PTBA Targetkan Pembangunan PLTU Mempawah 2027, Gandeng Mitra Global untuk Pendanaan dan Teknologi

Selasa, 07 April 2026 | 10:07:41 WIB
PTBA Targetkan Pembangunan PLTU Mempawah 2027, Gandeng Mitra Global untuk Pendanaan dan Teknologi

JAKARTA - Upaya memperkuat rantai pasok energi nasional terus dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Mempawah, Kalimantan Barat. 

Proyek ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mendukung hilirisasi industri sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis batu bara di tengah dinamika pasar global.

Saat ini, perusahaan masih berada dalam tahap penjajakan kerja sama dengan berbagai pihak untuk merealisasikan proyek tersebut. Targetnya, pembangunan fisik PLTU dapat dimulai pada awal 2027, setelah seluruh proses kemitraan dan perencanaan selesai.

Tahap Pencarian Mitra Strategis Masih Berlangsung

PTBA melalui jajaran direksi mengungkapkan bahwa proses pemilihan mitra masih terus berjalan. Perusahaan tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah calon mitra internasional yang berasal dari China, Korea Selatan, hingga Jepang.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menyampaikan bahwa kolaborasi ini mencakup aspek teknologi maupun pendanaan. "Kami masih dalam proses mencari mitra untuk proyek ini. Awal 2027 sudah mulai pembangunan fisik,” ujarnya.

Kehadiran mitra strategis dinilai sangat penting untuk memastikan proyek berjalan optimal, baik dari sisi teknis maupun pembiayaan. Dengan menggandeng pihak internasional, perusahaan berharap dapat menghadirkan pembangkit listrik dengan standar tinggi dan efisiensi maksimal.

Dukung Operasional Smelter Aluminium Inalum

PLTU Mempawah dirancang sebagai pemasok energi utama bagi smelter aluminium yang dikembangkan oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Proyek ini menjadi bagian dari integrasi industri yang bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri.

Dengan kapasitas mencapai 1,25 gigawatt (GW), pembangkit ini akan menopang operasional smelter yang ditargetkan mampu memproduksi hingga 600.000 ton aluminium per tahun. Ketersediaan energi yang stabil menjadi faktor krusial dalam mendukung kelancaran produksi di sektor industri berat seperti aluminium.

Selain itu, proyek ini juga menjadi solusi untuk memastikan pemanfaatan batu bara berkalori rendah tetap berkelanjutan. Dengan demikian, PTBA dapat menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan dalam jangka panjang.

"Kebutuhan batu bara diperkirakan mencapai sekitar 6,9 juta ton per tahun dan akan kami amankan selama 30 tahun,” imbuhnya.

Dampak Proyek terhadap Strategi Keuangan

Pengembangan proyek PLTU Mempawah turut memengaruhi kebijakan keuangan perusahaan, terutama dalam hal pengelolaan arus kas dan pembagian dividen. PTBA menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan investasi dan imbal hasil bagi pemegang saham.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA, Una Lindasari, menjelaskan bahwa proyek-proyek strategis yang mulai berjalan akan menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan keuangan.

“Kami harus menyeimbangkan antara kebutuhan investasi dan dividen. Tahun ini ada beberapa proyek yang mulai berjalan, terutama pembangunan pembangkit listrik di Mempawah, sehingga kondisi arus kas menjadi pertimbangan utama,” jelasnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial, dengan mempertimbangkan keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Kinerja Keuangan Tertekan, Operasional Tetap Tumbuh

Di tengah rencana ekspansi tersebut, PTBA mencatat penurunan laba bersih pada 2025. Perusahaan membukukan laba sebesar Rp2,93 triliun, turun 42,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,1 triliun.

Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya harga batu bara global. Indeks Newcastle Coal tercatat turun hingga 22%, sementara Indonesia Coal Index 3 mengalami penurunan sebesar 16%.

Meski demikian, perusahaan masih mampu mencatatkan EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin 14%. Selain itu, perbaikan profitabilitas secara kuartalan tetap terlihat, didorong oleh optimalisasi ekspor serta efisiensi biaya operasional.

Dari sisi operasional, kinerja perusahaan justru menunjukkan tren positif. Produksi batu bara meningkat 9% secara tahunan, sementara volume penjualan naik 6%. Namun, harga jual rata-rata mengalami penurunan sebesar 6% seiring kondisi pasar global.

Efisiensi dan Ekspansi Jadi Kunci Ke Depan

Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyampaikan bahwa perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp42,65 triliun pada 2025, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, peningkatan volume operasional juga mendorong naiknya beban pokok pendapatan sebesar 5% menjadi Rp36,39 triliun.

Meski begitu, efisiensi tetap menjadi fokus utama perusahaan. Hal ini terlihat dari penurunan stripping ratio menjadi 6,07 kali dari sebelumnya 6,23 kali. Selain itu, volume angkutan batu bara juga meningkat dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton.

Ke depan, PTBA berkomitmen untuk menjaga ketahanan energi nasional melalui pasokan ke pasar domestik yang mencapai lebih dari separuh total penjualan. Perusahaan juga akan terus mengombinasikan strategi efisiensi biaya dengan ekspansi pasar global.

"Ke depan, perseroan juga akan mengkombinasikan strategi efisiensi biaya dengan ekspansi pasar global guna menjaga kinerja di tengah volatilitas harga komoditas," tuturnya.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, PTBA menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi tantangan industri sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan di sektor energi dan hilirisasi.

Terkini