Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Sekitar Pertengahan Maret

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15:02 WIB
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Sekitar Pertengahan Maret

JAKARTA - Pergerakan masyarakat saat mudik Lebaran 2026 diperkirakan kembali mencapai angka tinggi. 

Pemerintah sejak awal mulai menyiapkan berbagai strategi untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas agar perjalanan pemudik tetap aman, lancar, dan terdistribusi merata. Salah satu fokus utama adalah memetakan waktu puncak arus mudik agar kebijakan lalu lintas dan transportasi dapat diterapkan secara optimal.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa berdasarkan perhitungan sementara, puncak arus mudik Lebaran 2026 diprediksi terjadi pada 18 Maret. Namun, pemerintah berharap kepadatan pemudik tidak terkonsentrasi pada satu hari saja, seiring diterapkannya kebijakan work from anywhere (WFA).

“Puncak arus mudik kalau hitungannya 18 Maret. Tapi dengan WFA kita harapkan puncak itu bisa kita sebar, kita bisa distribusi ke tanggal-tanggal dari mulai hari Jumat,” ujar Dudy kepada wartawan di Stasiun Gambir.

Strategi Distribusi Pemudik Lewat Kebijakan WFA

Kebijakan WFA menjadi salah satu instrumen penting dalam pengelolaan arus mudik tahun ini. Dengan fleksibilitas bekerja dari mana saja, masyarakat diharapkan tidak lagi terpaku untuk pulang kampung pada satu waktu tertentu. Pemerintah menilai skema ini dapat membantu mengurangi kepadatan ekstrem di jalan tol, stasiun, bandara, dan pelabuhan.

Menurut Dudy, pendekatan pengelolaan mudik tahun ini secara umum tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Pemerintah tetap mengacu pada pola penanganan mudik tahun lalu yang dinilai cukup berhasil, sembari melakukan sejumlah penyesuaian agar lebih optimal.

“Kalau treatment kurang lebih sama seperti tahun kemarin. Jadi karena kita merujuk dari tahun kemarin yang alhamdulillah berjalan lancar dan kita harapkan menjadi lebih baik,” kata dia.

Selain kebijakan WFA, pemerintah juga memberikan stimulus tambahan untuk sektor transportasi udara. Diskon tiket pesawat ditingkatkan dari sekitar 14 persen pada tahun lalu menjadi hingga 18 persen pada tahun ini, guna mendorong pemerataan jadwal perjalanan pemudik.

Perbaikan Infrastruktur dan Antisipasi Jalur Padat

Persiapan mudik tidak hanya difokuskan pada manajemen waktu perjalanan, tetapi juga kesiapan infrastruktur. Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memastikan perbaikan jalan di jalur-jalur utama mudik dapat diselesaikan tepat waktu.

Dudy menegaskan bahwa perbaikan jalan, khususnya yang dilalui pemudik sepeda motor, ditargetkan rampung paling lambat H-10 Lebaran. Jalur Pantura menjadi salah satu perhatian utama mengingat tingginya volume kendaraan yang melintas setiap musim mudik.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas untuk mengurai kepadatan. Langkah-langkah seperti contraflow, sistem satu arah (one way), serta penerapan ganjil genap akan diberlakukan secara situasional di sejumlah ruas tol yang berpotensi mengalami lonjakan kendaraan.

144 Juta Orang Diperkirakan Mudik Lebaran 2026

Berdasarkan hasil survei nasional, Kementerian Perhubungan memprediksi sekitar 143,7 juta orang atau hampir 144 juta orang akan melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2026. Angka ini menunjukkan potensi peningkatan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

“Kami melakukan survei, ada 143,7 juta orang atau hampir 144 juta orang yang akan melakukan perjalanan. Namun kami mengantisipasi kemungkinan kenaikan karena tahun lalu survei 146 juta, realisasinya mencapai 154 juta,” kata Dudy usai rapat koordinasi persiapan angkutan Lebaran di Surabaya, Jawa Timur.

Dengan potensi mobilitas sebesar itu, pemerintah menyiapkan posko angkutan Lebaran yang akan beroperasi pada 13–29 Maret 2026. Posko ini berfungsi sebagai pusat koordinasi seluruh moda transportasi, mulai dari darat, laut, udara, hingga perkeretaapian.

Salah satu kebijakan pendukung yang kembali diterapkan adalah pembatasan operasional angkutan barang dengan sumbu tiga ke atas. Pembatasan ini dikecualikan bagi kendaraan pengangkut bahan pokok, bahan bakar minyak, dan kebutuhan penting lainnya sesuai dengan Surat Keputusan Bersama lintas kementerian.

Masjid Disiapkan sebagai Titik Istirahat Pemudik

Selain mengandalkan rest area konvensional, pemerintah juga menyiapkan masjid sebagai titik istirahat alternatif bagi pemudik. Kebijakan ini diambil setelah Menteri Perhubungan melakukan koordinasi dengan Menteri Agama Nazaruddin Umar.

Masjid-masjid yang berada di sepanjang jalur mudik akan difungsikan sebagai tempat singgah sementara, khususnya bagi pengguna kendaraan pribadi dan sepeda motor. Fasilitas dasar seperti area parkir, toilet, air bersih, penerangan, dan ruang istirahat akan disiapkan untuk menunjang kenyamanan pemudik.

“Melalui pemanfaatan masjid-masjid yang berada di jalur mudik, kami berharap masyarakat dapat beristirahat dengan nyaman selama perjalanan. Kami juga akan menyiapkan fasilitas pendukung agar pemudik dapat beristirahat dengan aman,” ujar Dudy dalam keterangannya.

Selain masjid, terminal dan jembatan timbang juga akan difungsikan sebagai titik istirahat tambahan. Sinergi lintas kementerian ini diharapkan mampu menciptakan pengalaman mudik yang lebih aman dan tertib, sekaligus menekan risiko kecelakaan akibat kelelahan di perjalanan.

Mengacu pada seluruh persiapan tersebut, pemerintah optimistis arus mudik Lebaran 2026 dapat dikelola dengan lebih baik. Meski angka pemudik diperkirakan sangat besar, distribusi perjalanan, kesiapan infrastruktur, serta penguatan fasilitas pendukung diharapkan mampu mengurangi kepadatan ekstrem dan menjaga keselamatan masyarakat selama periode mudik Idulfitri.

Terkini