JAKARTA - Industri pupuk nasional memasuki fase pembaruan besar dalam beberapa tahun ke depan.
PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat kapasitas industri pupuk di dalam negeri. Upaya ini dilakukan melalui program revitalisasi pabrik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka menengah perusahaan hingga tahun 2029. Sejumlah proyek investasi telah disiapkan untuk memperbarui fasilitas produksi yang dinilai sudah berusia tua serta meningkatkan kemampuan produksi guna mendukung kebutuhan pupuk nasional, terutama pupuk bersubsidi.
Program revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada modernisasi teknologi, tetapi juga diarahkan untuk menekan biaya produksi serta meningkatkan efisiensi operasional di seluruh jaringan pabrik milik perusahaan.
Mayoritas Pabrik Pupuk Berusia Lebih dari 20 Tahun
Rencana revitalisasi ini dilatarbelakangi oleh kondisi sebagian besar fasilitas produksi pupuk milik perusahaan yang telah beroperasi cukup lama. Banyak pabrik yang sudah berumur lebih dari dua dekade sehingga dinilai membutuhkan pembaruan teknologi agar tetap kompetitif.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengatakan sebagian besar pabrik milik perusahaan telah beroperasi lebih dari dua dekade sehingga membutuhkan pembaruan teknologi dan peningkatan efisiensi.
“Pabrik-pabrik kita umurnya sudah tua. Jadi hampir 70% dari jumlah pabrik kita, dari sekitar 20 pabrik itu usianya sudah di atas 20 tahun. Kami melihat ini bukan hal yang baik, terlebih ini menyalahi prinsip bisnis. Karena dalam bisnis kita akan mendapatkan margin lebih besar jika dapat menghemat biaya yang kita keluarkan,” kata Yehezkiel dalam Pupuk Indonesia Media Iftar 2026 di Jakarta.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan untuk mempercepat program revitalisasi pabrik. Dengan pembaruan teknologi dan sistem produksi, diharapkan efisiensi operasional dapat meningkat secara signifikan.
Tujuh Proyek Revitalisasi Disiapkan hingga 2029
Sebagai bagian dari strategi pembaruan industri pupuk, Pupuk Indonesia telah menyiapkan tujuh proyek investasi yang akan dijalankan secara bertahap hingga 2029. Proyek-proyek tersebut tersebar di sejumlah wilayah yang menjadi pusat produksi pupuk nasional.
Sejumlah lokasi yang masuk dalam rencana revitalisasi antara lain berada di Aceh, Gresik, Bontang, hingga Kujang. Proyek tersebut mencakup pembangunan fasilitas baru serta peningkatan kapasitas pabrik yang telah beroperasi.
Adapun sejumlah proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pabrik sekaligus menambah kapasitas produksi agar kebutuhan pupuk nasional, khususnya pupuk subsidi, dapat terpenuhi.
“Dari tujuh proyek komitmen tersebut, kami memang menargetkan bahwa yang pertama harus ada efisiensi dari pabrik-pabrik kita. Kemudian yang kedua, kita bisa menambah kapasitas produksi sehingga nanti alokasi pupuk subsidi atau kuantum penyaluran pupuk subsidi bisa terpenuhi dari tambahan pabrik-pabrik tersebut,” terangnya.
Dengan bertambahnya kapasitas produksi, Pupuk Indonesia berharap pasokan pupuk di dalam negeri dapat lebih terjamin, terutama dalam mendukung sektor pertanian nasional.
Rincian Proyek Revitalisasi dan Pembangunan Pabrik
Yehezkiel merinci sejumlah proyek revitalisasi yang tengah disiapkan, antara lain pembangunan soda ash serta revamping pabrik amonia-urea (amurea) di Bontang, pembangunan pabrik NPK Ponska 6 di Gresik, proyek NPK Mitra di Kujang, serta pembangunan pabrik baru Pusri 3B di Palembang.
Selain itu, terdapat pula pembangunan pabrik amurea di Pusri serta proyek Kawasan Industri Pupuk Fakfak (KIPF) di Papua Barat.
Dia menjelaskan perkembangan proyek saat ini berada pada tahapan yang berbeda-beda. Beberapa proyek telah diresmikan maupun memulai tahap pembangunan awal, sementara lainnya masih dalam tahap persiapan.
“Sejauh ini progresnya yang sudah diresmikan itu proyek revamping yang ada di PKT. Kemudian tiga yang groundbreaking ada di NPK Mitra, kemudian soda ash, kemudian di KIPF. Sedangkan tiga lainnya itu masih persiapan proyek,” terangnya.
Perbedaan tahapan tersebut menunjukkan bahwa sebagian proyek telah memasuki fase pembangunan awal, sementara proyek lainnya masih dalam proses perencanaan serta persiapan teknis.
Target Groundbreaking dan Operasi Sebelum 2029
Pupuk Indonesia menargetkan seluruh proyek revitalisasi tersebut dapat berjalan sesuai jadwal dan mulai beroperasi secara bertahap sebelum tahun 2029.
“Jadi semuanya ditargetkan bisa groundbreaking dan beroperasi sebelum tahun 2029. Jadi itu komitmen kami untuk memastikan bahwa proyek revitalisasi industri pupuk nasional bisa berjalan,” tuturnya.
Target tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat industri pupuk nasional sekaligus memastikan ketersediaan pupuk bagi sektor pertanian.
Dalam catatan Bisnis, pemerintah berencana membangun tujuh pabrik pupuk baru dalam kurun waktu 5–10 tahun ke depan dengan total anggaran mencapai Rp50 triliun.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan langkah pembangunan pabrik pupuk baru ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi pupuk nasional.
Nantinya, lima di antara pabrik pupuk baru itu ditargetkan rampung paling lambat pada tahun 2029. Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, dia berharap biaya produksi dapat ditekan lebih dari seperempat dan ketergantungan pada bahan baku impor dapat dikurangi secara signifikan.
“Kita bisa mendirikan pabrik baru karena efisiensi yang lebih efektif tadi. Rancangan kita adalah membangun tujuh pabrik baru dalam 5–10 tahun. Dan Komutnya [Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia Sudaryono] mengatakan lima unit bisa diresmikan sebelum 2029. Dan ini adalah revolusi luar biasa,” kata Amran dalam konferensi pers Satu Tahun Kinerja Kabinet Merah Putih Sektor Pertanian di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Amran menjelaskan, saat ini pabrik pupuk lama yang menggunakan bahan baku gas memiliki tingkat efisiensi sekitar 43%. Sementara itu, pabrik baru diperkirakan hanya menggunakan 22%—23% bahan baku gas, atau hampir setengahnya dibandingkan pabrik lama.
Selain itu, Indonesia memiliki sekitar 12–13 pabrik pupuk yang beroperasi di dalam negeri. Selain membangun pabrik baru, pemerintah juga akan merevitalisasi pabrik pupuk yang telah berusia tua.