ITDC Dorong Wisata Budaya Melalui Mandalika Art Performance di KEK Mandalika

Senin, 02 Februari 2026 | 08:43:01 WIB
ITDC Dorong Wisata Budaya Melalui Mandalika Art Performance di KEK Mandalika

JAKARTA - Upaya memperkaya pengalaman wisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika terus dilakukan dengan pendekatan yang lebih beragam. 

Tidak hanya mengandalkan panorama alam dan ajang olahraga berskala internasional, pengelola kawasan kini mulai menonjolkan kekuatan seni dan budaya lokal sebagai daya tarik utama. Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Mandalika Art Performance yang digelar oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC).

Atraksi seni ini menjadi bagian dari strategi ITDC untuk mengoptimalkan aktivitas wisata berbasis budaya sekaligus menghidupkan kawasan The Mandalika di luar agenda event besar. Melalui pertunjukan seni khas Lombok, wisatawan diajak merasakan pengalaman yang lebih dekat dengan identitas dan kehidupan budaya masyarakat Sasak.

Atraksi Seni Hadirkan Pengalaman Wisata yang Berbeda

PGS General Manager The Mandalika, Agus Setiawan, mengatakan Mandalika Art Performance dirancang untuk memberikan warna baru dalam aktivitas pariwisata di kawasan tersebut.

“Kegiatan ini menyuguhkan sebuah pengalaman baru kepada wisatawan dan masyarakat,” kata Agus Setiawan di Lombok Tengah, Minggu.

Mandalika Art Performance menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional khas Lombok yang sarat makna budaya. Beberapa di antaranya adalah Tari Gandrung, Tari Beriuk Tinjal, Gending Sasak, Cilokak Ensemble, hingga Tari Gendang dan Peresean yang dikenal luas sebagai ikon budaya masyarakat Sasak.

Ragam pertunjukan tersebut sukses menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke kawasan The Mandalika. Tidak hanya menjadi tontonan, atraksi seni ini juga menjadi sarana edukasi budaya yang memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada pengunjung dari berbagai daerah dan latar belakang.

Uji Coba Aktivasi Kawasan Berbasis Budaya

Menurut Agus, penyelenggaraan Mandalika Art Performance merupakan bagian dari uji coba aktivasi kawasan berbasis budaya yang dilakukan ITDC. Program ini sekaligus menjadi pijakan awal untuk memperkaya konsep pariwisata di The Mandalika.

“Program ini menjadi bentuk uji coba aktivasi kawasan berbasis budaya, dan sekaligus sebagai pijakan awal dalam memperkaya pengalaman berwisata di The Mandalika, yang tak cuma menyajikan pesona keindahan alam dan event olahraga saja, tetapi juga melalui kekayaan seni budaya masyarakat Sasak,” katanya.

Langkah ini menunjukkan komitmen ITDC dalam mengembangkan kawasan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan menghadirkan seni dan budaya lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata, ITDC berupaya membangun identitas kawasan yang lebih kuat dan berkarakter.

Agus menegaskan bahwa Mandalika Art Performance merupakan langkah awal yang akan dievaluasi dan dikembangkan lebih lanjut ke depannya.

“Kami ingin melihat bagaimana aktivasi berbasis seni dan budaya ini dapat menarik wisatawan, menghidupkan area Bazaar Mandalika, sekaligus memberi ruang bagi pelaku seni lokal untuk tampil,” ujarnya.

Pelibatan Komunitas Lokal dan Generasi Muda

Pertunjukan Mandalika Art Performance melibatkan berbagai komunitas dan pelaku budaya dari Desa Kuta. Sejumlah sanggar seni lokal, Karang Taruna, hingga anak-anak binaan Mandalika Child Learning Center (MCLC) turut ambil bagian dalam acara ini.

Anak-anak binaan ITDC tersebut difasilitasi untuk mengikuti pelatihan tari bersama sanggar seni lokal sebelum tampil di hadapan publik. Keterlibatan mereka tidak hanya menambah daya tarik pertunjukan, tetapi juga mencerminkan upaya berkelanjutan dalam menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Sasak.

Kehadiran anak-anak dan pelaku seni lokal menghadirkan nuansa yang lebih autentik. Wisatawan tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga merasakan interaksi langsung dengan masyarakat yang menjadi pemilik budaya tersebut.

Melalui kolaborasi ini, ITDC berharap seni dan budaya tidak sekadar menjadi komoditas wisata, melainkan tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat lokal.

Dampak bagi UMKM dan Aktivitas Kawasan

Selain memberikan hiburan bagi wisatawan, Mandalika Art Performance juga diharapkan membawa dampak positif bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di area Bazaar Mandalika. Aktivasi berbasis budaya ini dinilai mampu meningkatkan kunjungan ke area komersial, terutama pada periode di luar penyelenggaraan event besar.

“Kami ingin melihat bagaimana seni dan budaya dapat menjadi pemantik interaksi di kawasan. Hari ini adalah kesempatan bagi kami untuk belajar, mengevaluasi, dan melihat potensi ke depan,” tambah Agus.

Dengan meningkatnya aktivitas dan kunjungan wisatawan, pelaku UMKM diharapkan dapat memperoleh manfaat ekonomi secara langsung. Hal ini sejalan dengan tujuan pengembangan KEK Mandalika sebagai kawasan pariwisata yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Budaya sebagai Identitas dan Daya Tarik Mandalika

Dalam perspektif ESG ITDC, Mandalika Art Performance mencerminkan praktik Cultural Guardianship. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai penjaga sekaligus penggerak nilai-nilai budaya dalam pengembangan kawasan pariwisata.

Agus menilai ruang kolaborasi yang tercipta melalui Mandalika Art Performance tidak hanya dihadirkan sebagai atraksi wisata semata, tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang hidup, tumbuh, dan diwariskan oleh generasi setempat.

Ia menambahkan bahwa antusiasme wisatawan yang memadati area The Mandalika saat gelaran berlangsung menunjukkan kuatnya karakter budaya Lombok sebagai daya tarik kawasan.

“Kami berharap penyelenggaraan ini dapat menjadi momentum bagi The Mandalika untuk menampilkan identitas kawasan yang lebih beragam serta memperkuat peran budaya sebagai bagian penting dari pengalaman wisata yang kami tawarkan kepada publik,” katanya.

Melalui penguatan wisata berbasis budaya, ITDC optimistis KEK Mandalika dapat berkembang sebagai destinasi yang tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan event internasional, tetapi juga karena kekayaan seni dan budaya yang menjadi jantung kehidupan masyarakat lokal.

Terkini