Kinerja Emiten Rokok Diproyeksi Positif di 2026, Simak Rekomendasi Saham HMSP GGRM

Jumat, 10 April 2026 | 10:23:25 WIB
Kinerja Emiten Rokok Diproyeksi Positif di 2026, Simak Rekomendasi Saham HMSP GGRM

JAKARTA - Perkembangan industri tembakau nasional mulai menunjukkan arah baru menjelang 2026. 

Dalam laporan terbaru, kinerja emiten rokok diproyeksi positif di 2026 meskipun sepanjang tahun sebelumnya diwarnai tekanan dari sisi penjualan. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar, terutama bagi investor yang mencermati peluang dari saham-saham sektor konsumsi.

Dua emiten besar, yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM), mencatatkan dinamika kinerja yang cukup kontras sepanjang 2025. Meski berada dalam industri yang sama, keduanya menunjukkan arah pertumbuhan laba yang berbeda.

Perbandingan Kinerja HMSP dan GGRM

Sepanjang 2025, HMSP membukukan laba bersih sebesar Rp 6,61 triliun. Angka ini mengalami penurunan tipis sebesar 0,54% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6,64 triliun.

Di sisi lain, GGRM justru mencatatkan lonjakan laba yang signifikan. Emiten ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,56 triliun atau naik 58,69% dari Rp 980,8 miliar pada tahun sebelumnya.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun berada dalam sektor yang sama, strategi dan kondisi internal perusahaan sangat memengaruhi hasil akhir kinerja keuangan.

Tekanan Penjualan Industri Rokok

Meski mencatat perbedaan laba, kedua emiten tersebut menghadapi tantangan serupa dari sisi penjualan. Penurunan volume penjualan menjadi indikator bahwa permintaan industri rokok belum sepenuhnya pulih.

Kondisi ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen serta tekanan ekonomi yang memengaruhi daya beli. Selain itu, tren downtrading atau peralihan ke produk yang lebih murah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja sektor ini.

Faktor Penentu Perbedaan Laba

Analis menilai bahwa perbedaan kinerja antara HMSP dan GGRM lebih dipengaruhi oleh faktor non-operasional serta efisiensi biaya.

GGRM dinilai mampu meningkatkan laba berkat langkah efisiensi yang efektif, bukan karena peningkatan permintaan. Sementara itu, HMSP menghadapi tekanan dari lonjakan pajak satu kali serta penurunan pendapatan bunga.

“Jika dilihat dari kinerja operasional inti, laba bersih HMSP pada kuartal III justru tumbuh 24,9% YoY, menandakan pemulihan profitabilitas inti yang sesungguhnya sedang berjalan,” ujar Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand.

Dari sisi struktur bisnis, HMSP dinilai lebih rentan terhadap tekanan margin akibat pergeseran konsumsi dan struktur biaya yang relatif kaku. Sebaliknya, GGRM mendapatkan keuntungan dari efisiensi serta basis laba yang rendah pada periode sebelumnya.

Proyeksi Industri Rokok di 2026

Memasuki tahun 2026, kinerja emiten rokok diproyeksi positif di 2026 seiring dengan stabilisasi industri. Salah satu faktor yang menjadi sentimen positif adalah tidak adanya kenaikan cukai.

Kondisi ini diharapkan dapat menjaga margin perusahaan sekaligus membantu daya beli konsumen. Namun demikian, tantangan masih tetap ada, terutama dari sisi penurunan volume penjualan dan peredaran rokok ilegal.

Pengetatan distribusi rokok ilegal sejak Oktober 2025 dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung pemulihan volume penjualan legal. Meski begitu, proses pemulihan diperkirakan berlangsung secara bertahap.

Proyeksi Kinerja HMSP dan GGRM

Secara proyeksi, HMSP memiliki potensi untuk mencatat pertumbuhan laba dua digit. Hal ini didorong oleh efek basis rendah serta kondisi cukai yang relatif stabil.

Sementara itu, GGRM diperkirakan tetap melanjutkan tren pemulihan, meskipun pertumbuhannya tidak terlalu agresif karena belum didukung oleh permintaan yang kuat.

Pendapatan kedua emiten diperkirakan hanya tumbuh tipis, berada pada kisaran low hingga mid single digit. Pertumbuhan ini sejalan dengan proses normalisasi industri dan perbaikan margin yang berlangsung secara bertahap.

Rekomendasi Saham HMSP dan GGRM

Dari perspektif investasi, analis menyarankan pendekatan yang lebih selektif dalam memilih saham di sektor ini.

HMSP

Saham HMSP dinilai lebih cocok untuk strategi hold. Karakter defensif serta potensi dividen yang stabil menjadi daya tarik utama bagi investor.

Target harga jangka pendek diperkirakan berada di kisaran Rp 850 hingga Rp 900. Namun, potensi kenaikan harga masih terbatas selama tekanan margin belum sepenuhnya mereda.

GGRM

Berbeda dengan HMSP, saham GGRM dinilai lebih menarik untuk strategi buy on weakness. Investor dapat memanfaatkan momentum koreksi harga untuk masuk.

Target harga jangka pendek berada di kisaran Rp 15.500 hingga Rp 17.000. Meski demikian, risiko dari lemahnya permintaan tetap perlu diperhatikan.

Kesimpulan dan Outlook Investasi

Secara keseluruhan, kinerja emiten rokok diproyeksi positif di 2026 dengan catatan adanya stabilisasi industri dan dukungan kebijakan yang lebih kondusif.

Meski peluang tetap terbuka, investor perlu mencermati sejumlah faktor risiko, seperti perubahan pola konsumsi dan peredaran rokok ilegal yang masih menjadi tantangan utama.

Pergerakan saham HMSP dan GGRM ke depan akan sangat bergantung pada keberhasilan industri dalam mengatasi tekanan tersebut. Dengan strategi yang tepat, kedua saham ini tetap memiliki potensi untuk memberikan imbal hasil yang menarik di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Terkini