Penyaluran Kredit BCA Januari 2026 Capai Rp948,95 Triliun, Tumbuh 6,26 Persen

Jumat, 06 Maret 2026 | 12:38:02 WIB
Penyaluran Kredit BCA Januari 2026 Capai Rp948,95 Triliun, Tumbuh 6,26 Persen

JAKARTA - Perkembangan sektor perbankan nasional pada awal 2026 menunjukkan dinamika yang cukup positif. 

Salah satu indikatornya terlihat dari pertumbuhan penyaluran kredit yang terus meningkat di sejumlah bank besar, termasuk PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Hingga Januari 2026, bank swasta terbesar di Indonesia tersebut mencatat penyaluran kredit yang tetap tumbuh secara tahunan, menandakan aktivitas pembiayaan kepada dunia usaha dan masyarakat masih berjalan stabil.

Pertumbuhan kredit ini tidak hanya mencerminkan ekspansi bisnis perbankan, tetapi juga menunjukkan adanya permintaan pembiayaan dari berbagai sektor ekonomi. Dengan strategi penyaluran kredit yang dilakukan secara selektif dan terukur, BCA berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan pengelolaan risiko agar kinerja tetap berkelanjutan.

Penyaluran Kredit BCA Tumbuh pada Awal 2026

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatat penyaluran kredit bank only mencapai Rp948,95 triliun per Januari 2026. Angka tersebut meningkat 6,26% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp893,02 triliun.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa perseroan menyalurkan kredit ke berbagai segmen dan sektor secara pruden, sebagai salah satu upaya perusahaan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Per Januari 2026, kredit BCA secara bank only tumbuh 6,3% YoY mencapai Rp949 triliun,” kata Hera.

Pencapaian ini memperlihatkan bahwa aktivitas pembiayaan BCA masih menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, bank tetap mampu mempertahankan ekspansi kredit dengan pendekatan yang terukur.

Pertumbuhan Kredit Usaha Jadi Kontributor Utama

Dari sisi segmen kredit, Hera mengungkapkan bahwa kredit usaha tumbuh 9,9% YoY mencapai Rp756,5 triliun per Desember 2025. Penyaluran ini sejalan dengan komitmen BCA dalam mendukung perkembangan dunia usaha nasional.

Pertumbuhan kredit usaha menunjukkan adanya kebutuhan pembiayaan yang cukup besar dari pelaku bisnis di berbagai sektor. Dukungan pembiayaan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperluas aktivitas bisnis, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat daya saing di pasar.

Selain itu, pembiayaan yang diberikan kepada sektor usaha juga menjadi salah satu pendorong penting dalam menjaga perputaran ekonomi nasional. Dengan adanya dukungan kredit dari perbankan, dunia usaha memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang dan meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian.

Distribusi Kredit ke Berbagai Sektor Ekonomi

Sementara itu, penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan rumah tangga, pada periode yang sama.

Distribusi pembiayaan yang merata ke berbagai sektor tersebut menjadi bagian dari strategi bank untuk mendukung aktivitas ekonomi yang lebih luas. Sektor manufaktur, misalnya, berperan penting dalam mendukung produksi nasional dan rantai pasok industri. Sementara sektor perdagangan, restoran, dan hotel berkaitan erat dengan aktivitas konsumsi serta sektor pariwisata.

Selain sektor usaha, kredit juga disalurkan kepada segmen rumah tangga yang berkontribusi pada peningkatan konsumsi domestik. Dengan demikian, penyaluran kredit tidak hanya mendorong aktivitas bisnis tetapi juga menopang daya beli masyarakat.

Dalam penyaluran kredit, Hera memastikan bahwa BCA mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan berdasarkan aktivitas usaha debitur.

Pendekatan tersebut dilakukan agar pertumbuhan kredit tetap sehat serta tidak menimbulkan risiko yang berlebihan bagi bank.

Target Pertumbuhan Kredit BCA pada 2026

Seiring dengan tren pertumbuhan yang masih positif, BCA menargetkan ekspansi kredit yang lebih besar pada tahun ini.

“BCA menargetkan pertumbuhan total kredit sebesar 8%—10% pada 2026,” ujarnya.

Target tersebut menunjukkan optimisme perusahaan terhadap prospek ekonomi nasional serta potensi peningkatan aktivitas pembiayaan di berbagai sektor. Namun demikian, pencapaian target tersebut tetap akan mempertimbangkan kondisi ekonomi serta dinamika pasar keuangan.

Bank juga terus memperhatikan kualitas kredit yang disalurkan agar tetap terjaga. Dengan manajemen risiko yang disiplin, bank berharap ekspansi kredit dapat berjalan secara berkelanjutan.

Tantangan Industri Perbankan Menjaga Kualitas Kredit

Secara industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya mengungkapkan kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh sebesar 9,96% YoY menjadi Rp8.557 triliun, meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang tumbuh 9,63% YoY.

Pertumbuhan kredit pada Januari 2026 lebih ditopang oleh kredit bank BUMN yang tumbuh 13,43% YoY.

Pada saat yang sama, NPL gross meningkat dari 2,05% pada Desember 2025 menjadi 2,14% pada Januari 2026.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyampaikan, pertumbuhan kredit yang tetap tinggi tetapi diiringi kenaikan NPL menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan perlu tetap diimbangi dengan manajemen risiko yang hati-hati agar kualitas aset perbankan tetap terjaga.

Ke depan, Rizal mengatakan bahwa tantangan bagi industri perbankan adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas aset.

“Sehingga pertumbuhan kredit tidak hanya tinggi secara nominal, tetapi juga sehat dan mampu mendukung pemulihan ekonomi yang lebih inklusif,” kata Rizal.

Dengan kondisi tersebut, industri perbankan diharapkan mampu mempertahankan kinerja pembiayaan yang solid sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Pertumbuhan kredit yang sehat akan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat pemulihan ekonomi serta mendorong aktivitas usaha di berbagai sektor.

Terkini