BSDE Bidik Pra-Penjualan Rp10 Triliun pada 2026, Segmen Residensial Jadi Andalan Utama

Jumat, 27 Februari 2026 | 14:57:02 WIB
BSDE Bidik Pra-Penjualan Rp10 Triliun pada 2026, Segmen Residensial Jadi Andalan Utama

JAKARTA - Memasuki 2026, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) memilih menjaga ritme pertumbuhan dengan langkah terukur. 

Di tengah dinamika pasar properti yang masih diwarnai kehati-hatian investor, emiten properti ini membidik pra-penjualan (marketing sales) sebesar Rp 10 triliun. Sasaran tersebut dipatok dengan pendekatan konservatif, sembari mengandalkan penguatan segmen residensial sebagai motor utama penjualan.

Direktur BSDE Hermawan Wijaya mengatakan target 2026 dipatok setara dengan sasaran 2025 sebagai langkah realistis di tengah dinamika pasar. "Targetnya sama seperti tahun lalu, Rp 10 triliun. Kami tidak mau terlalu bombastis," ujarnya.

Keputusan mempertahankan target mencerminkan strategi perusahaan yang mengedepankan stabilitas dibanding ekspansi agresif. Apalagi, kondisi pasar properti masih dipengaruhi faktor eksternal, mulai dari sentimen investasi hingga daya beli konsumen.

Realisasi 2025 Lampaui Target

Sepanjang 2025, BSDE membukukan marketing sales Rp 10,04 triliun, sedikit melampaui target Rp 10 triliun. Capaian ini menjadi pijakan optimisme manajemen untuk mempertahankan target serupa pada 2026.

Realisasi tersebut ditopang oleh JV land sales Rp 2,12 triliun, segmen komersial Rp 3,72 triliun, dan residensial Rp 4,19 triliun. Komposisi ini menunjukkan kontribusi yang relatif seimbang antara pengembangan kawasan hunian dan komersial.

Namun demikian, manajemen mengakui 2025 menjadi periode menantang, terutama dari sisi investor. Penjualan residensial turun dari Rp 5,39 triliun pada 2024 menjadi Rp 4,19 triliun pada 2025 seiring investor bersikap lebih berhati-hati.

Penurunan tersebut mencerminkan perubahan perilaku pasar, di mana investor cenderung menunda keputusan pembelian. Meski begitu, permintaan dari end user tetap menunjukkan ketahanan.

Permintaan End User Tetap Terjaga

Di tengah perlambatan dari sisi investor, permintaan end user relatif terjaga. Faktor kebutuhan hunian yang terus ada menjadi penopang utama segmen residensial.

Selain itu, kondisi suku bunga yang rendah dan tenor pembiayaan yang lebih panjang turut memberikan dukungan bagi konsumen akhir. Skema pembiayaan yang lebih fleksibel membuat akses kepemilikan rumah menjadi lebih terjangkau.

Situasi ini menjadi dasar optimisme BSDE dalam memperkuat kembali kontribusi residensial pada 2026. Dengan pasar end user yang masih solid, perseroan melihat peluang untuk meningkatkan kembali angka penjualan di segmen tersebut.

Komposisi Target 2026 dan Andalan Proyek

Memasuki 2026, BSDE menargetkan kontribusi residensial sekitar Rp 5 triliun, disusul komersial Rp 3,50 triliun dan JV land sales Rp 1,50 triliun. Residensial kembali diposisikan sebagai penyumbang terbesar dalam struktur pra-penjualan.

Optimisme ini ditopang cadangan lahan yang luas sehingga perseroan lebih fleksibel mengatur komposisi produk. Dengan land bank yang memadai, BSDE dapat menyesuaikan tipe dan harga produk sesuai kebutuhan pasar.

Untuk residensial, BSD City ditargetkan menyumbang Rp 1,60 triliun atau 16% dari total target segmen residensial. Kontributor berikutnya adalah Nava Park Rp 1 triliun (10%) dan Grand Wisata Rp 700 miliar (7%).

Di segmen komersial, kawasan komersial BSD City diproyeksikan berkontribusi Rp 1,80 triliun atau 18% dari target komersial 2026. Proyek lain meliputi kawasan komersial di berbagai township di luar BSD City sekitar Rp 950 miliar (10%) serta Apartemen Southgate Rp 200 miliar (2%).

Komposisi ini menunjukkan bahwa BSD City tetap menjadi tulang punggung pengembangan, baik untuk hunian maupun area komersial. Sementara itu, township lain dan proyek apartemen memberikan diversifikasi pendapatan.

Peran Entitas Anak dan Peluang Kerja Sama

Selain proyek-proyek utama, entitas anak PT Suryamas Dutamakmur diharapkan menyumbang sekitar 3,5% dari total target pra-penjualan 2026. Kontribusi ini memperluas basis pendapatan sekaligus memperkuat portofolio pengembangan kawasan.

Di sisi lain, perseroan tetap membuka peluang kerja sama pengembangan kawasan dengan mitra lokal maupun asing. Strategi kolaborasi ini dinilai dapat mempercepat pengembangan sekaligus membagi risiko investasi.

Pendekatan konservatif dengan target Rp 10 triliun pada 2026 bukan berarti tanpa ambisi. Sebaliknya, langkah ini mencerminkan perhitungan matang berdasarkan pengalaman 2025 yang penuh tantangan. Dengan mengandalkan kekuatan residensial, dukungan permintaan end user, serta cadangan lahan yang luas, BSDE berupaya menjaga konsistensi kinerja di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Fokus pada produk hunian dan pengelolaan komposisi penjualan menjadi kunci untuk mempertahankan stabilitas marketing sales. Melalui strategi tersebut, perseroan menargetkan tetap mampu mencetak pra-penjualan Rp 10 triliun sepanjang 2026, sekaligus memperkuat posisi di industri properti nasional.

Terkini