Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 10 April 2026

Jumat, 10 April 2026 | 10:23:08 WIB
Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 10 April 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan pada perdagangan Jumat, 10 April 2026. 

Setelah sebelumnya cenderung stagnan, rupiah kini diperkirakan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Tekanan eksternal dan sentimen global menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pergerakan mata uang domestik.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini diproyeksikan akan ditutup di kisaran Rp17.090 hingga Rp17.140 per dolar AS. Proyeksi ini mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar, meskipun sebelumnya rupiah sempat bertahan stabil.

Mengutip data Tradingview pada Kamis, 9 April 2026, rupiah ditutup stagnan pada level Rp17.087 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah 0,08% ke posisi 99,05. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun dolar AS sedikit melemah, rupiah belum mampu menguat secara signifikan.

Pergerakan Mata Uang Global

Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika mata uang global. Sejumlah mata uang utama di kawasan Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Berikut pergerakan beberapa mata uang lainnya:

Yen Jepang melemah 0,30%

Yuan China turun 0,13%

Dolar Singapura melemah 0,13%

Won Korea Selatan turun 0,16%

Dolar Hong Kong turun 0,02%

Dolar Taiwan melemah 0,07%

Ringgit Malaysia melemah 0,25%

Peso Filipina melemah 0,49%

Baht Thailand turun 0,14%

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional terjadi secara merata. Hal ini menandakan adanya sentimen global yang cukup kuat memengaruhi pasar keuangan.

Faktor Geopolitik Tekan Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan ketegangan geopolitik kembali meningkat di Timur Tengah. Hal ini mengaburkan prospek migas, karena jalur penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global sebagian besar tetap terblokir meskipun ada gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.

Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses. Kondisi ini membuat pasar energi global berada dalam ketidakpastian.

Sentimen pasar juga semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon, yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh. Iran mengatakan pembicaraan damai dengan AS akan tidak masuk akal setelah serangan terbaru, dengan alasan bahwa serangan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, yang memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz dan mengurangi hambatan pasokan. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemulihan belum sepenuhnya terjadi.

Para analis memperingatkan bahwa gangguan struktural pada rantai pasokan dan infrastruktur di seluruh wilayah tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini.

Kebijakan The Fed dan Dampaknya

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama pelaku pasar. Berdasarkan risalah FOMC bulan Maret yang dirilis pada hari Rabu, para pejabat Federal Reserve masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini.

Namun, keputusan tersebut diambil di tengah tingkat ketidakpastian yang tinggi akibat konflik Iran dan kebijakan tarif. Para pembuat kebijakan menyatakan bahwa mereka perlu tetap gesit dalam mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi dan kondisi tenaga kerja.

Inflasi di Amerika Serikat masih berada di atas target The Fed, sementara perekrutan tenaga kerja cenderung stagnan dalam satu tahun terakhir. Kombinasi faktor ini menciptakan ketidakpastian yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar global, termasuk rupiah.

Prospek Ekonomi Indonesia

Dari dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7%, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8%.

Meski mengalami revisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang berada di level 4,2%. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih relatif kuat di tengah tekanan global.

Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, di antaranya:

Konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi

Pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI)

Selain itu, OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,8% dari sebelumnya 5%. Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.

Kesimpulan Pergerakan Rupiah Hari Ini

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.090 hingga Rp17.140. Tekanan berasal dari berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga proyeksi ekonomi global.

Meskipun demikian, kondisi ini tidak hanya dialami oleh rupiah, tetapi juga oleh berbagai mata uang di kawasan Asia. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bersifat global.

Dengan dinamika yang terus berubah, pelaku pasar dan masyarakat perlu terus memantau perkembangan terbaru agar dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih tepat.

Terkini