimantan. Myrna juga menyampaikan rasa syukur atas kerja keras seluruh tim lapangan yang terlibat.
"Kami sudah menyelesaikan panen tanaman terakhir dari hasil uji coba yang dilakukan bersama-sama di Demplot Muara Jawa. Dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sudah melaporkan mengenai hasil panen. Alhamdulillah sudah memenuhi harapan kami sebelumnya," ujarnya.
Myrna turut menekankan bahwa hasil panen padi gogo ini merupakan bagian dari inovasi pertanian yang telah diuji dalam kurun waktu empat bulan terakhir, yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan IPB. Durasi empat bulan tersebut membuktikan bahwa siklus produksi padi di lahan kering Nusantara dapat berjalan optimal jika didukung oleh sistem penyuluhan yang intensif dan pemilihan benih yang tepat.
Dengan berakhirnya panen tahap awal ini, OIKN berkomitmen untuk terus memperluas area pertanian konservasi. Targetnya adalah menjadikan Nusantara sebagai kota yang hijau namun tetap mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri secara mandiri dan berkelanjutan, melalui optimalisasi lahan-lahan di wilayah sekitar seperti Muara Jawa.