Produsen Sosis Kibif BEEF Perluas Bisnis Susu, Datangkan 250 Sapi Perah Impor Dukung MBG

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:37:11 WIB
Produsen Sosis Kibif BEEF Perluas Bisnis Susu, Datangkan 250 Sapi Perah Impor Dukung MBG

JAKARTA - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus dilakukan berbagai pelaku industri.

Kali ini, langkah konkret datang dari PT Estika Tata Tiara Tbk. (BEEF), produsen sosis merek Kibif, yang mulai memperluas perannya di sektor pangan dengan mendatangkan ratusan sapi perah impor. Langkah tersebut bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan bagian dari dukungan terhadap program strategis pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyasar jutaan penerima di seluruh Indonesia.

Kehadiran 250 ekor sapi perah impor menjadi tonggak penting bagi BEEF dalam membangun rantai pasok susu nasional. Inisiatif ini menandai transformasi perusahaan dari produsen olahan daging menuju pemain terintegrasi di sektor protein hewani, khususnya susu segar, yang menjadi salah satu komponen utama dalam program MBG.

250 Sapi Perah Impor Tiba, Bagian dari Strategi MBG

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan pada Rabu, 18 Februari 2026, BEEF mengonfirmasi telah menerima kedatangan 250 ekor sapi perah impor. Pengadaan ternak tersebut merupakan bagian dari rencana jangka menengah perusahaan untuk mendukung kebutuhan susu dalam program Makan Bergizi Gratis.

Manajemen BEEF menjelaskan bahwa program MBG memiliki skala yang sangat besar. Pemerintah menargetkan sekitar 20 juta penerima manfaat, sehingga kebutuhan susu nasional diperkirakan mencapai kurang lebih 4 juta ton per tahun. Dalam konteks inilah, langkah importasi sapi perah menjadi krusial untuk mengejar kapasitas produksi.

“Pemerintah menargetkan mengimpor 400.000 sapi pada 2025, setengahnya merupakan sapi perah, sebagai bagian dari dua juta sapi dalam lima tahun ke depan,” ujar manajemen.

Seluruh sapi perah tersebut tiba di Indonesia pada 2 Februari 2026 melalui Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah. Setelah itu, ternak menjalani masa karantina selama kurang lebih dua pekan sesuai prosedur kesehatan hewan yang berlaku.

Perawatan dan Pengelolaan Mengacu Standar Nasional

Usai masa karantina, sapi perah impor tersebut ditempatkan di kawasan Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU) Manggala, Baturaden, Kabupaten Banyumas. Lokasi ini dipilih karena memiliki fasilitas dan pengalaman panjang dalam pengelolaan ternak unggul nasional.

Dalam pelaksanaannya, BEEF menggandeng BBPTU Baturaden untuk memastikan penerapan standar manajemen peternakan terbaik. Kerja sama tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari teknis pemeliharaan, pengawasan kesehatan ternak, hingga pengembangan sistem produksi yang berkelanjutan.

BEEF menegaskan bahwa langkah ini bertujuan menjaga kualitas sapi perah agar produktivitas susu dapat optimal. Dengan manajemen yang tepat, perusahaan berharap sapi perah impor tersebut mampu menjadi fondasi kuat bagi pengembangan usaha susu segar dalam jangka panjang.

Sinergi Strategis dengan Mitra Importasi dan Pakan

Proses pengadaan sapi perah impor tidak dilakukan sendiri. BEEF menjalin kerja sama strategis dengan PT Lunar Chemplast sebagai mitra dalam pengadaan dan importasi ternak. Kolaborasi ini disebut menjadi elemen penting untuk memastikan sapi perah yang didatangkan memenuhi standar kesehatan dan produktivitas.

“Sinergi ini menjadi langkah penting dalam memastikan kualitas ternak yang didatangkan memenuhi standar kesehatan, produktivitas, serta keberlanjutan operasional perseroan.”

Selain pengadaan ternak, BEEF juga memperkuat rantai pasok pakan. Perseroan melakukan penanaman tanaman pakan ternak di lahan seluas 178.214 meter persegi yang berlokasi di Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Area tersebut berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, dengan kondisi agroklimat yang mendukung pertumbuhan hijauan berkualitas tinggi.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga nutrisi sapi perah serta memastikan kontinuitas produksi susu segar. Dengan ketersediaan pakan mandiri, BEEF berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan eksternal.

Komitmen Jangka Panjang pada Ketahanan Pangan Nasional

Manajemen BEEF menyatakan optimisme bahwa pengembangan usaha sapi perah akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kapasitas produksi susu nasional. Langkah ini juga memperkuat ketahanan rantai pasok protein hewani di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.

“Melalui langkah ini, [kami] perseroan optimis dapat mengembangkan dan meningkatkan kapasitas produksi susu segar secara signifikan, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta berkontribusi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional.”

Komitmen tersebut sejalan dengan transformasi bisnis BEEF yang dalam beberapa tahun terakhir mulai merambah berbagai lini usaha pendukung program MBG. Pada akhir tahun lalu, perseroan membuka tiga kegiatan usaha baru, yakni segmen susu sapi, aktivitas cold storage, serta usaha penggemukan kerbau.

Ekspansi Usaha Baru dan Proyeksi Kontribusi Pendapatan

Dalam keterbukaan informasi sebelumnya, BEEF mengungkapkan bahwa perseroan mendapat mandat dari pemerintah untuk berpartisipasi dalam pemenuhan gizi melalui susu dalam program MBG.

“Penambahan kegiatan usaha baru terhadap kelangsungan usaha perseroan adalah dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis [MBG] di mana perseroan diminta untuk berpartisipasi dalam pemenuhan gizi melalui susu. Saat ini, usaha susu tidak perseroan miliki, sehingga pemerintah meminta perseroan berpartisipasi untuk usaha sapi perah beserta usaha turunannya,” tulis manajemen.

Tiga lini usaha baru tersebut diperkirakan akan menyumbang penjualan sebesar Rp83,33 miliar pada 2026 dan meningkat tajam menjadi Rp180,76 miliar pada 2027. Selain itu, BEEF juga melihat peluang besar pada usaha penggemukan kerbau, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap alternatif daging dengan harga lebih terjangkau.

Sementara itu, pembangunan fasilitas cold storage di Subang telah mencapai 100 persen dan siap disewakan secara komersial. Total investasi untuk pengembangan tiga kegiatan usaha baru ini mencapai Rp319,37 miliar, dengan pendanaan berasal dari utang bank dan modal sendiri.

Langkah ini menegaskan posisi BEEF sebagai salah satu pelaku industri pangan yang aktif mendukung agenda ketahanan pangan nasional melalui pendekatan bisnis yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Terkini