BTN Salurkan Kredit Program Perumahan Rp2,17 Triliun Hingga Maret 2026

Jumat, 10 April 2026 | 10:23:18 WIB
BTN Salurkan Kredit Program Perumahan Rp2,17 Triliun Hingga Maret 2026

JAKARTA - Upaya mendorong pertumbuhan sektor perumahan terus dilakukan oleh PT Bank Tabungan Negara (BTN) melalui berbagai skema pembiayaan. 

Hingga Maret 2026, kontribusi tersebut semakin terlihat nyata melalui realisasi Kredit Program Perumahan (KPP) yang menyentuh berbagai lapisan ekosistem, mulai dari pengembang hingga masyarakat sebagai pengguna akhir.

Kinerja ini menunjukkan bahwa Kredit Program Perumahan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan, tetapi juga menjadi penghubung antara sisi pasokan dan permintaan dalam industri properti nasional. Dengan pendekatan yang semakin terintegrasi, BTN berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat.

Realisasi Kredit Program Perumahan BTN

Hingga Maret 2026, BTN mencatatkan realisasi penyaluran Kredit Program Perumahan dengan total plafon mencapai sekitar Rp 2,17 triliun. Penyaluran tersebut diberikan kepada lebih dari 3.291 debitur.

Angka ini mencerminkan peran aktif BTN dalam memperkuat sektor perumahan nasional, terutama melalui dukungan pembiayaan yang menyasar berbagai segmen dalam rantai industri properti.

Penyaluran dari Sisi Supply

Dari sisi pasokan, Kredit Program Perumahan BTN difokuskan untuk mendukung pelaku usaha di sektor konstruksi dan pengembangan perumahan.

Secara rinci, penyaluran KPP dari sisi supply mencapai sekitar Rp 1,47 triliun kepada 399 debitur. Pembiayaan ini difokuskan pada pengembang, kontraktor, serta penyedia bahan bangunan.

Dukungan ini menjadi penting karena keberlangsungan pembangunan perumahan sangat bergantung pada kesiapan sektor supply dalam menyediakan hunian yang layak dan terjangkau.

Penyaluran dari Sisi Demand

Sementara itu, dari sisi permintaan, BTN juga menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat yang membutuhkan hunian.

Penyaluran dari sisi demand mencapai sekitar Rp 700 miliar kepada 2.892 debitur. Dana tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembelian rumah, pembangunan, hingga renovasi.

Skema ini memperlihatkan bagaimana Kredit Program Perumahan mampu memperkuat keterhubungan antara sisi supply dan demand dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat BTN

Selain fokus pada sektor perumahan, BTN juga aktif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hingga Maret 2026, penyaluran KUR BTN tercatat mencapai sekitar Rp 2,72 triliun. Komposisi penyaluran tersebut terbagi sebagai berikut:

KUR kecil sebesar Rp 2,04 triliun (75%)

KUR mikro sebesar Rp 687 miliar (25%)

Penyaluran KUR ini didominasi oleh beberapa sektor utama, yaitu perdagangan besar dan eceran sebesar 59,22%, diikuti sektor akomodasi dan makanan minuman sebesar 12,36%, serta konstruksi sebesar 10,08%.

Selain itu, BTN juga mencatat adanya peningkatan kapasitas usaha debitur melalui program KUR naik kelas sebanyak 4.719 debitur. Program ini mencakup peralihan dari KUR mikro ke KUR kecil serta peningkatan plafon pembiayaan.

Transformasi BTN dan Pendekatan Beyond Mortgage

Seiring dengan perkembangan bisnis, BTN terus melakukan transformasi untuk memperluas perannya di luar pembiayaan KPR konvensional.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan bahwa saat ini BTN tidak hanya berfokus pada pembiayaan KPR, tetapi juga mengembangkan pendekatan beyond mortgage.

"Salah satu inisiatif utama yang dikembangkan adalah platform digital Bale Properti, yang menghadirkan layanan terintegrasi mulai dari pencarian hunian hingga proses pembiayaan secara end-to-end," ungkap Nixon saat media breafing di Bandung.

Pendekatan ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan layanan digital.

Peran Platform Digital Bale Properti

Platform Bale Properti menjadi salah satu inovasi utama BTN dalam memperkuat layanan berbasis digital.

Melalui platform ini, BTN telah memfasilitasi lebih dari 521 listing properti. Selain itu, jumlah pengajuan KPR secara online mencapai rata-rata 780 aplikasi per bulan.

BTN juga telah menjalin kerja sama dengan 426 mitra, yang terdiri dari pengembang dan agen properti.

Dengan sistem digital ini, proses pengajuan KPR dapat dilakukan lebih cepat, dengan waktu pemrosesan rata-rata hanya sekitar 3 hari. Hal ini sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan perumahan.

Inovasi Berbasis Keberlanjutan

Selain transformasi digital, BTN juga mulai mengintegrasikan aspek keberlanjutan dalam layanan pembiayaannya.

Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah program pembayaran angsuran KPR berbasis pengelolaan sampah. Program ini memungkinkan nasabah untuk tetap memenuhi kewajiban pembayaran sekaligus berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan.

Langkah ini menunjukkan bahwa Kredit Program Perumahan tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga mulai memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.

Penguatan Ekosistem melalui BTN Housingpreneur

BTN juga mengembangkan program BTN Housingpreneur sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem perumahan dari sisi supply.

Program ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pengembang, khususnya skala kecil dan menengah.

Melalui inisiatif ini, BTN berharap dapat menciptakan ekosistem perumahan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, realisasi Kredit Program Perumahan BTN hingga Maret 2026 menunjukkan peran strategis perusahaan dalam mendorong pertumbuhan sektor properti nasional. Dengan kombinasi pembiayaan, transformasi digital, dan inovasi berkelanjutan, BTN terus memperkuat posisinya sebagai motor penggerak dalam ekosistem perumahan di Indonesia.

Terkini