Pertamina Siap Ekspansi Avtur Hijau ke Pasar Global, Kantongi Sertifikasi ISCC

Senin, 02 Maret 2026 | 13:16:12 WIB
Pertamina Siap Ekspansi Avtur Hijau ke Pasar Global, Kantongi Sertifikasi ISCC

JAKARTA - Langkah Indonesia untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok bahan bakar penerbangan rendah karbon dunia kian nyata. 

PT Pertamina (Persero) menegaskan kesiapannya memperluas pasar Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur hijau ke tingkat regional hingga global, dengan menjadikan sertifikasi internasional sebagai fondasi utama ekspansi.

Perusahaan pelat merah tersebut membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang terverifikasi secara global sebagai langkah memperluas pasar ke kawasan Eropa dan Asia-Pasifik. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok bahan bakar penerbangan rendah karbon dunia.

Komitmen tersebut tak sekadar rencana, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen sekaligus pemain aktif dalam transisi energi sektor aviasi.

Strategi Dekarbonisasi dan Daya Saing Global

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan pengembangan SAF menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendorong dekarbonisasi sektor aviasi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional. Komitmen tersebut dipaparkan dalam forum ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia.

“Forum ini mempertemukan produsen SAF global dan pelaku industri penerbangan. Kehadiran Pertamina menunjukkan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi bagian dari solusi global. Kami siap memasuki pasar global melalui SAF,” ujar Agung.

Menurut Agung, partisipasi dalam forum tersebut mencerminkan pengakuan terhadap kapasitas Indonesia sebagai produsen SAF berbasis limbah. Pengembangan bahan bakar berkelanjutan juga diposisikan sebagai kontribusi Indonesia dalam menekan emisi sektor penerbangan global.

Dengan menghadiri forum global tersebut, Pertamina sekaligus menunjukkan kesiapan untuk bersaing di pasar yang memiliki standar keberlanjutan dan regulasi ketat, khususnya di kawasan Eropa dan Asia-Pasifik.

Target Pasar Eropa dan Asia-Pasifik

Pertamina menargetkan pasar regional dan internasional di luar kebutuhan domestik. Perusahaan menyiapkan produk SAF agar memenuhi spesifikasi teknis, aspek keberlanjutan, serta standar internasional yang menjadi persyaratan ekspor.

“Di luar pasar domestik, kami menargetkan pasar penerbangan regional dan global, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Kami siapkan SAF agar mampu bersaing dari sisi spesifikasi teknis, keberlanjutan, maupun standar global,” kata Agung.

Langkah ini menandai orientasi ekspor yang lebih kuat, di mana SAF produksi dalam negeri diharapkan mampu memenuhi kebutuhan maskapai internasional yang kini semakin terdorong untuk menggunakan bahan bakar rendah emisi.

Selain memperluas akses pasar, strategi ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah industri energi nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi bersih global.

Sertifikasi ISCC Perkuat Kredibilitas

Untuk mendukung penetrasi pasar internasional, Pertamina memastikan seluruh rantai nilai SAF telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Sertifikasi tersebut mencakup pengumpulan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyimpanan dan distribusi guna menjamin ketertelusuran serta kepatuhan terhadap standar karbon global.

Sertifikasi ISCC menjadi modal penting dalam memastikan produk SAF Indonesia diakui secara internasional. Standar ini menuntut transparansi dan akuntabilitas pada setiap tahapan produksi, sehingga menjamin bahwa bahan bakar yang dihasilkan benar-benar memenuhi prinsip keberlanjutan.

Dengan adanya pengakuan tersebut, Pertamina memiliki landasan kuat untuk menembus pasar yang mensyaratkan bukti konkret pengurangan emisi dan praktik produksi yang bertanggung jawab.

Bangun Ekosistem SAF Terintegrasi

Pengembangan SAF juga diarahkan untuk membangun ekosistem terintegrasi yang menghubungkan pengumpulan bahan baku dari tingkat komunitas dengan kebutuhan pasar penerbangan internasional.

“Fokus kami bukan hanya produksi, tetapi membangun ekosistem SAF yang kredibel, terukur, dan diakui secara global, sekaligus menghubungkan pengumpulan bahan baku di Indonesia dengan pasar penerbangan dunia,” tegas Agung.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi energi yang dijalankan tidak berhenti pada aspek manufaktur, melainkan mencakup rantai pasok secara menyeluruh. Mulai dari sumber bahan baku berbasis limbah, proses pengolahan di kilang, hingga distribusi ke konsumen akhir di pasar global, seluruhnya dirancang dalam satu sistem terpadu.

Di internal perusahaan, pengembangan SAF menjadi bagian dari strategi transformasi bisnis melalui pendekatan dual growth. Pertamina mengoptimalkan aset kilang eksisting sekaligus membangun portofolio bisnis rendah karbon untuk jangka panjang.

“SAF bukan inisiatif yang berdiri sendiri, tetapi implementasi strategi dual growth kami, memaksimalkan aset kilang warisan sambil membangun bisnis rendah karbon yang dapat dikembangkan,” jelasnya.

Melalui strategi tersebut, Pertamina tidak hanya menjaga keberlanjutan bisnis energi konvensional, tetapi juga secara paralel memperkuat pijakan di sektor energi bersih. Ekspansi avtur hijau ke pasar global pun menjadi bagian penting dari visi jangka panjang perusahaan dalam mendukung transisi energi sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.

Terkini