JAKARTA - Upaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Barat terus dilakukan agar masyarakat yang terdampak dapat segera kembali menjalani kehidupan dengan lebih layak.
Salah satu langkah penting yang sedang dipercepat pemerintah daerah adalah penyelesaian pembangunan hunian sementara atau huntara bagi warga yang rumahnya rusak akibat bencana.
Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat menargetkan seluruh pembangunan huntara di wilayah tersebut dapat selesai dalam waktu dekat. Penyelesaian hunian ini diharapkan dapat memberikan tempat tinggal sementara yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat penyintas bencana yang selama ini masih mengungsi.
Fokus utama pembangunan saat ini berada di Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, yang merupakan salah satu wilayah terdampak bencana. Di desa tersebut, sejumlah unit huntara sedang dipercepat penyelesaiannya agar dapat segera ditempati oleh warga yang membutuhkan tempat tinggal sementara.
“Targetnya sebelum Idul Fitri ini masyarakat korban bencana sudah bisa menempati huntara,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Ronald, Senin.
Pemerintah Kejar Penyelesaian Huntara Sebelum Lebaran
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menargetkan seluruh pembangunan hunian sementara di wilayah tersebut dapat diselesaikan dalam bulan ini. Target ini ditetapkan agar para penyintas bencana tidak lagi harus tinggal di tenda pengungsian atau menumpang di rumah keluarga ketika Hari Raya Idul Fitri tiba.
Upaya percepatan pembangunan terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan bencana. Hal ini bertujuan untuk memastikan masyarakat yang terdampak dapat segera memperoleh tempat tinggal sementara yang layak.
Teuku Ronald menjelaskan bahwa pembangunan huntara bagi masyarakat korban bencana hingga saat ini masih terus dipacu. Dengan demikian, pemerintah berharap tidak ada lagi warga yang harus tinggal di tenda pengungsian ketika momentum Lebaran tiba.
“Targetnya seluruh unit huntara di Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, akan diselesaikan dalam bulan ini juga,” ujarnya.
Dengan tersedianya hunian sementara tersebut, para penyintas bencana diharapkan dapat menjalani kehidupan yang lebih stabil sambil menunggu proses pembangunan rumah permanen atau pemulihan tempat tinggal mereka di masa mendatang.
Sejumlah Huntara Sudah Mulai Diresmikan
Di tengah proses pembangunan yang masih berlangsung, sebagian unit huntara di Aceh Barat sebenarnya sudah mulai digunakan oleh masyarakat. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat sebelumnya telah meresmikan penggunaan sejumlah hunian sementara yang telah selesai dibangun.
Pada Selasa (10/3) pekan lalu, pemerintah daerah meresmikan enam unit huntara yang dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana bagi enam Kepala Keluarga di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen.
Peresmian ini menjadi langkah awal dalam proses pemindahan para penyintas bencana dari lokasi pengungsian menuju hunian sementara yang lebih layak. Dengan adanya huntara tersebut, warga yang sebelumnya tinggal di tenda atau menumpang di rumah kerabat dapat mulai menempati tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.
Pemerintah berharap penyelesaian unit-unit huntara lainnya dapat segera menyusul sehingga semakin banyak keluarga penyintas yang dapat memperoleh tempat tinggal sementara.
Fasilitas Huntara Dilengkapi Kebutuhan Dasar
Dalam pembangunan hunian sementara tersebut, pemerintah juga memperhatikan aspek kenyamanan dan kelayakan hidup bagi para penghuni. Setiap unit huntara tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung kebutuhan dasar.
Teuku Ronald menjelaskan bahwa setiap unit hunian sementara telah disiapkan dengan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan masyarakat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Untuk menjamin kenyamanan dan kelayakan hidup para penghuni, setiap unit huntara dilengkapi dengan tempat tidur, kompor, alat memasak, serta sejumlah peralatan pendukung lainnya. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu warga menjalani kehidupan yang lebih layak selama masa pemulihan pascabencana.
Penyediaan perlengkapan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan masyarakat yang menempati huntara tetap dapat menjalankan aktivitas rumah tangga secara normal.
Menurut Teuku Ronald, bantuan penyediaan huntara beserta perlengkapannya merupakan hasil kerja sama berbagai pihak yang turut berkontribusi dalam penanganan bencana di Aceh Barat.
Ia menyebutkan bahwa pembangunan dan penyediaan fasilitas tersebut melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BPBD Aceh Barat, Baitul Mal Aceh Barat, serta berbagai pihak terkait lainnya yang ikut membantu proses pemulihan pascabencana.
Kolaborasi tersebut dinilai sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana.
Ratusan Rumah Rusak Akibat Banjir Bandang
Pembangunan hunian sementara di Aceh Barat dilakukan sebagai respons terhadap dampak bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir tahun lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan rumah warga di sejumlah wilayah di kabupaten tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPBD Kabupaten Aceh Barat, bencana banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 telah menyebabkan ratusan rumah warga terdampak.
Secara keseluruhan, terdapat 122 rumah yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut. Tingkat kerusakan yang dialami rumah-rumah warga bervariasi, mulai dari kerusakan ringan hingga kerusakan berat.
Rinciannya, sebanyak 49 rumah mengalami kerusakan berat, sementara 24 rumah mengalami kerusakan sedang. Selain itu, terdapat pula 49 rumah yang dinyatakan mengalami kerusakan ringan.
Kerusakan tersebut membuat sebagian warga harus meninggalkan rumah mereka untuk sementara waktu dan tinggal di lokasi pengungsian. Oleh karena itu, pembangunan huntara menjadi salah satu solusi penting untuk menyediakan tempat tinggal sementara bagi para penyintas bencana.
Melalui percepatan pembangunan hunian sementara ini, pemerintah berharap seluruh warga yang terdampak dapat segera memperoleh tempat tinggal yang lebih layak. Dengan demikian, mereka dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih aman dan nyaman sambil menunggu proses pemulihan lebih lanjut pascabencana.